Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
VC obat tidur


__ADS_3

Ini malam pertama dia jauh dari Michel. Biasanya ke mana-mana Michel tak pernah ketinggalan. Dia lebih tenang membawa anak itu walau harus repot. Mirip emak-emak yang selalu dikintil anak-anaknya kemanapun pergi.


Bantal hotel sudah di bolak-balik beberapa kali mirip gorengan di atas wajan. Nathan mencari sesuatu yang nyaman agar bisa memejamkan matanya untuk beristirahat.


"Ah..kenapa menyiksa begini." Keluh Nathan merasakan penderitaan yang tak bisa tidur.


"Apa aku harus menelponnya?" Terbersit untuk menelpon Raisya untuk sekadar menanyakan Michel.


tut


tut


tut


Suara handphone Raisya tak aktif.


"Ihh.. giliran perlu susah dihubungi." Keluh Nathan yang beberapa kali menekan nomor Raisya tapi terdengar aktif.


Terpaksa dia menghubungi Ina untuk menanyakan kabar Michel.


"Halo pak Nathan." Suara Ina menjawab dari balik telepon.


"Ina bagaimana kabar Michel?"


"Baik Pak Nathan. Sekarang sudah tidur. Demamnya juga sudah turun." Ina mengabarkan Michel.


"Raisya mana? Aku telepon tak aktif." Suaranya terdengar kesal.


"Bu Raisya sudah tidur bersama Michel pak. Mungkin kelelahan. Tadi pulang dari kantor jam enam langsung kesini menemani Michel sambil mengerjakan pekerjaannya. Setelah Itu Michel meminta bu Raisya menemaninya tidur." Laporan Ina seperti pembawa berita. Lengkap dan jelas. Takut pendengar kecewa dan mengamuk.


"Coba handphone kamu dekatkan pada mereka! Aku ingin melihatnya." Nathan menyuruh Ina mendekatkan kameranya ke arah Michel dan Ray Raisya yang sedang tidur satu ranjang.


Ina tanpa penolakan langsung mendekatkan kamera handphonenya pada perempuan beda umur yang sudah terlelap satu ranjang sambil berpelukan.


Nathan mengamati detail dua perempuan yang dilihatnya dari balik kamera handphone Ina. Tanpa sadar kedua ujung bibirnya terangkat ke atas, tersenyum.

__ADS_1


"Ina.. simpan handphone kamu di tempat yang aku bisa melihat mereka! Kamu boleh tidur setelah itu!" Nathan menginterupsi untuk menyimpan handphone Ina untuk live melihat keduanya yang sedang terlelap tidur.


Aneh.. mau berapa lama pak Nathan mengamati mereka? Kaya kurang kerjaan!


Rutuk Ina dalam hati.


"Baik pak! Saya akan carikan dulu posisi biar bapak bisa melihat keduanya jelas." Ina mencari-cari alat untuk membantu handphonenya bisa ditempatkan di satu posisi yang bisa melihat keduanya sesuai permintaan majikannya. Ya tepatnya majikan aneh.


Aneh, karena sikapnya tidak normal seperti yang lainnya. Sebentar baik.. sebentar emosi. Tapi kebanyakannya memerintah dan tak mau perintahnya dibantah.


Ina menemukan ide untuk menyimpan handphone di atas tumpukan bantal kursi lalu dicapit oleh klip yang dibawa Raisya untuk mencapit laporan yang sedang dikerjakannya.


"Wah.. selesai." Ucap Ina lega.


"Bagaimana pak Nathan bisa melihat jelas?" Tanya Ina memastikan majikannya yang aneh itu puas dengan idenya.


"Cukup. Kamu tidur sana! Biar nanti aku matikan handphonenya jika aku sudah puas melihat mereka." Kembali memerintah Ina untuk menjauh dan tidur.


"Baik Pak Nathan. Selamat malam." Ucap Ina sambil berjalan ke arah sofa untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terpotong.


"Dia cantik." Hatinya jujur memindai Raisya yang selama ini sering dihinanya. Tanpa terasa Nathan pun mengantuk dan tertidur. Handphonenya tetap menyala bahkan dia pun lupa dengan janjinya pada Ina untuk mematikannya jika sudah puas. Akhirnya batre handphonenya pun mati otomatis karena terus live tanpa berhenti mengamati orang yang sedang tidur.


