
"Maaf Bu.. ada tamu di bawah yang mencari ibu." Ucap pelayan pada Ratna.
"Siapa?" Ratna menanyakan identitas tamunya pada salah satu karyawannya.
"Katanya dia bos anda bu."
"Bos?" Ratna mengerutkan dahi. Dia tak tahu yang dimaksud dengan bos itu siapa? Karena dia sudah lama tidak bekerja dan sekarang dialah bosnya.
Ratna turun dari lantai dua rumahnya menuju showroom tempat dimana aktifitas jualan onlinenya berada.
"Pak Nathan.. " Mata Ratna melebar begitu tahu tamunya adalah Nathan.
"Ratna.. kamu disini?" Nathan mengedarkan pandangan melihat ruangan itu. Wajahnya yang kusut juga kacau membuat Ratna agak mengernyitkan dahi.
"Ada pak Nathan mencari saya?" Ratna tak ingin Nathan mencari masalah di tokonya.
"Dimana Raisya Rat? Aku pengen bertemu dengannya." Nathan sudah kehabisan akal mencari Michel setelah tadi mencari ke tempat yang mungkin saja disinggahinya, yaitu bank dan sekolah juga daerah di sekitarnya.
"Bukankah baru kemarin anda memberitahu kami, bahwa anda tidak akan menggangu Raisya?" Ratna agak deg-degan dengan kedatangan Nathan apalagi dia sekarang mencari Raisya.
"Tolong.. aku Rat..! Hanya dia yang bisa menolongku saat ini. Michel menghilang. Aku tak tahu harus kemana lagi mencarinya." Mata Nathan berkaca-kaca berharap Ratna menolongnya bisa mempertemukan dengan Raisya. Karena dia menyangka bahwa Michel pergi meninggalkannya dan sekarang berada bersama Raisya.
"Mmm... kamu baru tahu rasanya ditinggalkan Michel. Kenapa Michel meninggalkanmu? Mmm... Jangan-jangan kamu juga melakukan kekerasan juga padanya?" Ratna hanya menebak-nebak. Padahal anak itu selalu setia menemani ayahnya yang psikopat itu.
"Please... kasih tahu aku Rat, apa Michel ada dengan Raisya?" Nathan yang sudah mencurigai Michel sejak kemarin dari aroma parfum yang pernah dipakai Raisya, sekarang dia menduga bahwa Michel sedang berada dengannya.
"Michel tidak ada dengan Raisya." Ucap Ratna ketus. Dia tak mau melayani Nathan dengan ramah mengingat perlakuannya kepada Raisya begitu kejam. Lalu sekarang dia datang memohon untuk mencari anak kesayangannya.
"Please... pertemukan aku dulu dengan Raisya. Aku janji tidak akan berbuat kasar. Kalau Michel ada dengannya aku... akan pulang. Yang penting Michel selamat." Nathan sedang melupakan posisinya sekarang. Dia seperti singa kehilangan taringnya. Dalam pikiran nya sekarang hanya satu, dia menemukan Michel dan anak itu dalam keadaan selamat.
"Heh.. kamu kira aku sedang berbohong apa?" Ratna agak emosi melihat Nathan yang setengah memaksa memintanya bertemu Raisya.
Tuk
Tuk
__ADS_1
Tuk
Langkah kaki kian terdengar jelas menuruni anak tangga. Ratna menoleh ke belakang melihat siapa yang sedang menuruni tangga.
"Raisya... " Mata Nathan membulat melihat sosok yang ditemuinya. Hatinya yang tadi gundah berubah jadi sedikit lega.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Michel hah?" Raisya dengan suara bergetar dengan matanya berkaca-kaca membentak Nathan. Tadi ketika dia sedang berbaring tanpa sengaja mendengar percakapan antara Ratna dan Nathan. Raisya yanga awalnya ingin bersembunyi, malah dia merubah niatnya ketika mendengar sekilas tentang hilangnya Michel.
Dia yang masih istirahat di sofa lantai dua, bangkit menguatkan dirinya untuk turun ke lantai satu mengahadapi Nathan. Dia cemas mendengar Michel hilang. Kemungkinan anak itu mendapatkan kekerasan dari ayahnya.
Raisya memang membenci Nathan, tapi tidak dengan Michel. Dia malah merasa kasihan pada anak itu. Dia tidak bersalah sama sekali.
