Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Menemukan Rasa


__ADS_3

Ditengah kantuk yang mendera seorang perawat mendekati Raisya. "Bu Raisya... " Perlahan perawat itu menepuk bahunya.


"Mmm.. iya." Raisya yang tertidur di pinggiran kasur sambil duduk, menegakkan badannya yang agak kaku dengan perlahan. Matanya masih menyipit melihat perawat yang telah membangunkan Raisya.


"Mohon maaf Bu.. pasien yang bernama pak Nathan ingin bertemu." Ucap perawat barusan.


"Oh.. " Raisya mengucek matanya agar tidak terlalu lengket. Dia melihat Arsel yang sedang tertidur pulas di atas ranjang, memastikan dia aman untuk ditinggalkan.


"Tunggu sebentar saya mau cuci muka dulu!" Raisya membasuh mukanya agar tidak terlihat muka bantal.


Keduanya berjalan saling berdampingan menuju kamar perawatan Nathan.


"Silahkan bu. Sudah ditunggu!" Perawat tadi hanya mengantar sampai pintu.


Raisya masuk ke dalam ruangan itu dengan hati was-was. Debaran jantungnya kini seperti berlomba-lomba memompa darah yang tadi sempat melambat.


Netra Raisya melihat laki-laki lemah yang sedang terbaring di atas kasur sambil menatapnya penuh rasa damba.


"Sya... " Suaranya begitu parau. Harapannya yang sempat terputus, kini seperti tersambung kembali melihat sosok yang selalu dirindukannya ada di sampingnya.


Raisya tersenyum getir. Rasa benci yang menggunung sekarang sedikit berganti menjadi perasaan bersalah.


Raisya duduk di samping ranjang tidak berani menatap langsung Nathan.


"Sya.. " Nathan meraih tangan Raisya walau masih lemah. Rasa dalam hatinya yang sangat rindu ingin sekali menggenggam tangan Raisya dengan kuat. Tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melakukannya.


Raisya tidak menolak sedikitpun bahkan membiarkan tangan Nathan menyentuhnya. Ada debaran aneh yang dirasakannya begitu tangan mereka bersentuhan.

__ADS_1


Perlahan Raisya mengangkat wajahnya melihat Nathan yang sedari tadi melihatnya lekat. Netranya tak ingin lepas memandangi Raisya dengan penuh perasaan.


"Sya.. anak kita bagaimana?" Nathan membawa tangan Raisya perlahan lalu mendekatkan tangan itu pada bibirnya. Menciumnya dengan penuh rasa, sementara netranya begitu lekat menatap. Raisya.


"Eh.. " Raisya terkejut begitu tangannya dicium. Dia belum sempat menjawab pertanyaannya keburu pikirannya blank seketika. Kedua netra saling beradu memindai perasaan dan pikirannya masing-masing. Nathan sedang mengirim sinyal kuat yang tak bisa ditolak Raisya. Ya pandangannya itu dulu pernah dia rasakan sebagai pandangan yang membuat hatinya melemah. Tapi pandangan itu pula yang membunuhnya sampai tak berdaya.


"Sya.. ma kasih." Nathan belum bisa berbicara banyak. Dadanya terasa nyeri jika dia banyak bicara. Nafasnya masih terlihat lemah. Setiap tarikan nafas yang dilakukannya membuat rasa sakit di dadanya akibat aksi nekadnya.


"Mmm.. " Raisya hanya berdehem saja. Tak tahu harus berkata apa sekarang. Apakah harus meminta maaf atau diam saja.


"Arsel Sya?" Nathan yang belum mendengar jawabannya masih penasaran dengan anak laki-lakinya.


"Arsel sudah baikan. Ada Michel dan Ratna di ruangan." Terang Raisya agar Nathan tidak terlalu khawatir.


"Maafkan aku Sya!" Rasa sakit itu kembali datang di dada Nathan. Selain karena dia bicara dadanya menjadi sakit, tapi sakit hatinya pun masih bertengger dengan kuat membuat Nathan begitu rapuh sekarang. Bulir-bulir bening jatuh dari ujung kelopak matanya yang sayu.


Nathan memejamkan matanya yang semakin panas menahan keluarnya air mata. Dia kembali mencium tangan Raisya mengambil kekuatan untuk raga yang lemah dan jiwanya yang rapuh. Lama bibir itu menyesap seolah sedang mengambil energi dari perempuan yang selama ini sering ditangisi nya dalam sesal yang tidak berkesudahan.


