Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Jangan tergoda rumput sintesis


__ADS_3

"Kakak sengaja pindahin Raisya kesini?" Tanya Ratna penasaran.


"Hhm." Jawab Hendrik pendek.


"Kakak tadi ngobrolin apa sih? Sampai asik begitu? Awas lho kak..jadi pebinor!" Ratna agak mengkhawatirkan jika kakaknya terlalu dekat dengan Sarah.


"Gak lah! Gue gak ambil resiko itu selama di dunia ini masih banyak wanita lajang seperti Raisya." Hendrik asik berselancar di dunia maya.


"Syukurlah! Tapi gue gak izinin kakak nikah sama Raisya!" Ratna langsung lemas.


"Lah kenapa?" Hendrik langsung melihat Ratna.


"Gue gak bisa jadi istri kedua kakak!" Ratna balik menatap Hendrik.


"Ratna!" Hendrik langsung menaikkan intonasi suaranya.


"Gue juga aneh kak!" Keluh Ratna.


"Rat.. elu udah cantik. Kakak rela ngasih uang buat perawatan wajah sama tubuh kamu. Masa iya gak ada satupun laki-laki yang mau? Elu udah standar model Rat. Ah ini pasti ada yang salah!" Hendrik langsung menyimpan handphone nya langsung melihat Ratna dengan serius.


"Elu mesti pisah sama Raisya! Jangan terlalu nempel gitu Rat! Kalau bisa elu pindah kerja! Biar elu gaul sama orang." Hendrik mengkhawatirkan Ratna yang mempunyai trauma.


"Atau sekarang juga elu gue antar ke psikolog buat memeriksa kelainan elu!" Hendrki langsung berdiri.


"Ah gak mau!" Tolak Ratna mengerucutkan bibirnya.


"Raisya, gue mau nanya sama elu. Itu, di tempat kerja, Ratna suka gaul gak sih sama cowok?" Hendrik melihat ke arah Raisya yang sedang berbaring.


"Suka. Malah di bagian pemasaran, cuman dia seorang ceweknya. Yang lain cowok semua. Malah sekarang pak Nathan sering membawa dia keluar." Terang Raisya.


"Lalu, masa mereka tidak ada yang suka sama adik gue yang cantik kaya gini?" Heran Hendrik.


"Tau. Malah mereka kaya penggemar Raisya semua kak." Keluh Ratna.


"Aneh beneran gue. Baru tahu elu tidak ada yang nembak Ratna. Apa mau elu dijodohin sama temen-temen gue?" Tawar Hendrik yang kebanyakan teman-temannya laki-laki semua.


"Gak, gak mau. Memang siti nurhaliza?" Tolak Ratna sambil menggidikkan bahu.


"Elu..suka panggil Raisya bebeb?" Hendrik mencoba menebak.

__ADS_1


"Hhmm. Emang kenapa?"


"Mulai sekarang elu berdua panggil nama masing-masing! Jangan ada kata ayang dan bebeb! Mulai sekarang, kalian juga mesti pisah kerja!" Saran Hendrik untuk Ratna dan Raisya.


"Gak mau!" Tolak Ratna.


"Ini masalahnya. Ratna terlalu ketergantungan sama Raisya. Apalagi elu cita-cita jadi pelakor? Busyet!" Hendrik menggelengkan kepala.


"Gue aduin sama mama papa Rat!" Hendrik agak emosi. Matanya tak lepas melihat Ratna dengan rona merah di netra nya.


"Gue juga bingung kak! Jadi jangan bikin tambah bingung!


"Sekarang elu gak usah nginep! Atau gue bawa elu ke terapis biar sembuh! Ini lama-lama dibiarin malah tambah parah. Gue kira sepuluh tahun berteman tidak kaya gini." Ada perasaan menyesal dalam hati Hendrik yang tidak terlalu peka dengan keadaan adiknya.


Sementara itu di kantor, Adam sedang melakukan rapat.


"Sebagai rapat lanjutan yang kemarin. Untuk pemotretan produk baru sudah selesai. Tinggal pemilihan model untuk produk-produk tertentu. Jadi kalian pilih model yang punya daya jual tinggi untuk produk kita ke konsumen publik. Saya harap jangan sampai salah pilih. Coba lihat dan baca profil mereka dengan teliti!"


