
Sekarang dia hanya menyesali perbuatannya. Dia tak tahu cara memperbaiki kesalahannya. Penyakit tantrum yang sudah dideritanya sejak kecil belum bisa disembuhkan sampai sekarang.
Sekarang Nathan hanya bisa menatap foto Raisya yang dikirimkan Jacky dengan lamat-lamat. Dia sudah dua kali menyakitinya. Akankah Raisya memaafkannya atau malah mengadukan hal itu pada pihak berwajib.
Tok
tok
tok
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Dia menoleh ke arah pintu ketika seseorang masuk dengan membawa keranjang buah juga makanan.
"Apa kabar?" Adam memeluk Nathan. Hanya Adam yang selama ini agakberbaik hati melirik Nathan dibandingkan keluarga Robert yang lainnya.
"Haloo Michel... " Adam menyapa ramah pada Michel yang sedang asik nonton film dari youtube.
"Halo Uncle Adam." Michel menyambut Adam dengan wajahnya yang imut dan lucu.
"How are you honey?" Adam mendekati Michel mencubit pelan pipi gembulnya yang bule.
"I'm fine uncle."
"Good girl!"
"Uncle bawa makanan kesukaan kamu. Taraaa.. " Adam membawakan pizza.
"Wah mau.. " Pinta Michel manja.
"Kiss dulu dong uncle nya!" Adam begitu ramah memperlakukan Michel layaknya putrinya sendiri.
"Mmmuahh.Thanks uncle!" Michel mencium pipinya Adam.
"Oke. Your welcome."
Adam memberikan potongan pizza pada Michel. Dia tersenyum melihat Michel mengunyah pizza dengan gemasnya. Naluri seorang ayahnya tercuat begitu melihat anak kecil di depannya. Sebenarnya dia sudah rindu mempunyai momongan namuni Adam memilih mengalah ketimbang harus bertengkar dengan Sarah, isterinya.
"Aku dengar Michel jatuh dari tangga. Apa pengasuhnya lalai?" Adam duduk di samping Nathan yang sedang duduk di sofa.
"Bukan." Nathan menjawab pendek.
"Lalu?" Adam melirik Nathan ke samping.
__ADS_1
"Dia mengejar seseorang."
"Mengejar seseorang? Maksudmu?"
"Sudahlah!" Nathan tak ingin memperpanjang masalah.
Adam menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa duduk rileks. Kedua tangannya dilipat ke dada.
"Kenapa kamu masih juga sendiri? Kasihan Michel butuh sosok ibu." Adam melirik sebentar menatap wajah Nathan.
"Masih ingin sendiri."
"Hhhm. Kamu susah move on dari Sherly?"
Nathan tidak menjawab.
"Bukalah hatimu! Siapa tahu ada yang cocok denganmu. Michel sebentar lagi masuk sekolah, dia membutuhkan identitas dari orangtuanya. Ini Indonesia bukan Amerika. Persoalan statusmu akan jadi penting dimana kamu akan diam dan berinteraksi dengan lingkungan sosial." Adam memberi saran.
"Lagian kalau menunggu sesuatu yang tidak pasti mending dilepaskan saja! Kamu akan lelah nantinya Nathan. Jangan biarkan hatimu terluka lebih lama. Kasian Michel harus menanggung akibatnya."
Nathan menoleh ke arah Adam. Pandangannya beradu saling menilai apa yang ada dalam pikirannya masing-masing.
"Jack... apa kita mesti perlu memberitahu ibunya Raisya? Aku takut disalahkan jika terjadi apa-apa dengannya." Ratna meminta pendapat pada Jacky apakah perlu memberitahukan ibunya.
"Sebaiknya sih dikasih tahu. Tapi gue juga bingung Rat. Kalau dia bertanya sebab Raisya terluka, kita mesti bilang gimana? Terutama elu Rat. Kan dia barengan sama elu dateng ke Bandung, terus tahu-tahu kayak begini."
"Iya juga sih! Kok kita jadi bingung Jack? Kaya kita yang punya dosa aja." Ratna melihat Jacky yang sedang asik makan pesanannya di kantin rumah sakit.
"Ya pastinya sih! Karena kan kita ada disitu ketika Raisya kena musibah."
"Jadi gimana dong?" Ratna malah cemas memikirkan alasan untuk keluarga Raisya.
"Elu makan aja dulu. Baru mikir! Gue juga pusing, jadi setidaknya badan kita mesti ada asupan buat mikir."
