
"Sial. Sudah kampungan belagu lagi!" Nathan menggerutu setelah Jacky dan Raisya meninggalkan dirinya sendirian dalam ruangan rapat. Dia duduk sambil mengusap mukanya, karena kesal mendapat perlakuan dari Jacky dan Raisya.
Nathan membuka handphonenya lalu melihat galeri yang ada dalam handphone. Entahlah saat ini hatinya begitu melow apalagi setelah diperlakukan Jacky seperti barusan. Itu mengingatkan kejadian di masa lalu.
Dia membuka satu persatu foto-foto yang ada dalam galeri handphone. Pikirannya menerawang ke belakang.
Ada perasaan rindu yang muncul dalam hatinya begitu netranya menangkap foto-foto dirinya saat masih bersama Sherly. Sekian tahun hidup bersamanya sampai Michel lahir lalu berpisah. Banyak kenangan yang dia simpan bersamanya. Apalagi kehadiran Sherly, datang disaat Nathan kehilangan pegangan. Kehadirannya adalah segalanya buat Nathan saat itu. Hatinya tak mampu menggeser wanita manapun sebagai pengganti.
"Pak Nathan...apakah anda akan melanjutkan bekerja keluar atau akan disini?" Suara Reza memecahkan lamunan Nathan.
Setelah selesai rapat, Nathan tak segera masuk ke ruang kerjanya. Tadi dia berniat berbicara dengan Raisya empat mata untuk membicarakan masalah ide-idenya. Dia tahu bahwa Raisya bisa membantu kinerjanya saat ini. Apalagi dia tadi sudah mendengarkan analisa Raisya di divisi yang kini sedang dipegangnya.
"Apakah untuk galeri wilayah Jabotabek sudah kita kunjungi?" Dia bertanya pada Reza.
"Sudah pak! Saya sudah mengagendakan kunjungan ke galeri-galeri luar kota jabodetabek terutama kota besar yang masih wilayah jawa-barat.
"Iya siapkan untuk penginapan dan transportasinya!"
"Baik pak! Laporan kunjungan galeri apakah mau anda periksa sekarang?" Tawar Reza.
"Baik sekarang aku akan ke ruangan." Nathan berdiri berjalan ke luar dari ruangan rapat menuju ruang kerjanya. Masih ada waktu sampai jam 4 sekitar satu jam lagi. Nathan akan manfaatkan sisa waktunya untuk memeriksa laporan hasil dari lapangan.
Sementara itu Raisya pun sedang sibuk menyusun laporan keuangan hasil di divisi gudang.
"Tante... " Michel mendekati Raisya sambil mengucek matanya yang agak coklat.
"Michel jangan ganggu tante bekerja sayang!" babysitter nya mengikuti Michel. Dia melihat Michel menjatuhkan kepalanya di pangkuan Raisya.
"Eh.. kenapa Michel?" Raisya melihat Michel yang terlihat lemas.
"Sepertinya dia mengantuk bu Raisya." Babysitter nya memberitahu Raisya tentang kebiasaan Michel jika mengantuk..
"Michel mengantuk sayang?" Raisya berbicara lembut sambil mengusap kepalanya.
Michel mengangguk.
"Biar sama saya saja bu Raisya." Babysitter nya langsung mau menggendong Michel. Tapi tangan Michel mengibas.
"Sudahlah Sus.. biar saya pangku dulu! Nanti kalau sudah tidur bisa dipindahkan. Kasian kayanya Michel kelelahan." Raisya merasa kasihan pada Michel, anak kecil yang harusnya tinggal di rumah merasakan kehangatan seorang ibu ini malah ikut ke kantor.
"Duh maaf ya bu..jadi merepotkan!" Babysitter nya merasa tidak enak. Michel jadi duduk dipangkuan Raisya lalu tidur miring menyusupkan kepalanya pada Raisya seperti seorang bayi yang sedang menyusui.
"Gak pa-pa.. Mudah-mudahan cepet tidur. Kasian sudah sawat gini." Raisya tersenyum tipis, merasa lucu melihat Michel yang matanya kian meredup.
__ADS_1
"Baik. Apa yang mesti saya bantu bu?" Babysitternya menawarkan bantuan pada Raisya, merasa tugasnya sudah dibantu Raisya.
"Tolong ambilkan saya minum sus!"He he saya haus. Maaf ya!" Raisya yang sejak rapat melupakan minum. Kini tenggorokannya terasa kering.
