
"Tidak pak!" Jawab Raisya cemas. Takut ada yang salah Raisya harus siap-siap menerima konsekuensinya.
Malang benar nasibku. Ngapain juga si beruang nanya-nanya gitu. Emang gue siapanya elu sih? Heran kok bisa terperangkap dengan obsesinya keluarga beruang kutub. Harus kemana gue ngumpet lagi? Jackkkk tolongin gue.... kemana.. sih elu?
Raisya berbicara dalam hati meratapi nasibnya yang terperangkap dengan obsesinya Nathan. Dia takut kalau Nathan marah dan akan melakukan sesuatu lagi padanya. Ya, kalaulah Raisya saat ini tidak punya tanggungan hutang, mungkin dia akan bebas pergi kemana pun yang dia mau.
Saat ini adalah saat terberat baginya dimana Raisya tak mempunyai tempat untuk pulang. Bahkan hanya sekedar berbagi kesedihan pun dia tak punya. Baginya keluarga adalah tempat setoran keuangan dan penghasilan. Tak ada tempat untuk kehangatan, berkeluh kesah, dan sekedar bercerita peluh. Raisya merasa ibarat sapi perah yang tak boleh sakit, lemah bahkan tak boleh mati. Itu yang selama ini Raisya rasakan.
Sahabat yang selama ini setia pun entah kemana. Bahkan hampir satu minggu tak ada kabar dan berita.
Ratna... kemana elu sih? Sebegitu bencinya elu sama gue? Apa salah gue? Apa gue salah nganterin si Irwan buat ngelamar elu? Harusnya elu bangga bisa laku juga akhirnya.. gak kaya gue digantungin sama perasaan yang tak pasti kaya gini...
"Kamu jangan bohong Raisya!" Bentak Nathan yang tidak mempercayai ucapan Raisya.
"Mari saya kenalkan satu persatu." Raisya berusaha lunak agar beruang kutub tidak memangsanya.
"Aku sudah tahu Raisya! Emangnya aku bodoh?" Suara itu tidak juga melunak.
"Tapi... disini ada satu perempuan pak." Raisya yang tidak merasa berbohong berusaha ingin menjelaskan.
"Heiii.. gue masih perempuan, belum trans gender. Walau luarannya funky dalemannya masih helo kitty." Ria menimpali dari tempatnya berdiri. Beny dan Rio terkekeh mendengar ucapan Ria yang menimpali VC nya Raisya.
"Itu pak namanya mbak Ria. Di kembarannya bang Rio. Jadi di kantor ini masih ada perempuan." Jelas Raisya yang merasa dongkol Nathan tiba-tiba menanyakan hal seperti itu. Padahal di divisi pemasaran saja hanya dirinya saja yang perempuan. Tapi dia tidak seposesif seperti sekarang.
Riweuh pisan jelema teh!
(Ribet banget nih orang)
Rutuk Raisya.
"Ya sudah. Jangan sampai telat pulang! Jangan lupa kirimkan laporan! Meski aku jauh, aku akan memantau kerja kalian!" Ucap Nathan menutup telepon.
Hadeuh.. abong teu adeuh! Lieur boga bos kawas kieu!
(Ih pusing amat nih orang. Punya bos kaya gini ikutan pusing)
Raisya bergumam sendiri.
"Hayuu ah neng kita rapat keburu siang. Abang mau ke proyek. Bang Beny juga mau pergi." Rio berjalan ke lantai dua. Diikuti oleh semuanya yang berdiri di sana.
__ADS_1
"Iya bang." Raisya ikut turun ke lantai dua.
Beny memimpin rapat.
"Raisya.. kamu sebaiknya di kantor saja! Semua orang sekarang pada keluar. Tolong kalian koordinasi dengan Raisya untuk itung-itungan harga sama budget. Gue harap semua lancar. Dan Kamu Ria.. setelah kamu belanja, nanti balik ke perusahaan Raisya, barengan sama dia. Pak Nathan khawatir absen dia. Kalau bisa lu Rio balik sebelum jam istirahat!" Ucap Beny setelah menerima koordinasi pekerjaan dan laporan masing-masing. Beny pun menutup acara rapat, setelah dia rasa tak ada lagi yang dibicarakan.