"Ih dasar cowok. Mikirinnya makan mulu!" Protes Ratna.
"Ya... tetep Rat. Meski kita panik juga perut perlu diisi biar energinya full buat mikir lagi. Kalau kita abai, malah nanti sakit semua loh!"
"Eh elu tadi sempet ngobrol apa aja sama Raisya?" Jacky penasaran dengan obrolan Raisya sama Ratna ketika Jacky tadi keluar.
"Tadi gue gak tega eungg banyak nanya. Soalnya elu lihat sendiri buat ngomong aja susah. Gue sedih banget Jack lihat Si Raisya kaya gitu! Gue bener pengen laporin si pelaku biar dia tahu diri." Ratna hampir menangis lagi.
__ADS_1
"Eh.. kita mikirnya mesti tenang! Kalua grasak grusuk malah menimbulkan masalah baru." Saran Jacky melihat kepanikan Ratna yang terpancing emosi.
"Tapi Jack.. Handphone si Raisya raib lho!" Ratna memberi kabar mengenai handphone barunya hilang.
"Kata Raisya.. kayanya dicuri orang. Tadi dia keliatan bingung gitu Jack. Apa mungkin Raisya dirampok lalu dipukuli gitu?" Ratna menebak-nebak.
"Lah masa merampok di tempat kaya gini?" Jacky tidak percaya pada alasan Ratna.
"Tapi kalau iya gimana? Tadi aku tanya Raisya di malah diam aja. Terus dia kaya terkejut gitu lho pas aku bilang si Michel juga kecelakaan. Dia maksain ngomong malah, pas denger kecelakaan. Padahal gue tahu dia menahan sakit sambil nyengir-nyengir gitu ngomongnya." Ratna mencurigai sesuatu yang disembunyikan Raisya.
"Iya. Ntar ngomongnya pelan-pelan aja! Kasian lagi gitu diajak mikir. Ngomongnya yang ringan yang menghibur." Jacky menyarankan Ratna agar tidak berbicara berat dulu pada Raisya.
"Eh gue gimana besok kerja Jack? Gue gak mungkin ninggalin Raisya kan? Apa gue ambil cuti? Eh kayanya gak mungkin ya? Soalnya lagi banyak kerja gini ntar gue bisa-bisa dipecat." Ratna bingung memikirkan pekerjaan dan kondisi Raisya.
"Elu mending tunggu dulu disini. Gue yang balik dulu ke Jakarta. Biar gue yang minta izin sama si Nathan." Jacky keceplosan bilang tidak formal.
"Eh.. elu deket gitu sama si bos Nathan?" Ratna mengerutkan dahinya.
"Iya Ntar gue bilangin izin dulu sama bos elu ah! Rese banget mesti ngomong formal. Lagian orangnya gak ada disini juga."Jacky kesal hampir saja identitasnya ketahuan.
Karena tak ada satu pun yang tahu kalau Jacky masih saudara sama Nathan dan Adam. Jacky tak ingin orang lain mengetahui identitas sebenarnya.
"Oh.. he he sorry kan elu sama-sama bule kaya pak Nathan juga pak Adam. Gue susah gebedain kalau bule sodaraan sampe sekarang." Ratna mengaduk pesanan makanannya lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
"Emang apa gunanya juga elu mesti tahu cara ngebedain orang bule sodaraan. Unfaedah!"
"Lah.. kali aja elu sodaraan sama bos Nathan kalau mirip dia." Ratna dengan polosnya bicara begitu membuat Jacky terbatuk-batuk.
"Ya elah.. elu kaya ketahuan lagi boong aja sampe. keselekan kaya gitu!" Ratna menyodorkan botol minuman air mineral punya Jacky.
"Udah.. Gue capek keselekan gitu. Mending gue cabut duluan. Mau ngerokok dulu!" Jacky keluar ingin menghindari kegugupannya.
"Yeyy... malah kabur!" Ratna hanya melihat punggung Jacky yang kian jauh keluar dari kantin, padahal makanannya belum dihabiskan.
"Dasar!"
Jacky menekan satu nomor sambil menyesap rokok jauh dari lingkungan rumah sakit. Dia hendak menelpon seseorang.
ada novel temen aku yang mungkin kamu lagi nyari-nyari bacaan yang cocok. Bisa ikuti dan mampir baca ya!
__ADS_1