
"Gak pa-pa kan pa, bu Raisya kan single, siapa tahu masih jomlo." Tedi malah terkekeh melihat Baron kesal padanya. Tedi senang sekali menggoda bosnya itu. Setiap ada kesempatan dia pasti berlaku seperti mak comblang.
"Maaf saya tidak single pak Tedi, saya malah triple." Jawab Raisya apa adanya. Lebih baik jujur daripada menyembunyikan kenyataan.
"Maksudnya?" Tedi melebarkan matanya melihat pada Raisya. Dia yang tidak tahu bahwa Raisya sudah pernah menikah dan mempunyai anak, agak sedikit kaget mendengar kata triple.
"Saya seorang ibu beranak dua. Jadi tidak single." Raisya tak mau orang yang baru kenal dengannya jadi salah paham. Dengan dia jujur, dia akan memberi batasan pada siapapun agar tidak berpikiran macam-macam.
"Wah.. pas sekali. Pak Baron juga triple bu Raisya." Tedi malah memberitahu status bosnya pada Raisya. Raisya mengerutkan dahi tidak mengerti apa maksud dari perkataan Tedi memberitahu status bosnya yang duda dan sudah beranak dua.
Baron jadi tidak enak dengan perkataan Tedi barusan.
"Maaf Bu Raisya. Tedi memang sering bercanda. Dia mulutnya kurang sekolah memang." Baron dengan wajah kemerahan melorot ke arah Tedi. Tedi hanya cengengesan melihat bosnya yang agak malu.
"Untuk urusan pekerjaan kira sudahi aja dulu! Mari kita makan siang!" Ajak Baron sambil melihat jam yang melingkar di tangannya. Jam makan siang memang sebentar lagi akan habis. Sekaligus mengalihkan obrolan yang barusan sempat tidak nyaman.
"Baik." Semuanya mulai mengambil nasi dan lauk pauk untuk mengisi perut mereka makan siang. Semuanya terdiam menikmati makanannya masing-masing.
Raisya sudah lebih dahulu selesai. Porsi makannya yang kecil memungkinkan dia lebih cepat selesai dibandingkan yang lainnya.
"Maaf saya ke toilet dulu pak, sekalian mau shalat!" Raisya izin pergi ke toilet dan melaksanakan shalat dzuhur.
"Oh.. ya.. silahkan!" Baron mempersilahkan Raisya untuk pergi dari ruangan.
Raisya pun keluar dari ruangan dan matanya mencari petunjuk dimana toilet dan mushola berada.
Setelah mendapatkan petunjuk Raisya pun berjalan menuju toilet. Namun begitu sampai di pintu tangannya ada yang menarik ke belakang.
"Jacky.. " Raisya kaget melihat Jacky tiba-tiba ada di depannya.
Jacky melihat penampilan Raisya dari atas sampai bawah. Kini Raisya terlihat lebih menarik dan lebih dewasa.
__ADS_1
"Ikut aku!" Jacky menarik paksa Raisya agar mengikutinya.
"Lepaskan Jacky! Aku mau ke toilet." Raisya setengah melawan, karena tak mau menjadi perhatian orang yanga ada di dalam restoran.
"Oke! Aku tunggu disini! Setelah itu ikut pulang sama aku!" Jacky masih menggenggam tangan Raisya.
"Ngapain sih kamu ngatur-ngatur aku segala?" Raisya kesal dengan sikap Jacky yang pemaksa.
"Pokoknya ikut! Jangan sampai aku harus memaksa Ra!" Jacky tak mau dirinya dibantah.
"Jacky... aku lagi kerja, habis dari toilet aku mau shalat dulu lalu mau balik lagi ke kantor. Kamu jangan malu-malu in aku kaya gini dong?" Raisya menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Jacky.
"Kerja katamu? Mmm... bukan sedang kencan? Aku tak akan membiarkan laki-laki manapun mendekati kamu Ra! Kalau bisa aku akan bilang sama bos mu, kamu sekarang juga keluar dari perusahaannya." Semenjak mendengarkan perbincangan di dalam ruangan itu Jacky sudah tidak tahan. Rasa cemburunya begitu besar ketika mendengar Raisya digoda laki-laki lain.
