Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kesempatan


__ADS_3

Michel tidak percaya orang yang berada di dalam ruangan itu adalah Raisya. Matanya lekat menatap perempuan itu takutnya apa yang dilihatnya salah.


"Michel.. kamu sudah milih belum?" Siska menepuk paha Michel yang masih melongo.


"Eh... iy iya.. " Michel menjawab terbata-bata.


"Aku yang ini aja mbak!" Michel memilih asal baju yang mau dibelinya. Sejak awal memang Michel kurang berminat membeli kalau bukan karena desakan teman-temannya.


"Iya.. baik. Jadi totalnya ada lima potong ya?" Pelayan toko mengecek kembali pembelian dari teman-temannya Michel.


"Iya mbak." Jawab Siska antusias.


"Oke. Totalnya 380 sudah dipotong member. Ini kartu member kalian." Pelayan tadi memberikan 2 kartu member, satu milik Michel dan satu lagi milik temannya.


"Silahkan dibayar di kasir!" Pelayan tadi mengarahkan ke bagian kasir.


"Biar aku bayar semuanya!" Michel langsung berdiri.


"Wah... beneran Chell?" Dua temannya langsung melohok pada Michel.


"Iya. Aku tidak punya uang cash, cuman ada kartu saja. Itung-itung perkenalan sebagai teman dari aku." Jawab Michel


"Wah... Terima kasih Michel..." Siska dan satu temannya langsung memeluk Michel karena senang mendapatkan traktiran dari Michel.


"Mmm... Sama-sama. Aku mau bayar dulu ya!" ucap Michel.


"Oke friend.. " Siskan membulatkan jari jempol juga telunjuk sebagai tanda Oke.


Michel menghampiri kasir yang ada di ruangan itu.


"Mbak.. aku bayar pake ini, bisa?" Ucap Michel.


"Bisa dek." Kasir menerima sebuah kartu debit yang diberikan Michel.


Michel memang tidak dibiasakan untuk diberi uang cash agar memudahkan Nathan mengawasinya.


"Semuanya 380 ribu ya. Silahkan tekan kodenya disini!" Kasir menyodorkan mesin gesek ke arah Michel. Michel pun menekan beberapa angka pasword di mesin itu.


"Sudah mbak!"


"Baik.Tunggu sebentar ya!" Sang Kasir menekan keyboard komputer untuk mengeluarkan struk pembelanjaan.


"Ini dek. Terima kasih atas pembelanjaannya!" Kasir memberikan kartu debit milik Michel, lalu memberikan satu tas plastik yang berisi baju-baju yang tadi sudah dipilihnya.


"Iya. Sama-sama." Ucap Michel. Dia menarik tas plastik tapi masih berdiri mematung di depan kasir belum beranjak dari hadapannya.

__ADS_1


"Mmm.. mbak.. " Michel menggantung nada bicaranya.


"Iya dek. Ada yang bisa saya bantu?" Kasir tadi menatap Michel.


"Aku boleh tanya gak?" Michel agak sungkan untuk menanyakan kepenasaranannya.


"Iya dek."


"Kalau bu Raisya pemilik toko ini bukan?" Michel memberanikan diri untuk menanyakan itu pada kasir. Sebenarnya niat Michel membayar semua belanjaan agar ada alasan menanyakan tentang Raisya.


"Ohh bukan dek.. beliau manager disini. Pemilik toko ini bu Ratna sahabatnya bu Raisya. Adek kenal sama bu Raisya?" Kasir itu tersenyum ramah melayani pertanyaan Michel.


"Mmm... pernah kenal." Jawab Michel.


"Ohh... kenapa adek tidak menyapanya? Beliau orangnya baik kok. Mau saya antarkan agar adek bertemu dengannya?" Tawar kasir itu dengan baik, mau mengantarkan Michel bertemu Raisya.


"Mmm enggak mbak.. lain kali saja. Aku buru-buru." Michel langsung melengos, hatinya agak deg-degan bagaimana kalau benar kasir itu mempertemukan dirinya dengan Raisya.


"Ini.. barangnya sudah aku bayar!"Michel menyodorkan tas plastik pada Siska.


"Oke thanks ya my friend!" Ucap Siska sambil tersenyum lebar karena senang.


