Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Ancaman


__ADS_3

"Aku tidak tahu niat kamu mau menikah denganku dan menyetujui pernikahan kita. Entah karena permintaan ayahku atau ada kepentingan kamu sendiri. Yang jelas, kamu tidak bisa menerima aku begitu saja kalau tidak ada alasannya. Padahal kamu bisa saja menolak. Dan memilih laki-laki lain." Nathan yang memang menikahi Raisya atas dasar permintaan tuan Robert juga melihat Michel memang menyukai Raisya.


Raisya terdiam. Dia pun menikah dengan Nathan hanya mengikuti saran Sarah dan agar dia bisa melindungi dirinya sendiri. Bagaimana jadinya kalau Jacky dan Nathan mengetahui identitas sebenarnya.


Memang betul.. aku menikah dengannya memang tidak tulus karena suka. Tapi tidak lebih ingin melindungi ku sendiri dari pertikaian kalian. Tapi kini.. sepertinya sudah aman. Bukankah Jacky sudah menikah dengan Sherly. Sedangkan niat awal ingin berlindung pun rasanya sekarang tidak mungkin. Karena beberapa kali kamu sudah mencelakai ku juga. Tapi rasanya dia sangat egois juga. Dia hanya membutuhkanku untuk menjaga Michel. Tapi dia tak memikirkan bagaimana dengan perasaan ku. Lalu apa. untungnya sekarang buatku? Malah aku sendiri banyak dirugikan. Tadinya aku ingin memperjuangkan pernikahan ini. Aku ingin berusaha menundukkan nya dan berusaha saling mencintai. Tapi apakan kah itu berhasil? Bagaimana kalau tidak?


"Kenapa sepertinya aku dirugikan jika perjanjian itu dibatalkan?" Raisya melihat Nathan menunggu tanggapannya.


"Lalu kamu maunya apa?"


"Aku ingin mencoba menjadikan pernikahan kita menjadi sungguhan. Aku akan memaafkan semua kesalahan kamu termasuk dosa kamu yang telah mengundang wanita bayaran. Tapi aku tak ingin diperlakukan hanya sebatas ibunya Michel. Aku butuh dicintai dengan sepenuh hati layaknya pasangan." Ucap Raisya.


"Aku tak bisa." Nathan menjawab tegas.


"Maksudnya kamu?" Raisya mengernyitkan dahi.


"Hanya dua wanita yang aku cintai."


"Ibunya Michel dan.. " Nathan tak berani menyebutkan nama Raisya. Karena takut salah paham.


"Kenapa tidak menikah saja dengan keduanya?" Jawab Raisya sambil menahan kesal.


"Tidak biaa."


"Maksud dengan tidak bisa?"


"Dia tak mau menikah denganku."


"Lalu bagaimana dengan aku. Rasanya aku yang paling dirugikan. Aku juga tidak mencintai kamu. Tapi aku ingin berusaha. Tapi kamu hanya menjadikan aku sebagai ibunya Michel. Hah... benar-benar bodoh aku ini." Raisya memalingkan wajahnya.


"Kalau kamu sekiranya tidak menyukaiku kenapa kita tidak bercerai saja sekarang? Karena aku tak mau menghabiskan umurku hanya sebatas ibu sambung Michel."


"Terlambat. Seharusnya jika kamu tidak mau, sejak awal kamu tidak memilih aku."


"Hah.. pusing aku. Lalu kenapa juga kamu tidak membiarkan aku mati saja?"


"Aku ingin berpisah tidak bisa, bersama pun tersiksa" Air mata Raisya mulai berkumpul di kelopak matanya. Raisya merasa bingung dengan semua sikap Nathan.


"Itu pilihanmu bukan pilihanku. Dan aku membawamu hanya sekedar rasa kemanusiaan saja." Nada Nathan sangat dingin.

__ADS_1


"Kemanusiaan? Itu disebut kemanusiaan? Lalu sekarang apakah manusiawi jika kamu memperlakukan aku hanya sebatas kebutuhanmu?"


"Itu karena kamu bodoh!" Bentak Nathan.


"Iya.. aku bodoh. Dan kamu licik!"


"Apa kamu bilang licik? Hah?... Bukannya kamu juga?"


"Ahhh... " Raisya berteriak sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Butiran-butiran bening saling menyusul. seiring rasa sakit hatinya, marah menyelimuti hati Raisya.


