Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Komitmen pernikahan


__ADS_3

Jason menggeliat dari tidurnya. Ada rasa pegal di tengkuknya juga rasa tak nyaman di tangannya yang dipakai alas untuk tidur.


"Ra... kamu menangis? Kenapa?" Tanya Jason terbangun mendengar suara tangisan. Jason masih mengumpulkan kesadarannya. Sesekali dia mengucek matanya agar pandangannya menjadi jelas.


"Jason... aku... tak mau menikah.. hik hik hik... " Jawab Raisya sambil menangis. Entah kenapa tiba-tiba Raisya berkata seperti itu.


"Eh.. kenapa begitu? Apa karena laki-laki bernama Ferdi itu? Apa kamu mencintainya juga?" Tanya Jason ingin tahu. Kenapa tiba-tiba Raisya ingin menggagalkan pernikahannya.


Raisya menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah.. kalau kamu tidak mencintainya kenapa kamu memutuskan tak mau menikah? Apa yang merubah pikiran kamu?" Jason perlahan-lahan mendekati Raisya sambil mengusap bahunya. Dia tak mau Raisya merasa kesedihan sendirian.


"Aku... sungguh tak pantas untukmu Jason. Carilah gadis lain!" Raisya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, merasa malu akan masa lalunya. Haruskah dia berterus terang pada Jason mengenai masalahnya dengan Ferdi. Rasanya berat dan juga aib.


"Eih.. aku kan cinta sama kamu. Masa harus mencari gadis lain. Aku gak mau Ra.. ayo jangan begitu! Jika kamu ada masalah cerita saja! Aku siap kok menerimanya." Jason tak mudah goyah dengan pendiriannya kecuali memang Raisya mencintai orang lain.


"Aku sungguh tak pantas. Aku ini kotor. Aku bukan hanya seorang janda tapi.. aku.. perempuan yang pernah di per**** oleh kakakku sendiri." Raisya tak lagi bisa menutupi lagi masalahnya pada Jason. Dia siap kalau Jason ingin meninggalkan dirinya setelah tahu masalah itu.


Jason terdiam. Sejenak pikirannya seperti buntu. Bingung harus menanggapi kalimat yang baru saja diucapkan Raisya.


"Ra... maafin aku ya... aku benar-benar kaget. Aku tidak tahu kalau kamu mengalami cobaan seberat itu. Tidak semua perempuan mampu melewati cobaan sebesar itu dengan baik dan mampu berdiri lagi. Kamu memang wanita hebat. Aku... kagum sama kamu. Aku... sayang kamu Ra.. aku janji ingin menjagamu selama aku masih hidup. Mari kita hidup bersama sampai tua nanti dan sampai maut memisahkan. Jangan ingat-ingat kejadian itu! Jika kamu ingin pergi dari sini... aku akan membawamu ke tempat dimana kamu merasa nyaman." Tak disangka malah Jason meminta maaf. Dia merasa terlambat datang pada Raisya sehingga Raisya harus melewati masa ujian seperti itu. Kalaulah waktu bisa diputar, mungkin dia bisa meminang Raisya lebih awal sebelum kejadian buruk menimpa Raisya.


"Terimakasih Jason... tapi... " Raisya tetap saja masih tidak percaya diri meski Jason sudah bicara dan berjanji padanya akan menerima Raisya apa adanya.

__ADS_1


"Ssst... sudah. Jangan menengok lagi kebelakang! Besok kita pergi ke makam ibuku untuk minta izin. Setelah itu kita akan pergi ke Jakarta menemui anak kamu. Dan selanjutnya aku akan menemui ayahmu. Tadi ibumu sudah memberi kabar agar tidak kembali ke rumahnya karena kondisi tidak kondusif. Dia memberi izin padaku untuk menjagamu dan memutuskan untuk menerima lamaran aku." Ucap Jason yang tadi sebelum Raisya siuman sempat membaca pesan dari ibunya Raisya yang dikirimkan melalui handphone Raisya.


"Apakah kamu benar-benar ingin hidup denganku?" Raisya menoleh ke arah Jason. Rupanya Raisya masih tidak mempercayai ucapan Jason barusan.


"Iya. Aku serius. Kalau tidak serius mana mungkin aku jauh-jauh pergi ke Bandung dan meminta izin melamar pada keluargamu." Jason mencoba meyakinkan kembali Raisya agar bisa mempercayainya.


Raisya terdiam.


