Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kelilipan


__ADS_3

Nathan menatap wajah Raisya dengan ragu. Apakah dia akan menolak ciuman ringan di pipinya atau dia akan membalas seperti yang dilakukannya tadi malam.


Begitupun Raisya. Segudang kekesalan dan kemarahan pada laki-laki yang jadi-jadian menjadi pasangannya, kini sedang menatap dengan bibir mengerucut.


Si pencuri. Beraninya hanya ketika tidur. Lagian kalau tidak tidur aku pun tak sudii dicium sama psikopat kaya dia. Meski wajah tampan tapi itu hati kaya uka-uka. Amit-Amit cabang bayi.


Raisya bermonolog.


Tanpa sadar Raisya malah mengunyam-ngunyam bibirnya seakan dia ingin menghapus sentuhan dibibirnya mengingat kejadian semalam. Pencurian bibir yang dilakukan Nathan sungguh membuat Raisya harga dirinya jatuh.


Nathan yang melihat Raisya sedang tidak fokus langsung mendaratkan bibirnya di pipi Raisya. Gerakannya yang cepat tak diduga Raisya. Gerakan itu dibalas dengan tatapan Raisya yang menyorot nyalang pada Nathan. Merasa kali ini juga dia telah mencuri start.


"Benar-benar licik!" Raisya menggerutu.


Nathan mengedipkan matanya pada Raisya sebagai isyarat untuk melanjutkan ciuman itu pada Michel.


Kenapa harus ada sekolah yang punya aturan kaya gini sih?


Protes Raisya dalam hati. Dia membalikkan wajahnya lalu mencium Michel lembut di pipi gembul nya.


"He.. he.. lagi.. lagi.. " Anak itu malah tertawa geli dan meminta tambahan.


"Orang tua Michel rupanya malu-malu. Mencium pipinya bukan hanya sebelah, tapi kiri kanan." Ucap Nita mengarahkan Nathan dan Raisya.


"Apa???" Raisya dan Nathan kompak terkejut. Satu ciuman saja membutuhkan energi untuk melakukannya. Ini malah harus keduanya. Pastinya membuat dua orang itu memutar otak. Kalau disuruh mengerjakan matematika mending keduanya memilih itu daripada harus melakukan yang diperintahkan Nita. Keduanya sedang berpikir sama.


Lain cerita jika keduanya adalah pasangan sesungguhnya hal itu mungkin bukan hal yang sulit. Tapi lain lagi ceritanya dengan Nathan dan Raisya. Semuanya terasa sulit dan tak rela.


"Ayo diulang lagi!" Nita malah menyuruh mengulang.


"Maaf Bu Nita. Saya agak canggung untuk melakukan di depan umum. Tadi saya.. " Suara Raisya terpotong. Tangan Nathan yang kuat malah menariknya mendekatkan pada tubuhnya. Lalu kedua tangannya yang lebar menahan kepala Raisya, dia mendaratkan bibirnya di kening dan di kedua pipinya terakhir dia mencium bibir Raisya ala patukan ayam. Raisya tak bisa berkutik. Dia hanya melongo. Tenaga Nathan cukup kuat untuk dilawan dibandingkan dengan tenaga Raisya yang tak seberapa.


"Lakukan yang benar! atau kau akan menyesal!" Nathan berbisik sambil menatap wajah Raisya yang masih melongo. Tangannya segera melonggar dari Raisya.


"Ayo.. bunda cium aku kaya tadi daddy lakukan!" Michel malah terlihat menuntut.

__ADS_1


Perlahan Raisya mendekati Michel. Dia merasa tak ikhlas harus dilecehkan seperti barusan. Matanya yang bening dan bulat terlihat berair. Hatinya yang tak menerima perlakuan Nathan berimbas pada Raisya yang menekuk wajahnya sambil berkaca-kaca.


"Bunda kok kaya sedih?" Michel melihat mata Raisya berair.


"Tidak.. tadi bunda kelilipan. Muah.. muah.. muah. Michel baik-baik ya di sekolah! Jangan bertengkar dengan teman! menurut sama bu guru ya!" Raisya mesngusap pipi gembul nya.


Michel lalu memeluk Raisya. "Terimakasih sudah mau jadi bunda Michel!" Anak kecil itu dengan tulus mengucapkan kata-kata yang membuat hati Raisya tersentuh.


Raisya melonggarkan pelukan.


