Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Menemukan alasan


__ADS_3

Keduanya terdiam menyadari kesalahannya yang membuat kegaduhan ditengah ruang UGD.


"Tante.. " Suara tangisan Michel memanggil Raisya. Dia terlihat ketakutan.


"Lihat! Anak itu ketakutan." Dokter yang tadi memprotes Nathan dan Jacky mengingatkan bahwa Michel terbangun karena teriakan Nathan dan menjadi ketakutan melihat perbuatan Natha dan Jacky. Keduanya menunduk malu.


Raisya yang sudah ditampar bukan hanya pipinya sakit, tapi jauh di lubuk sana hatinya seperti yang ditampar.


Entahlah Raisya mengabaikan kesakitannya begitu mendengar Michel memanggilnya.


"Cup.. cup sayang..." Raisa menepuk bahu Micel dan memeluknya. Ada rasa batin yang kini terasa begitu dekat Raisya rasakan sejak pertama kali melihat Michel menangis waktu tadi pagi. Walau rasa kesal, marah dan sekarang perih dicampur sakit hatinya, seolah tertarik untuk iba mengasihi anak kecil yang ada di depannya dengan tatapan sayang.


"Ra.. sebaiknya lepaskan anak itu! Lu sekarang balik sama gue!" Jacky menarik tangan Raisya dengan penuh kekesalan. Jacky merasa dia harus memisahkan Raisya agar terpisah dari Michel


Raisya melepaskan pelukannya dari Micel dan mengambil tasnya mengikuti Jacky ke luar ruangan UGD.


"Tante... " Suara tangisan Michel seolah terdengar mengehelas iba. Semua orang yang di ruangan UGD menatap dengan wajah kasihan. Drama pertengkaran yang mereka sendiri tak mengerti masalahnya apa, membuat mereka menyaksikan atas sikap Nathan yang arogan.


Jacky dan Raisya tak menoleh ke belakang walau mereka jelas mendengar tangisan itu berbeda dengan tangisan tadi pagi. Suaranya begitu memilukan.


Tangisan Michel seperti menyayat hati Raisya. Walau Raisya berusaha untuk tidak peduli padahal dalam hatinya dia merasa sesak. Bagaimana pun dia adalah seorang perempuan yang mempunyai naluri keibuan.


"Masuk! Aku anterin kamu!" Jacky membuka handle pintu mobil dan menyuruh Raisya masuk ke dalam mobilnya.


Raisya menurut tanpa sedikit pun ingin membantah. Jacky kembali menancap gas melaju kan mobilnya mengarah pada tempat tinggalnya Raisya.


Sepanjang perjalanan tak ada yang memulai berbicara. Keduanya seakan membeku dan lidahnya menjadi kelu.


"Ra kamu sudah makan?" Jacky memulai pembicaraan. Sebenarnya hatinya tak merasa nyaman harus terus berdiam, sedangkan pikirannya sejak tadi berjalan kemana-mana.


"Nanti saja!" Raisya menjawab pelan.


"Aku lihat nasi kamu masih utuh di meja. Tadi aku menyuruh pak boy untuk mengambilnya. Takut mubazir istilah kamu mah." Jacky mengikuti kebiasaan bicaranya Raisya.


Raisya tersenyum tipis. Hari ini jiwanya merasa lelah. Bahkan dia pun tak mampu melawan ataupun menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Gue juga lapar Ra. Giman kalau kita nongkrong bentar di tempat kamu biasa ngajak aku?" Jacky berusaha mencairkan suasana dan dia pun sebenarnya mengkhawatirkan Raisya yang terlihat belum makan sejak tadi siang.

__ADS_1


"Terserah." Satu kata yang tak mempunyai gambaran sebuah pilihan jika seseorang sudah pasrah. Kata 'terserah' seolah mampu mewakili hati yang sedang putus harap.


"Oke kalau gitu kita kesana sebelum aku mengantar kamu ya!' Jacky melirik Raisya sebentar lalu matanya kembali ke depan jalanan.


Sementara itu paska ditinggalkan Raisya dan Jacky, Michel menangis tak henti-henti walau Nathan sudah memeluk Michel seperti yang dilakukan Raisya.


Michel mungkin sudah merasa nyaman dengan Raisya. Hati anak kecil itu seperti menemukan tempat melabuhkan hatinya yang baru. Tapi baru saja dia merasakan sebentar, dia dipaksa berpisah oleh keadaan.