Keesokan harinya Raisya terbangun untuk shalat subuh.


"Apa ini?" Raisya agak heran melihat ada handphone yang dicapitkan pada sebuah bantal.


Raisya membuka capitan itu lalu membolak-balikan handphone itu. "Eh mati. Ngapain handphone ini ditaruj disini seperti mesum saja mengintip orang tidur." Gumam Raisya sambil turun dari atas ranjang untuk ke kamar mandi.


Setelah shalat subuh, Raisya kembali membuka mushaf lalu membaca beberapa ayat dengan merdu. Suaranya yang mengalun syahdu membangun Ina juga Michel.


Michel mengerjap-ngerjap matanya menatap Raisya damai. Dia ikut menikmati suara indah Raisya tanpa melepaskan tatapannya dari Raisya. Michel tak berani mengganggu Raisya yang sedang membaca Al-Quran.


Setelah selesai dengan tilawah subuh Raisya melipat mukena dan menyimpan dalam lemari yanga ada di ruangan itu.


"Eh.. anak cantik sudah bangun!" Raisya tersenyum melihat Michel yang sedang menatapnya sambil tidur miring.

__ADS_1


Michel hanya mengangguk.


"Ayo mau ke kamar mandi?" Raisya menghampiri Michel dan mendekatkan wajahnya pada anak lucu nan cantik itu. Entahlah karena kedekatan akhir-akhir ini dengan Michel, sedikit demi sedikit tumbuh rasa sayang pada hati Raisya untuk menyayangi Michel tanpa paksaan. Walaupun hatinya sering kesal marah pada Nathan selaku ayahnya Michel.


"Michel mengangguk.


Raisya menempelkan hidungnya pada pipi Michel sepertinya gemas. Lalu menguyel-nguyel wajah Michel seperti bayi.


"Ih geli bunda.. geli." Michel terkekeh merasakan geli telah digoda oleh Raisya dengan sentuhan di wajahnya.


"Ih anak siapa bau acem begini?" Raisya mengendus leher Michel dan menggelitik pinggangnya.


"Ampun bunda.. geli.. ampun.. bunda." Keakraban keduanya rupanya menyita perhatian Ina. Dia tersenyum lalu menghampiri keduanya.


"Bu Raisya biar saya saja yang membawa Michel ke kamar mandi!" Ina langsung mengangkat tubuh Michel dan membawanya ke kamar mandi untuk membuang hajat juga membersihkan muka dan menggosok giginya.


Tak lama kemudian Ina membawa Michel ke luar dan menggantikan baju Michel dengan baju bersih.


"Bunda mau mandi dulu ya! Nanti kita sarapan bersama." Ajak Raisya pada Michel. Dia mengangguk setuju.


"Eh.. mbak Ina, tadi saya melihat handphone dicapitkan ke bantal. Apa yang mbak Ina lakukan?" Raisya penasaran dengan handphone yang tadi dia lihat sewaktu bangun.


"Oh.. iya. Tadi malam Pak Nathan ingin melihat Michel. Saya sudah tak kuat ngantuk. Jadi saya taruh saja disitu agar tak harus dipegang saya bu." Raisya memberi alasan pada Raisya yang bisa diterima Raisya. Dia khawatir Nathan akan menyuruhnya kembali nanti malam. Apa jadinya kalau Raisya nanti marah pada Ina. Dia tak mau keduanya jadi salah paham.


"Ohh.. nanti kalau Pak Nathan mau VC bangunkan saya ya mbak. Biar saya pindah dulu tidurnya." Benar saja Raisya merasa tidak nyaman dengan VC yang dilakukan Nathan tanpa sepengetahuan dirinya.


"Baik bu. Saya mohon maaf." Ina meminta maaf atas ketidak sopanannya.


Setelah sarapan pagi Raisya berpamitan pada Michel untuk pergi bekerja. Raisya mencium pipi gembul Michel sebagai tanda perpisahannya. Anak itu nampak bahagia mendapatkan perhatian Raisya.


Sopir pribadi Nathan langsung mengantarkan Raisya ke kantor Beny.


"Lah.. neng cantik ini kemana kemarin?" Rio yang sudah ada di kantor lebih dulu menyapa Raisya.


"He he maaf bang. Aku tidak pamit."

__ADS_1


__ADS_2