"Sekarang kamu tidur lagi ya! Ini masih malam. Apa kamu merasa lapar tidak?" Jason menawarkan Raisya untuk makan karena terakhir kali pingsan itu sudah beberapa jam yang lalu. Mungkin perut nya perlu diisi meski mendapatkan cairan infus untuk mengembalikan data tahan tubuhnya.


Raisya mengangguk.


"Baiklah.. aku bawakan roti ya!" Jason pun berdiri dan membawa sekantong kresek yang berisi makanan juga minuman yang tadi sudah dibelinya.


Raisya menerima roti itu lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Jason membawakan satu kotak susu untuk membantu Raisya mempermudah menelan rotinya.


"Terimakasih." Ucap Raisya menerima sekotak susu dan meminumnya pula.


"Kamu tidak lapar?" Raisya balik bertanya.


"Tidak. Tadi aku sudah makan jatah kamu. Habis kamu pingsan kelamaan. Kan sayang nasinya nanti diambil lagi kalau kamu masih tertidur kaya barusan." Jawab Jason yang memang tadi sudah memakan jatah nasi Raisya yang diberikan rumah sakit.


"Oh.. " Raisya kembali menyuapkan roti dibarengi susu yang sedang dipegangnya agar mudah menelan roti yang sedang dimakannya.

__ADS_1


"Ra.. kamu pengen mas kawin apa?" Tanya Jason yang memang belum menyiapkan mas kawin untuk Raisya.


"Mmm.. apa saja. Aku tak ingin memberatkan kamu." Jawab Raisya menatap dalam wajah Jason yang sedari memperhatikannya.


"Aku ada perhiasan peninggalan ibuku. Apa kamu mau menerimanya?" Tanya Jason yang masih menyimpan semua perhiasan peninggalan ibunya itu.


"Itu kan punya ibumu. Apa kamu tidak mau menyimpannya?" Tanya Raisya balik bertanya.


"Aku ingin kamu memakainya. Nanti aku tambahkan perhiasan yang lain sebagai mas kawin resmi. Tapi.. kamu ingin pernikahan kita seperti apa Ra?" Jason ternyata serius ingin menyiapkan pernikahannya.


"Aku.. ingin sederhana saja. Apa kamu keberatan tidak kalau acara pernikahannya di gelar di Amerika saja. Aku khawatir jika digelar disini malah nanti tidak kondusif. Cukup keluarga saja yang hadir. Tapi itupun kalau kamu setuju." Jawab Raisya yang tak ingin acara pernikahannya digelar mewah.


"Baik. Aku setuju. Aku juga maunya begitu." Jason menyetujui kemauan Raisya.


"Aku... mohon maaf ya Jason. Kalau seandainya nanti aku mengecewakan kamu. Aku bukan seorang gadis. Mungkin kamu masih bisa mendapatkan perempuan lain yang masih gadis dan perawan." Raisya tertunduk.


"Tidak Ra. Aku hanya ingin kamu. Mari kita hidup bahagia. Jangan terbebani dengan hal-hal yang seperti itu. Yang penting kamu mau jadi istriku dan hidup bersamaku sampai tua nanti. Itu sudah cukup bagi aku. Apakah gadis dan perawan kalau nantinya hidupku tak bahagia." Jawab Jason menerangkan tujuan pernikahannya.


"Tapi.. aku banyak kekurangan Jason. Bagaimana kalau kamu tidak bahagia?" Tanya Raisya lagi.


"Ra... pernikahan itu bagaimana niat. Kalau niatnya ingin bahagia, masing-masing dari kita banyak kekurangan. Mari saling melengkapi! Jangan jadikan kekurangan kita sebagai alasan untuk tidak bahagia. Bahagia itu letaknya pada syukur kita sama yang Maha Kuasa. Ayo bismillah aja! Aku juga tidak bisa menjamin kamu bisa bahagia denganku atau tidak. Tapi ayo kita berusaha bersama. Itu yang aku inginkan." Jason ingin tujuan pernikahannya bukan hanya semata-mata karena nafsu tapi ingin membangun keluarga yang bahagia.


"Terimakasih ya Jason sudah mau menerimaku. Kamu jangan kaget kalau suatu saat nanti banyak hal-hal yang mungkin saja membuatmu tak nyamab." Terang Raisya yang masih mengkhawatirkan masa lalunya.

__ADS_1


"Iya. Aku juga Ra. Aku juga ingin apapun yang terjadi mari saling menguatkan."


__ADS_2