"Kita pulang!" Ajak Michel mengajak kedua temannya.


"Let's go." Siska mengapit tangan Michel lalu ketiga anak abg itu keluar dari ruko toko itu dan masuk ke mobil Michel.


Bunda kerja disana rupanya. Tapi dimana bunda tinggal ya?


Michel hanya berbicara dengan pikirannya sendiri.


Kring


Kring


Kring


Suara handphone Michel berbunyi. Michel menggeser tanda hijau.


"Halo dad." Michel menjawab panggilan Nathan.


"Halo sayang.. Kamu sudah selesai belanja sama teman kamu?" Tanya Nathan sambil melihat laporan pembelanjaan Michel di handphonenya.


"Udah dad." Jawab Michel pendek.


"Bagaimana kamu senang?" Tanya Nathan.

__ADS_1


"Ya.. begitulah." Michel seperti tidak terlalu semangat.


"Kamu pulang ke kantor saja ya! Kita makan-makan di luar sama teman-teman daddy. Kamu bisa pakai baju yang tadi dibeli." Ucap Nathan.


"Apa??" Michel terdengar kaget pasalnya baju yang dibelinya semua dibawa oleh Siska. Malah dia lupa mengambil baju miliknya.


"Kok... kaget gitu?" Nathan mengerutkan dahi.


"Mmm.. bajunya kebawa sama temen aku dad.. " Jawab Michel bingung.


"Lho.. kok bisa kebawa?" Heran Nathan.


"Tadi.. Baju Michel satu tas dad.. Jadi pas turun Michel lupa membawa baju Michel sendiri yang digabungkan sama-sama temen Michel." Jawab Michel kebingungan, karena dirinya merasa tidak terlalu menganggap penting, akhirnya lupa sama baju miliknya.


"Iya gak pa-pa... Kalau tidak ada baju ganti, nanti kita beli di mall aaja." Ucap Nathan.


"Mmm... harus ya dad, Michel ikut acara makan-makan sama temen daddy?" Michel agak malas harus datang ke acara formal apalagi acara perusahaan ayahnya. Karena beberapa kali ayahnya mengajak Michel untuk menghadiri acara seperti itu yang berakhir seperti kambing congek.


"Iya lah.. kamu anak daddy. Masa kamu tega membiarkan daddy pergi sendirian?" Jawab Nathan berharap Michel ikut ke acara resmi perusahaan yang bertema family.


"Mmm.. apa boleh Michel membeli baju sendiri dad? Jadi pas datang ke perusahaan, Michel sudah siap." Tiba-tiba terbersit di pikiran Michel untuk kembali ke toko tadi.


"Mmm... tidak mau diantar daddy? Biasanya kamu ngebet ingin diantar." Jawab Nathan agak heran juga. Kali ini Michel berani belanja sendirian.


"Tidak dad.. kan ada sopir. Jadi daddy tidak usah khawatir." Bohong Michel mau menggunakan kesempatan itu untuk kembali ke toko tadi.


"Iya hati-hati ya!" Nathan menutup telepon. Hari ini sehabis ashar ada acara makan-makan di kantor bersama semua keluarga pejabat sebagai perkenalan.


"Yesss... Pak kita balik lagi ke toko tadi! Saya mau membeli baju." Michel tersenyum bahagia.


"Baik."Sang sopir agak mengerutkan dahinya.


Tak lama kemudian mobil itu pun kembali terparkir di depan ruko.


Michel melirik sebentar ke arah mobil yang terparkir di samping mobilnya seperti memikirkan sesuatu, lalu masuk ke dalam ruko.


"Selamat sore dek." Pelayan tadi mendekati Michel yang baru saja masuk.


"Sore mbak."


"Adek yang tadi ya?" Pelayan itu masih mengenali Michel.


"Iya mbak. Tadi baju saya kebawa teman. Sekarang mau membeli lagi mbak." Ucap Michel.


"Eh.. Sya.. aku titip si kembar ya!"

__ADS_1


Michel menoleh pada dua orang perempuan yang baru keluar dari satu ruangan. Kedua orang itu lantas melihat ke arah sofa yang ada di ruang tamu.


Dua netra saling beradu pandang saling memindai satu sama lainnya. Kedua jantung sepertinya berirama sama dengan nada tempo cepat


__ADS_2