"Saya harap seminggu dari sekarang sudah ada jawaban. Tinggal acara fashion show dan pemotretan produk untuk peluncuran perdana produk baru kita di musim ini. Saya harap antara biaya pengeluaran dan pemasukan harus sesuai dengan target perusahaan." Jelas Adam mengakhiri rapatnya sebelum pergi ke Singapura.


"Rapat dicukupkan sekian. Saya harap minggu depan susah ada hasilnya.Tiap divisi sudah ada hasil yang bisa saya kaji."


"Baik pak!" Semua kompak menjawab.


"Pak Adam jadi terbang ke Singapura sekarang?" Bu Mia bertanya tentang keberangkatan ke Singapura.


"Jadi. Saya sudah siapkan bekal di mobil. Jadi tinggal berangkat." Jawab Adam.


"Bapak berangkat sendiri?" Tanya bu Mia kembali.


"Sendiri. Kamu mau ikut?" Adam tersenyum tipis.


"Tidak ditemani Haris pak?" Entahlah bu Mia agak mengkhawatirkan keberangkatan Adam kali ini. Soalnya di pertemuan terakhir dengan salah satu klien yang akan membeli produk perusahaan, sikapnya agak mencurigakan.


"Tidak. Lagian dia teman aku kok semasa dulu kuliah di Amrik. Jadi aku tidak membawa asisten. Bisa aku tangani sendiri." Jawab Adam.


"Oh baiklah kalau begitu. Selamat sukses ya pak! Semoga tidak lupa sama yang di rumah!" Sindir bu Mia dengan halus.


"Yang di rumah aman kok! Dia bukan perusuh!" Jawab Adam mendengar sindiran bu Mia.

__ADS_1


"Siip!" Bu Mia mengacungkan dua jempolnya pada pak Adam.


"Bisa bantuin bawa tas ini ke Raisya?" Adam menyuruh bu Mia membawa beberapa paper bag.


"Untuk Raisya?" Bu Mia agak heran.


"Iya. Tengok dia! Bukannya dia bawahan kamu?"


"Iya pak! Nanti sepulang kerja saya mampir ke rumah sakit sama Jacky juga Hesti." Jelas bu Mia.


"Kalau begitu saya pergi dulu ya pak!' Bu Mia keluar dari ruangan Adam sambil menenteng beberapa paper bag.


Adam pun berlalu pergi ke bandara. Sesampainya di bandara Singapura Adam sudah disambut Marry.


Pertemanan meraka selama di Amerika cukup dekat, bahkan bisa dibilang lebih dari dekat. Tidak heran jika keakrabannya melebihi teman biasa.


Kini mereka bertemu kembali karena ada hubungan bisnis kerjasama. Marry yang mempunyai butik terkenal di Singapura sering dikunjungi orang-orang terkenal dari seluruh dunia yang sengaja wisata ke Singapura.


Dia juga mempunyai jaringan bisnis entertainment untuk penyelenggaraan event-event kelas dunia. Tentu tawaran bisnis ini menggiurkan Adam jika berhasil menjalin kerjasama.


"Halo honey. Apa perjalanannya menyenangkan?" Marry masih menggunakan panggilan itu tanpa canggung.


"Biasa aja." Jawab Adam pendek.


"Hotelnya sudah aku siapin han! Nanti malam ada acara konser. Kamu mau aku kenalin sama manager artis mereka?"


"Ya oke!" Adam tidak menolak.


"Oke sekarang kamu istirahat. Nanti malam aku jemput ke hotel!"


"Ya!" Jawab Adam pendek.


Keduanya berlalu menuju hotel yang telah dipesan Marry. Marry mengantar Adam sampai kamar.


"Semoga kamu puas ya!" Marry tersenyum manis melihat Adam yang masih menarik hatinya.


Marry mendekati Adam seakan tidak puas akan pergulatan panas yang dilakukannya di Jakarta. Marry kembali menggoda Adam.


Adam yang sudah lama tak merasakan kebersamaan dengan Sarah seolah menemukan jalan pintas untuk mengesahkan hubungan terlarang dengan Marry.

__ADS_1


Marry yang lihai dalam soal percintaan, dengan mudah menundukkan Adam. Adam terlena dengan godaan kenikmatan sesaat. Imannya tak mampu lagi menahan serangan Marry.


Rumput sintetis tetaplah palsu walau terlihat lebih hijau dari rumput aslinya.


__ADS_2