"Sayang.. Daddy disini. Kita pulang yukk!" Rayu Nathan pada Michel.


"Tante... " Hanya kata itu yang dijawab Michel.


"Iya nanti kita ke rumah tante ya... Michel mau kan pulang sama Daddy?" Akhirnya rayuan itupun meluluhkan Michel dari tangisannya.


"Maaf dokter, apakah anak saya boleh pulang sekarang?" Nathan menanyakan pada dokter yang berjaga di ruang UGD.


"Bisa pak! Demamnya sudah turun. Ruam-ruamnya juga sudah berangsur-angsur menghilang." Jawab dokter. Walaupun dia secara manusia merasa kesal tapi dia harus menjalankan tugasnya secara profesional.


"Perawat tolong buka infusnya!" Dokter itu memerintahkan perawat untuk membuka infus Michel.


"Saya resepkan beberapa obat untuk memulihkan badannya dan vitamin."


"Jangan lupa berterimakasih pada orang yang telah membantu anak anda!" Akhirnya dokter itu pun berkata jujur yang sejak dari tadi ditahannya.


Nathan tak menjawab.


"Maaf... saya mau bertemu mbak yang tadi bawa anak itu!" Seorang laki-laki paruh baya masuk ke ruang UGD dan menatap Michel sambil mengutarakan maksudnya.


"Iya. Ada apa ya?" Perawat yang ada di ruang UGD menghampirinya.


"Ini Handphonenya ketinggalan di mobil taxi saya. Mungkin tadi terjatuh sewaktu dia menggendong anaknya yang lagi sakit. Laki-laki itu menyodorkan sebuah handphone pada perawat itu.


"Oh baik. Nanti akan saya sampaikan pak! Saya ucapan terimakasih kasih atas kebaikan bapak!" Sambut perawat yang baru saja menghampirinya.


"Iya. Saya mohon permisi!"


"Iya baik pak." Sopir taxi itu pun berlalu dari ruangan UGD setelah menyerahkan Handphone milik Raisya.

__ADS_1


"Apakah ini bisa anda berikan pada mbak yang tadi?" Perawat itu menyodorkan handphone Raisha pada Nathan.


Dia hanya mengangguk dan menerima handphone Raisya.


Setelah membayar biaya pengobatan. Nathan menelpon seseorang.


"Pih! Bisa pinjam mobil papih sama sopirnya?" Nathan terpaksa menelpon tuan Robert. Karena saat ini mobilnya sedang diperbaiki.


"Lah bukannya mobil kamu baru saja papih belikan kemarin?" Tuan Robert yang tak tahu apa-apa menanyakan mobil Nathan yang baru saja dibelikannya, saat dia datang ke Indonesia.


"Di bengkel pih!" Jawab Nathan pendek.


"Ya ampun... kenapa?"


"Kemarin di tabrak orang." Padahal Ratna gak mungkin menabrak mobilnya kalau dia sendiri tidak mengerem dadakan. Nathan mencari alasan agar dirinya merasa aman.


"Ya sudah papih kirimkan ke rumahmu!" Walau tuan Robert keras pada Nathan, sebenarnya Nathan adalah putranya yang paling dia cintai.


"Jangan ke rumah pih! Ke rumah sakit xxx." Pinta Nathan.


"Siapa yang sakit?" Tuan Robert langsung cemas.


"Michel pih!"


"Kenapa dia? Apa sakitnya parah? Apa harus papih siapkan rumah sakit terbaik?" Tuan Robert yang begitu menyayangi Michel karena cucu pertamanya merasa protektif sekali pada Michel.


"Michel alergi susu sama keracunan susu." Jelas Nathan.


"Ko bisa? Jangan-jangan baby sister Michel gak becus mengurus Michel." Cicit tuan Robert dengan khawatir.


"Bukan pih! Michel sendiri yang salah." Bela Nathan tak ingin berkepanjangan.


"Ya udah mulai sekarang Michel harus tinggal di sini!"


Please deh pih! Aku gak mau ribut sama mamih juga Jacky. Aku gak bisa kerja kalau gak kondusif." Protes Nathan.


Tuan Robert terdiam.

__ADS_1


"Ya sudah. Papih gak bisa maksa kamu. Papih harap Michel sembuh!" Tuan Robert yang biasanya keras tiba-tiba melunak sejak kejadian trauma Michel.


"Iya pih, terimakasih!" Nathan menutup telepon. Dia menatap handphone Raisya.


__ADS_2