"Apa yang kamu lakukan pada Michel? Apa kau tidak cukup menyiksaku? Dasar psikopat gila!" Tanpa sadar Raisya mengambil benda apa saja yang ada di depannya lalu melemparkan pada arah Nathan.
"Raisya tenang!" Ratna buru-buru menahan amukan Raisya yang tak terkendali.
"Pergilah pak Nathan. Michel tidak ada bersama kami. Saya mohon!" Ratna tak ingin ada hal yang tak diinginkannya terjadi di tokonya.
"Baik.. aku pergi." Dengan wajah kusutnya Nathan menatap perempuan yang baru saja selesai melemparnya dengan beberapa barang. Untungnya barang dilempar Raisya berhasil ditangkis, dan memang tidak membahayakan seperti baju dan hanger yang sedang dipajang di ruangan itu.
"Tolong kabari aku jika Michel datang kemari. Sekarang aku pergi." Dengan berat hati Nathan meninggalkan tempat itu. Selain cemas memikirkan Michel, dia sebenarnya sedang menahan rindu yang besar pada Raisya.
Nathan berlalu meninggalkan showroom Ratna. Dia melajukan mobilnya entah kemana.
"Duduklah Sya!" Ratna menuntun Raisya duduk di sofa.
"Bawakan air!" Ratna menyuruh membawakan air untuk Raisya agar hatinya bisa tenang.
"Baik bu." Seorang pelayan yang biasa melayani tamu segera ke belakang area kitchen membawakan dua gelas air teh hangat. Tak lama kemudian dia menyodorkan pada Raisya juga Ratna.
"Minumlah Sya!" Ratna membawa cangkir yang berisi teh hangat dan mendekatkannya ke tangan Raisya.
Raisya mengambil gelas itu lalu meneguknya perlahan lalu menyimpan kembali gelas itu di atas meja.
Ratna pun mengikutinya mengambil gelas dan ikut meminum teh hangat dari gelasnya. Dia sempat deg-degan dengan kedatangan Nathan ke showroom nya. Kini dia menghela nafas lalu membuangnya perlahan. Ratna mengelus punggung Raisya yang masih nampak syok juga lemas karena terkejut dengan hilangnya Michel.
__ADS_1
"Rat... bantu aku mencari anak itu! Aku khawatir dia kenapa-kenapa. Kalau terjadi sesuatu dengan Michel.. " Raisya menggantung kalimatnya.
"Iya... nanti aku akan bicara pada Irwan. Kita akan mencarinya." Ratna berusaha menenangkan Raisya. Padahal dia sendiri bingung harus kemana mencari Michel.
Ratna mengirimkan pesan pada Irwan, yang kebetulan sedang berbelanja bahan kain di luar. Ratna mengabarkan tentang hilangnya Michel juga tentang kedatangan Nathan ke showroom nya.
Kring
Kring
Kring
Irwan langsung menelpon karena dia sangat khawatir dengan Raisya.
"Halo.. beb."
"Iya Halo yang.. "
"Beneran pak Nathan datang kesitu?" Terdengar Irwan semu cemas.
"Iya."
"Bagaimana dia bisa tahu kesana?" Tanya Irwan penasaran.
"Tidak tahu yang... tiba-tiba saja dia sudah berada di sini." Ratna tidak sempat bertanya panjang karena dia keburu kesal sama Nathan.
"Ya udah kalian tenang aja. Nanti sehabis belanja aku akan membantu mencarinya. Kebetulan ada teman aku yang dikepolisian bisa melacak orang hilang. Kalian tenang saja ya!" Irwan tahu dua perempuan itu pastinya sedang cemas.
"Iya yang... kabari aku ya!" Ratna percaya Irwan selalu menepati janjinya. Meski dia sibuk dia akan membantu siapa saja yang membutuhkan.
"Iya.. kalian jaga kesehatan. Jangan sampai sakit. Apalagi harus menelantarkan si kembar." Ucap Nathan tidak ingin keduanya larut dalam masalah.
"Astaghfirullah.. aku lupa." Ucap Ratna baru ingat jadwal si kembar pulang dari PAUD.
"Lupa apa?" Irwan ikut terkejut.
__ADS_1
"Si kembar dan Arsel belum dijemput." Ratna segera berdiri mengambil kunci.