"Mas Nathan.. istirahat! Jangan banyak pikiran!" Lirih Raisya yang tak lagi membenci pria itu. Tak adil jika dia harus berlaku kasar pada yang lemah, mengingat dia juga ikut andil dalam aksi nekadnya Nathan.


"Aku kangen kamu Sya.. " Nathan tak tahan untuk mengucapkannya. Dia tak mau kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya. Meski dia merasakan sakit dia tak sabar untuk lebih dekat dengan Raisya.


Raisya hanya mengangguk sambil tersenyum.


Senyuman terindah yang Nathan lihat setelah hampir delapan tahun tak dilihatnya. Senyuman yang membuat hatinya dinyatakan jatuh cinta, senyuman yang selalu dirindukannya dalam jangka waktu lama. Akhirnya dia hadir dengan tulus mengobati segala gundah dalam hatinya.


"Sya.. kita rujuk ya?" Nathan tak ingin menunda kesempatan berharga untuk bisa rujuk. Dia tahu kelemahan Raisya yang mudah tersentuh jika melihat orang lain lemah. Nathan takut mendapatkan penolakan jika dia harus menundanya sampai nanti sembuh. Aji mumpung ceritanya.

__ADS_1


Dada Raisya terasa dad dig dug mendengar Nathan mengajaknya rujuk. Dia terdiam tangannya mendadak dingin.


"Sya.. kamu ragu?" Sorot mata Nathan menangkap sinyal keraguan dalam wajah Raisya.


"Mmm.. " Raisya hanya mengatupkan bibirnya dan menahan suara di dalamnya.


"Sya.. aku mencintai kamu." Uhuk. uhuk.. Dada Nathan tiba-tiba terasa sesak. Dia tak boleh dulu banyak bicara karena organ padunya sedikit terluka akibat tusukan.


"Mas... " Raisya panik melihat Nathan terbatuk dan sesak. Wajah Nathan memerah karena rasa sesak. Raisya hanya bisa mengelus lembut keningnya bingung mau memberikan pertolongan.


Jarak wajah mereka begitu dekat, bahkan deru nafas Raisya bisa terasa di pipi Nathan. Dia bisa menangkap, bahwa Raisya sedang mengkhawatirkannya.


Sentuhan itu membawa ketenangan pada jiwa Nathan sehingga batuknya terhenti begitu saja.


"Kamu cantik." Satu kalimat pujian lolos begitu saja dari bibir Nathan membuat mata Raisya membola.


Entah darimana kekuatan itu datang tiba-tiba tangan Nathan langsung menarik tengkuk Raisya mengarahkan pada bibirnya. Lalu dengan secepat kilat bibirnya menyambar bibir Raisya dengan penuh hasrat yang menggebu. Nathan begitu semangat melahap dan menyentuhnya. Raisya yang mendapat serangan dadakan seperti itu tak mampu menolak. Bahkan seolah dia terlena dengan sentuhan Nathan yang lembut jauh seperti dahulu yang cenderung kasar.


Keduanya begitu terlena terbawa suasana. Awalnya cuman ciuman ringan, kini sentuhan itu seperti menuntut lebih dalam.


Pikiran Raisya seperti terbawa ke alam lain yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia membiarkan sentuhan Nathan melenakan dirinya sehingga mereka berdua menikmatinya dengan pasrah.


Insting Nathan langsung bereaksi, lidahnya lihai memainkan peran. Menumpahkan segal rindu lewat gerakan kedua bibirnya. Cukup lama mereka menarikan lidah saling membelit dan menggigit menikmati hasrat-hasrat yang lama terkubur.


Nathan melepaskan perlahan pagutannya untuk memberikan kesempatan pada Raisya mengambil nafas. Netranya begitu inten menilik wajah Raisya yang sudah merah merasakan sesuatu yang panas. Tengkuk Raisya masih ditahan kuat oleh Nathan.


"I love honey... " Nathan kembali melabuhkan bibirnya. Raisya terhenyak melihat kekuatan Nathan yang lebih kuat dari semula. Mereka seperti menemukan kunci rasa cinta yang hilang.

__ADS_1


__ADS_2