
Tertera nama Raisya di pintu ruangan pasien. Nathan melihat dari kaca yang ada di balik pintu. Ruangannya gelap, hanya lampu temaram saja yang terlihat menyala di sekitar atas ranjang pasien.
Pelan-pelan Nathan menggeser pintu ruangan Raisya, agar tidak terdengar penghuninya. Malam begitu larut, mereka asik tidur terlelap dalam mimpinya.
Nathan berjalan perlahan mengendap-endap mendekati ranjang Raisya. Dilihatnya wajah Raisya yang sedang tertidur dengan tenang. Mata Nathan menilik semua bagian tubuh Raisya dari atas sampai bawah. Dia sekarang sedang mengamati tubuh Raisya dengan seksama melihat dengan jelas bagian mana saja yang terlihat terluka akibat perbuatannya.
Entah apa yang mendorong pikiran Nathan sehingga jarinya mengelus halus pipi Raisya tanpa izin. Raisya yang sedang tertidur lelap pun merasakan ada gerakan halus di sekitar wajahnya. Dia mengerjapkan matanya yang masih terasa lengket. Perlahan matanya terbuka.
Raisya kaget setengah mati melihat sosok bayangan yang ada di depannya. Nathan yang langsung sadar Raisya terbangun langsung membekap mulutnya agar tidak berteriak karena kaget.
Mata Raisya langsung melebar. Dia sungguh ketakutan. Dadanya terlihat naik turun menahan rasa takut yang menyerangnya. Apalagi perbuatan Nathan yang telah menganiaya Raisya. Membuat trauma Raisya muncul tak bisa dikendalikan.
Bibir Nathan mendekati telinga Raisya. Mata Raisya mengikuti arah Nathan.
"Jangan berteriak! Aku hanya ingin memastikan dirimu baik-baik saja. Dari dekat kamu sangat menggoda!" Sontak membuat Raisya meronta walau tubuhnya masih sakit. Nathan hanya menyeringai licik melihat perubahan Raisya yang sangat ketakutan.
"Besok Michel akan menemuimu. Aku harap kamu harus mau. Kalau tidak!" Nathan membuka bekapan mulutnya tanpa disangka bibirnya langsung menyentuh bibir Raisya. Dia langsung mengangkat lagi sentuhan itu lalu meletakkan ujung telunjuknya di bibir Raisya.
"Sssst! Nathan menoleh ke arah sofa dimana Jacky sedang tidur terlelap.
"Aku pergi dulu! Ingat jangan menghindar atau kau mau lebih dari sekedar ciuman?" Raisya menggelengkan kepalanya dengan sejuta ketakutan yang akan menimpa dirinya. Dia tak mampu berteriak atau pun menjerit. Karena tahu Nathan orangnya nekad. Bahkan untuk membunuhnya pun sangat mudah dia lakukan apalagi Raisya sangat lemah. Bisa saja dia mencekiknya. Tapi hal itu tidak dilakukan Nathan karena Raisya menurut dengan apa yang dia inginkan.
Nathan berjalan perlahan sambil menjinjitkan kakinya meninggalkan ranjang Raisya. Lalu pelan-pelan menggeser pintu ruangan kembali menutupnya.
Masih dalam keadaan kaget dan ketakutan Raisya menatap punggung Nathan sampai menghilang dari ruangannya.
"Dasar laki-laki gila! Sudah punya dosa bukannya meminta maaf malah mengancam. Berani-beraninya dia mencuri ciuman di saat aku lemah." Raisya kesal beberapa kali dia menggosok-gosok bibirnya yang tidak ridlo disentuh sembarangan. Apalagi selama ini Raisya belum pernah melakukannya.
Nathan kembali ke ruangan Michel. Anaknya masih tidur terlelap. Dia memilih membaringkan tubuhnya di sofa untuk melanjutkan istirahat malamnya setelah misi nekadnya menemui Raisya selesai. Dia merasa beruntung ketika masuk ke ruangan Raisya tidak ketahuan Jacky. Apa jadinya jika Jacky memergokinya. Bisa habis Nathan dibuat Jacky.
__ADS_1
Nathan tak lantas bisa memejamkan matanya. Matanya masih terbuka melamunkan apa yang baru saja dibuatnya. Nathan tanpa sadar mengelus bibirnya yang baru saja menyentuh Raisya.