"Terserah aku deh Jack! Aku mau kencan ataupun pacaran. Hidup.. hidup gue.. kenapa kamu mesti ikut campur mengurusi hidup gue sih?" Raisya tak terima sikap Jacky yang sudah overprotektif.
"Cepet selesaikan urusan kamu di toilet! Atau kamu ingin pergi sekarang juga?" Jacky lupa bahwa dia sudah berjanji pada dirinya akan memperlakukan Raisya baik. Tapi begitu cemburu, dia lupa kalau sikapnya akan membuat Raisya akan semakin membencinya.
Tak lama kemudian, Raisya keluar dari bilik toilet lalu mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat.
Jacky menunggu di pintu luar toilet dengan perasaan tak menentu.
"Hei.. kamu mau kemana?" Mata Jacky melihat Raisya melintas begitu saja di depannya.
"Aku mau shalat. Memangnya mau kemana?" Nada ketus Raisya sangat kentara melihat Jacky masih berdiri mematung di depan toilet.
Entah merasa malu, Jacky pun mengikuti langkah Raisya ke mushola dan mengambil air wudhu terlebih dahulu.
Masing-masing melangkah ke arah shaff yang berbeda. Yaitu shaff laki-laki dan shaff perempuan. Keduanya melaksanakan shalat dengan khusyuk.
Setelah selesai salam. Jacky menoleh ke belakang. Dia melihat Raisya masih duduk sambil berdzikir tanpa terganggu dengan keberadaan Jacky.
__ADS_1
Setelah melipat mukena, Raisya merapihkan kembali kerudungnya tak lupa memoles kembali dengan bedak juga lipstik yang luntur terbawa air wudhu. Wajahnya kini terlihat segar.
Setelah selesai Raisya pun keluar dari mushola yang sudah ditunggu Jacky.
"Sekarang kamu ikut denganku!" Ajak Jacky pada Raisya.
"Ngapain sih kamu kaya gak ada kerjaan saja maksa-maksa aku ngikutin kamu?" Raisya agak mendengus kesal.
"Ikut gak?"
"Gak." Tegas Raisya.
"Masa aku harus memaksa kamu Ra?" Jacky tak mau orang lain melihat sikapnya yang kasar.
"Lagian ngapain aku harus ngikutin kamu sih? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi Jack." Tegas Raisya.
"Pokoknya kamu sekarang juga keluar dari perusahaan itu! Kalau kamu mau bekerja perusahaan papih masih luas, kamu mau bekerja di bagian mana hah? Aku bisa memasukkan kamu jika ingin bekerja lagi." Ungkap Jacky sambil mendekatkan wajahnya pada Raisya.
"He.. apa hak kamu mengatur dimana aku harus bekerja Jack? Ada ikatan apa aku sama kamu? Aku bebas menentukan aku harus bekerja dimana? Nasib aku tak bisa kamu atur-atur lagi." Ada rasa sesak dalam dada Raisya mengingat perlakuan Jacky waktu itu. Ya sakit itu sebenarnya masih ada, meski pikiran Raisya ingin melupakan itu, tapi hati kecilnya masih merasakan getirnya perlakuan Jacky saat Raisya terpuruk waktu itu.
"Aku tak mau kamu jatuh pada laki-laki yang salah?" Ungkap Jacky mencari-cari alasan. Padahal nuraninya yang paling dalam dia tidak mau Raisya dimiliki dan menjadi milik laki-laki lain.
"Laki-laki yang salah? Lalu kamu sendiri laki-laki seperti apa?" Raisya meluapkan emosinya yang sedari tadi sudah ditahannya.
Grep..
Satu tangan kekar tiba-tiba menarik Raisya.
"Bu Raisya.. jam istirahat kita sudah lewat. Kita harus kembali ke kantor." Ternyata dari tadi Baron dengan setia mendengarkan perselisihan antara Jacky dan Raisya. Dia memberanikan diri untuk mengambil Raisya agar tidak terus berselisih di tempat umum.
"Hei.. kamu siapa?" Jacky dengan mata merah menatap tajam pada Baron.
__ADS_1