"Oh iya baik bu. Mau air putih atau apa bu?" Dia menanyakan air minum yang Raisya inginkan.
"Air putih dingin. Bisa ambil di pantry!"
"Oh baik bu." Dia segera berlalu membawakan air minum buat Raisya.
"Terima kasih!" Raisya mengucapkan terimakasih begitu air putih disodorkan.
"Sama-sama." jawabnya dengan membungkuk.
Raisya meneguk air putih itu sampai habis setengah gelas. Lalu kembali melihat komputer sambil mengetikkan pekerjaan dengan sebelah tangan.
Babysitter duduk di samping Raisya, tak enak jika duduk berjauhan, takut ketahuan majikannya. Bahwa dia telah memberikan tugasnya pada orang lain.
kring
kring
kring
Suara pesawat telepon kantor menyala ada panggilan di kubikel Raisya. Raisya segera mengangkatnya.
"Halo beb."
"Iya ada apa yang?"
"Mmmhh. Maaf Sya.. barusan aku dapet telepon dari ibumu. Katanya dia menelpon mu tapi tak aktif. Jadi dia terpaksa menghubungi aku. Tapi aku sudah bilang kok sama ibumu, handphone kamu hilang. Katanya dia mau bicara penting. Kamu sekarang sudah ada handphone kan?" Ratna mengabarkan telepon dari ibunya Raisya.
"Oh iya thanks. Ntar kamu email dong nomor ibu aku sama nomor kamu! Biar aku save."
"Iya. Eh beb.. ntar pulang bareng ya!" Ratna mengajak pulang bareng.
"Iya. Ntar aku kabari ya Rat." Jawab Raisya yang belum bisa memberikan keputusan.
"Iya. Aku tutup dulu ya!" Ratna meminta izin mengakhiri pembicaraannya.
"Oke." Telepon pun terputus. Raisya menyimpan gagang teleponnya kembali pada pesawatnya.
"Bu sepertinya Michel sudah tidur. Biar saya pindahkan saja ke ruangan pak Nathan. Di sana ada kasur untuk istirahat, bisa dipakai Michel." Babysitter Michel sudah diberi tahu sejak awal. Jika Michel mengantuk bisa istirahat di ruangan khusus Nathan.
__ADS_1
"Oh begitu ya Sus. Tapi bagaimana kalau nanti bangun, terus Michel ngamuk?" Raisya yang punya pengalaman mengasuh adiknya tahu kebiasaan anak kecil kalau baru tidur langsung dipangku orang asing dia akan menangis.
"Iya sih. Jadi gimana ya?" Dia terlihat bingung. Kalau meminta pak Nathan untuk menggendongnya itu sesuatu yang akan mempermalukan dirinya. Apalagi sikap Nathan agak kasar jika sudah bicara.
"Udah suster bantuin saya aja! Bukain pintu! Biar saya gendong ke sana."
"Aduh bu.. saya nanti dimarahin pak Nathan bagaimana?" Dia tambah bingung.
"Suster kalau pesan pak Nathan tadi kaya gitu. Ya udah ikutin aja! Daripada nanti kalau Michel ditidurin di sofa malah ngamuk disini, gimana suster mau dimarahin?" Terang Raisya.
"Iya sih bu." Dia setuju dengan pemikiran Raisya.
"Ya udah saya antar ke sana! Saya juga ada perlu sama teman saya di sana." Raisya berdiri menggendong Michel membawanya ke lantai 25.
Tok
Tok
Tok
Pintu tak lama terbuka.
"Assalamu'alaikum." Raisya mengucapkan salam. Orang yang di dalam ruangan itu menatap ke arah pintu.
"Waalaikumsalam. Raisya..." Irwan yang mejanya lebih dekat ke arah pintu langsung spontan berdiri lalu mendekati Raisya yang sedang menggendong Michel.
"Sstt. Nanti bangun." Raisya mendesis.
"Sebelah sini bu Raisya!" Reza langsung mengarahkan Raisya ke sebuah ruangan. Lalu Raisya pelan-pelan membaringkan Michel di kasur.
"Maaf saya langsung tinggal pergi!"
"Baik."
Raisya segera keluar dari dalam ruangan.
"Beb.. tunggu!" Ratna langsung mengikuti Raisya.
"Eh iya gue juga ada perlu. Mana nomornya?"
"Nih! Ratna langsung memberikan handphonenya.
"Kamu mau balik ke Bandung Sya?" Tanya Ratna.
__ADS_1
nih ada novel temen aku juga.. yuk kenalan dengan novel beliau... ☺