"Bibirnya manis." Nathan tak sadar mengucapkan kata-kata itu. Sudah hampir 4 Tahun dia tak menyentuh wanita setelah accident dulu dia menyentuh Sherly dengan paksa yang menyebabkan lahirnya Michel. Nathan terbilang nekad memperkosa Sherly padahal dia sudah banyak ditolong oleh Sherly.
Waktu berjalan dengan cepat pagi sudah datang dan orang-orang sudah sibuk dengan aktivitas. pagi.
Jacky mengeliat dari tidurnya.
"Ra.. kamu sudah bangun?" Dia melihat Raisya sudah duduk di atas ranjang pasien.
"Sudah dari subuh."
"Aku mandi dulu ya Ra. Mau ngantor." Jacky berjalan menuju kamar mandi menyiapkan diri untuk pergi kerja.
"Assalamu'alaikum." Suara Ratna terdengar jelas. Dia melongok dari balik pintu.
"Halo. Raisya.. " Hendrik muncul di belakang Ratna.
"Hei.. kak Hendrik.. " Raisya tersenyum senang melihat wajah kakaknya Ratna datang. Mereka sudah akrab sejak kuliah di Bandung jadi sudah tidak canggung jika bertemu.
"Apa kabar sayang? Wah wajah cantiknya jadi begini? Apa perlu operasi plastik?" Kak Hendrik duduk di samping ranjang pasien sambil mengamati keadaan Raisya.
"Hei.. aku bawakan makanan masakan mamah lho buatmu. Salam katanya dari mama sama papa buat kamu juga kirim doa biar cepat sembuh." Ratna membuka wadah makanan dan memberikan pada Raisya.
"Sini sama kakak suapin! Sudah lama gak menyuapi anak bocil ini!" Hendri tanpa sungkan menyuapi Raisya dengan tangannya.
Klek.
Suara pintu kamar mandi terbuka Jacky sudah rapih dengan penampilan terbaiknya yang siap berangkat ke kantor. Matanya langsung tertuju pada ranjang pasien. Hatinya tiba-tiba seperti panas melihat adegan mesra antara Hendrik dan Raisya.
__ADS_1
Jacky mendekati Raisya dengan wajah tak senang dan menatap Hendrik dengan mata menusuk tajam.
Ratna yang melihat pergerakan Jacky yang salah paham langsung menghampiri keduanya.
"Jack kenalin.. ini kakak gue Hendrik. Kak Hendrik kenalin..ini Jacky..teman sekantornya Raisya." Ratna melihat Hendrik dan Jacky silih berganti. Anehnya kedua mata laki-laki itu seperti saling menyerang.
"Ya ampun.. Hei..kalian kenapa?" Ratna menepuk bahu bahu Hendrik yang terlihat diam saja tidak merespon apa yang Ratna lakukan.
"Kakak.. Jacky..kalian gak mau bersalaman?" Ratna membentak keduanya, yang hanya saling menatap dengan tatapan tak ramah.
"Kenalin gue Hendrik, pacarnya Raisya!" Hendrik menyodorkan tangannya ke arah Jacky.
Kenalin gue Jacky, calon suaminya Raisya!" Jacky tak kalah jawaban dengan Hendrik yang berpura-pura mengaku pacarnya Raisya.
Kedua tangan mereka rupanya saling mengadu otot dan kekuatan. Saling merekat dengan tenaga dan amarahnya masing-masing.
Ratna yang melihat keduanya yang tak terlihat aman, kalau dibiarkan mungkin sebentar lagi akan adu jotos, langsung menepuk kedua tangan yang sedang bergulat dalam eratan.
"Hei.. kalian mau salaman atau adu panco sih?" Ratna silih berganti melihat mereka berdua.
"Lepasin atau gue panggil security kesini!" Ancam Ratna pada keduanya.
Akhirnya kedua telapak tangan itu saling melepaskan dengan menyimpan permusuhan dalam dada masing-masing.
"Wah kak Hendrik tangannya merah banget! Kaget Raisya melihat telapak tangan Hendrik merah bekas adu kekuatan dengan Jacky.
" Gak pa-pa sayang.. Ayo makan lagi! Kakak suapin!" Hendrik malah sengaja berkata seperti itu membuat hati Jacky tambah semakin panas.
"Sudah kakak.. Jangan bikin rusuh! Nanti gak nyaman semuanya. Biar aku yang suapin Raisya deh!" Ratna langsung merebut wadah makanan dari Hendrik sambil cemberut, kesal.
__ADS_1