Dia langsung pergi untuk survei pembangunan rumah kliennya. Rio kembali ke proyek. Tinggal Ria dan Raisya di kantor.
Ria masih orat-oret mendesain pekerjaannya sebelum membeli bahan-bahan untuk proyek interiornya. Begitupun Raisya sedang merekap satu-persatu dan menghitung proyek yang sedang dijalankan perusahaan Beny.
"Heh.. Raisya kemarin gue ke kantor elu. Tapi elu gak ada." Ucap Ria yang baru saja bertemu dan berkenalan.
"Oh iya. Anak pak Nathan sakit, jadi aku anterin dia ke rumah sakit." Jawab Raisya sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Eh.. itu bos Nathan duda?"
"Tau." Raisya tidak pernah ingin tahu kehidupan Nathan walau sekarang dia terjerat masuk ke dalam obsesinya Nathan.
"Lah.. kok elu ga tau. Bukannya elu stafnya? Terus elu kaya ada hubungan juga sama dia sampai harus mengurus anaknya. Ditambah tadi dia posesif gitu. Apa elu gak merasa?" Ria menoleh ke arah Raisya.
"Merasa apa?" Ekspresi Raisya datar saja. Pandangannya tetap mengarah ke layar komputer.
"Ishh... aneh." Ria mendengus melihat respon Raisya yang datar.
Hening.
Suara handphone Raisya kembali berbunyi.
"Halo." Raisya menekan tombol di headsetnya.
"Bunda... lagi ngapain?" Michel rupanya menelpon Raisya.
"Eh.. Michel. Bunda lagi kerja sayang... " Raisya tak mengubah pandangannya.
"Bunda VC dong! Michel pengen lihat bunda.. " Suara Michel memelas.
"Iya. Sebentar." Raisya mengubah mode ke VC.
"Halo.. sayang sudah mandi ya? Wah cantiknya.. " Raisya melihat Michel sudah rapih dengan mode kunciran dua dan pita yang mengikat rambutnya.
__ADS_1
Michel tersenyum senang melihat Raisya juga mendengar pujiannya.
"Bunda.. pengen ikut ke kantor bunda!" Rengeknya dengan wajah menekuk.
"Iya.. nanti kalau Michel sudah sembuh dibawa ke kantor daddy ya! Kalau sekarang bukan kantor daddy. Jadi tidak boleh membawa anak kecil ke sini sayang." Bujuk Raisya agar Michel bisa tenang.
Tidak kebayang dia harus membawa Michel ke sini yang notabene bukan kantor ayahnya.
"Michel sudah sembuh kok! Kata aunty Sarah katanya sore juga sudah bisa pulang." Terang anak bule yang meminta Raisya membawanya.
"Oh ya. Alhamdulillah.. Michel harus jaga kesehatan dulu ya! Biar nanti di sekolah bisa bermain dengan teman-teman."
"Michel gak mau sekolah!" Dia cemberut.
"Eh.. anak baik gak boleh begitu. Nanti bunda dimarahin daddy lagi. Michel mau kalau bunda dimarahin?" Raisya agak bingung. Bagaimana kalau Michel mogok sekolah dan Nathan menyalahkannya lagi.
Duh bikin susah aja nih bocah.
Raisya sedang memutar ide untuk membujuk Michel mau sekolah.
"Michel sayang bunda..." Anak itu seperti anak ayam kehilangan induk. Mudah ciak ciak mencari induk ayam yang sebentar saja pergi
"Iya sayang, bunda kerja dulu ya! Bunda lagi bekerja. Kalau terus dibawa ngobrol nanti kerjaan bunda tidak selesai. Dan Bunda pulangnya telat deh."
"Iya deh bunda.. Cepet pulang! Michel sudah dulu neleponnya."
"Iya. Anak baik. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Sambungan telepon terputus.
"Raisya, itu anak kamu?" Ria sudah ada di depan meja Raisya sambil membawa catatan.
"Bukan. Anak pak Nathan." Jawab Raisya.
"Lah kok udah akrab gitu? Jangan-jangan sebentar lagi kamu jadi emaknya." Kekeh Ria.
"Ih amit-amit!" Raisya menggidikkan bahu.
__ADS_1
"Amit-amit apa amat-amat? Amat kucinta...
amat kusayang... amat ku rindu.. " Ria malah menertawakan Raisya dengan puas.