"Bunda pergi dulu ya!" Raisya segera berpamitan.


"Ayo Michel, kita masuk!" Panggil Nita.


"Dadah bunda.. dadah daddy.. " Michel melambaikan tangannya pada Raisya dan juga Nathan.


Raisya melambaikan tangannya membalas Michel. Setelah Michel masuk. Nathan dan Raisya kembali ke mobil.


"Duduk di depan!" Perintah Nathan.


Keduanya masuk. Raisya duduk di samping Reza sedangkan Nathan yang merasa dia bos, duduk di belakang.


Mobil yang dikemudikan Reza melaju ke arah perusahaan dimana mereka biasa bekerja.


Raisya hanya melihat ke samping ke arah jendela. Dia menggigit jarinya. Tanpa bisa ditahan bola-bola kristal memenuhi kelopak matanya dan berderai jatuh meleleh di pipinya.


Raisya buru-buru menyeka. Reza yang sedang menyetir melirik ke arah Raisya. Dia memastikan apa. yang dipikirkannya sama dengan apa yang dilihatnya.


"Reza! Fokus ke depan!" Suara dari belakang membentak Reza.


"Baik pak!" Reza tak berani membantah.


Reza kembali menatap ke depan sesuai perintah orang yang di belakangnya yang arogan dan tak peka pada perasaan orang.


"Berhenti!" Nathan tiba-tiba menyuruh Reza menghentikan mobil yang sedang dikendarai.

__ADS_1


Reza mengatur posisi lalu berhenti di pinggir trotoar.


"Turun kamu! Pagi-pagi sudah merusak suasana!" Bentak Nathan menyuruh Raisya untuk turun. Padahal jarak ke kantor masih lumayan jauh. Tapi Nathan memberhentikan mobil dan menyuruh Raisya turun dari mobilnya.


Semua hening. Raisya masih terdiam.


"Kamu budeg apa tolol sih! Sekali lagi aku suruh kamu keluar dari mobil ini Raisya!" Kemarahan Nathan keluar.


Raisya keluar dari mobil. Hatinya begitu sakit melihat sikap Nathan yang semena-mena padanya.Dari kemarin Raisya berusaha sabar dan tidak mau membalas sikap buruknya. Tapi laki-laki itu sangat arogan bahkan tak segan-segan main tangan. Padahal dia membutuhkan bantuannya untuk membantu Michel.


Raisya berjongkok di pinggir jalan. Lalu kedua telapak tangannya menutup wajahnya. Dia terisak seketika itu juga air matanya tertumpah begitu saja tanpa bisa dibendung. Rasa sesak di dada dan sakit di hatinya bercampur menjadi satu. Dia tak peduli orang-orang yang melewatinya menatap aneh pada sikapnya.


"Jalan!" Nathan memerintahkan Reza untuk melanjutkan perjalanan.


Reza yang melihat dari awal sikap Nathan yang dalam pandangannya tidak wajar pada Raisya, ikut marah. Dia menginjak rem lalu gas sekaligus membuat hentakan keras dan membuat Nathan terpental ke depan.


"Reza! Yang bener kamu!" Nathan membentak Reza karena menjalankan mobilnya dengan kasar.


"Maaf pak!" Ucap Reza sambil ketus.


"Kamu bosan kerja apa?" Nathan melayangkan protes pada Reza. Reza hanya diam tak mau melawan atau membantah Nathan.


Hhhh.. sombongnya. Sudah butuh malah membuat orang lain sakit hati. Menyebalkan!


Sesal Reza sambil mengemudi. Dia tak tega menurunkan Raisya tadi ditambah perlakuan Nathan yang di luar batas ringan tangan dan bicara kasar.


Setelah Raisya puas menumpahkan kekesalannya dia berdiri dan memesan ojeg online. Hari ini dia memutuskan untuk tidak masuk kerja malah pergi ke kantor arsitektur Beny.


"Assalamu'alaikum.


" Waalaikumsalam. Eh neng Raisya.. kok nongol? Katanya mau kerja di sore hari." Rio yang masih menyeruput kopi panas dan roti nya agak heran melihat kedatangan Raisya.


"Bang aku mau kerja sekarang mumpung mood." Jawab Raisya pendek.


"Lah.. itu matanya kenapa neng?" Rio mentap aneh pada wajah Raisya.

__ADS_1


"Kelilipan bang."


__ADS_2