"Mbak... ini pesanannya." Seorang pelayan menata meja menyimpan makanan yang telah dipesan.


Raisya membuka telapak tangannya menyeka air matanya membuat pandangan pelayan itu tertuju pada Raisya.


Dari balik kacamata hitam itu sejak tadi Nathan memperhatikan perubahan raut wajah Raisya.


Raisya berdiri dan membalikan badannya. Lalu dia berjalan meninggalkan meja itu entah dia mau kemana.


"Dasar bodoh! Memangnya aku bisa tertipu dengan kepura-puraan mu apa?" Nathan yang tadinya sudah melunak kini hatinya kembali membeku. Setelah obrolan barusan dengan Raisya.


Nathan yang sama-sama lapar langsung menyantap sate juga nasi putih yang masih mengepul. Dia tak memperdulikan kemana Raisya pergi. Dia merasa kesal juga marah atas pembicaraan yang baru saja dibicarakan Raisya.


Nasi dan sate satu porsi telah habis dilahapnya. Dia menyeruput jeruk hangat yang tadi telah dipesannya.


"Kemana perempuan bodoh itu?" Nathan melihat pesanan Raisya masih utuh belum tersentuh. Dia mengira mungkin Raisya pergi ke toilet setelah tadi matanya sembab bekas menangis.


Nathan merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih miliknya. Dia membuka kacamatanya lau melihat dengan jelas layar handphonenya memeriksa beberapa email juga pesan-pesan yang masuk.


Killing


Kling


Notifikasi masuk di layar pesan. Tertera nomor asing ada di layar handphonenya. Nathan penasaran membuka pesan itu.


Deggg


Beberapa foto dirinya yang sedang tak memakai pakaian terpampang di layar handphonenya.


"Sial.. dia merekamnya. Nathan mendengus kesal sambil membanting handphonenya ke atas meja.

__ADS_1


Kring....


Suara panggilan masuk berdering kencang. Nathan menatap benda pipih itu tidak langsung mengangkatnya.


Benda pipih itu terus saja menyala menunggu Nathan mengangkatnya. Perlahan tangannya mengambil handphonenya lalu menggeser warna hijau untuk mengangkat panggilan.


"Halo... " Jawab Nathan pelan.


"Halo... "


"Siapa ini?" Nathan tak mengenali suara yang ada di seberang telepon.


"Bagaimana kamu sudah menerima foto-foto itu?" Suara laki-laki di seberang telepon sedang membicarakan foto-foto Nathan bersama Sherly yang berada di hotel


"Siapa kamu?" Bentak Nathan yang merasa terancam.


"Tak penting siapa aku. Yang penting sekarang.. bagaimana kalau aku mengirimkan foto itu pada istrimu? Ayahmu? Atau... kita sebar saja di semua dinding perusahaannya Alberto?" Suara laki-laki diseberang telepon sedang mengancam Nathan dengan foto-foto mesumnya dengan Sherly.


"Heii... siapa kamu? Kalau berani ayo tampakkan dirimu di depanku! Jangan beraninya mengancam aku dengan foto-foto bodoh itu!" Nathan tak gentar diancam seperti itu.


"Ha ha ha rupanya kamu berani juga ya? Baiklah sekarang juga aku akan kirimkan foto -foto itu pada orang-orang yang mencintaimu. Mulai dari istrimu ya?" Anacam laki-laki itu.


"Persetan dengan ancaman. Aku tidak peduli!"


"Oh ya? Kamu tidak peduli? Baik.. aku akan mengambil istrimu jika kamu memang tidak peduli. Ha ha. ha... "


Tut.. tut.. tut suara telepon diputus.


"Halo.. halo.. halo.. " Nathan melihat layar handphonenya. Rupanya orang yang telah menelponnya sudah menutupnya.


"Mana perempuan pembawa sial itu..?" Dengan wajah merah karena marah, Nathan mengumpat Raisya menyalahkan atas ancaman orang itu. Dia mengedarkan pandangan.


WIww... Wiw...


Suara sirine ambulan memekakkan telinganya. Mobil itu diparkir tak jauh dari pantai setelah mendapatkan panggilan darurat.


Sebuah tandu segera dikeluarkan untuk mengangkut korban.


"Apa yang telah terjadi?"

__ADS_1


__ADS_2