
"Bu Raisya.. tolong dicek emailnya! Berberapa file sudah saya kirimkan." Baron menghubungi Raisya untuk memeriksa pekerjaannya.
Saat ini Baron sedang bersama dengan Jason, dia telah mengirimkan beberapa file penting mengenai pembelian barang dari importir.
"Biak pak!" Jawab Raisya patuh.
Baron pun menutup teleponnya, tak lupa dia pun menghubungi asistennya yang berada di Jakarta untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan duplikasi surat dokumen dan manipulasi angka-angka penjualan selama ini. Kalau benar, ini adalah penggelapan besar-besaran yang dilakukan oknum, yang selama ini membuat perusahaan merugi.
"Aku minta tolong sama kalian berdua, untuk mencari orang yang bisa dipercaya dan memberhentikan siapa saja yang menurut kalian orang yang ada di balik semua ini. Karena ini bukan pekerjaan satu dua orang saja. Aku kira ini melibatkan banyak orang dan sudah dilakukan bertahun-tahun. Dan aku sendiri butuh kerjasama agar kasus ini bisa ditemukan pelaku intinya. Selama ini aku kehilangan jejak. Setiap pemeriksaan selalu saja nihil." Baron berbicara pada Ramos juga Jason.
"Baik, sudah aku usahakan setiap pembelian dan produksi di tambang akan aku awasi langsung. Dan aku juga sudah mengganti beberapa orang yang kira-kira diduga mereka bekerjasama dengan pelaku." Jason sudah mengawasi beberapa pekerja dan mencari orang yang kira-kira dipercaya untuk memperbaiki semua kekacauan perusahaan.
"Baik. Semoga pekerjaan kalian dimudahkan!" Baron berharap Jason dan Ramos bisa membantu banyak atas kasus yang sedang dialami perusahaan.
"Baik pak." Jawab keduanya kompak.
Ketiga orang itupun pergi ke sebuah restoran yang sudah dipesan untuk mereka makan siang. Meski tidak semewah di kota Jakarta, tapi menu di restoran itu cukup enak apalagi menampilkan menu khas daerah yang diolah secara apik dan lezat.
Terlihat Jason mengirimkan pesan pada bi Riri untuk memperhatikan makan siang Raisya. Meski OB di sana sudah menyediakan menu yang sama dengan pegawai, tapi Jason secara khusus menyuruh bi Riri memperhatikan kebutuhan Raisya secara pribadi. Tentu saja Jason mengeluat koceknya sendiri untuk pelayanan ini. Dia tak mau terlibat dengan uang perusahaan apalagi untuk hal-hal seperti itu.
"Bang weekend sekarang abang mau liburan ke laut gak?" Ramos bertanya pada Baron. Ramos tahu kesukaan sepupunya itu jika sedang datang ke Kotabaru.
__ADS_1
"Boleh. Aku sudah lama tidak berselancar juga diving." Baron menyambut ajakan Ramos untuk hiburan. Selain bekerja dia pun ingin menikmati keindahan laut di pulau itu yang masih alami. Dulu sewaktu masih ada mendiang istrinya dia selalu melakukan hobinya bersama. Tapi semenjak istrinya meninggal dia jarang datang ke Kotabaru. Kalaupun datang dia hanya tinggal sebentar untuk bekerja dan cepat kembali pulang ke Jakarta. Dia tak mau meninggalkan anak-anaknya terlalu lama. Tidak seperti sekarang, sudah satu minggu ini Baron dan Raisya tinggal di Kotabaru untuk menyelesaikan masalah perusahaan.
"Baiklah.. besok aku siapkan. Apa bu Raisya akan diajak juga?" Tanya Ramos penasaran.
"Mmm... " Baron menggaruk tengkuknya ragu. Dia tidak tahu apakah Raisya menyukai laut atau tidak. Jason dan Ramos menatap Baron menunggu jawaban.
"Nanti akan kucoba mengajaknya. Aku belum tahu apa dia suka berenang atau tidak." Jawab Baron kembali.
"Yah.. kalau dia butuh teman akan kuajak beberapa kenalan agar kita ada pasangannya juga." Ramos memberi ide. Tapi idenya itu lebih ke ke ide gesreknya ketimbang solusi.
"Ah.. tidak.. tidak. Aku tidak setuju dengan ide itu!" Baron rupanya tidak ingin ada perempuan lain yang tentu saja nantinya membuat liburannya agak runyam dengan kehadiran wanita-wanita penghibur. Meski sudah lama dia tidak berhubungan dengan yang namanya wanita, Baron tak ingin merusak nama baiknya.
"Saya juga setuju. Lebih baik hiburannya privasi saja!" Jason setuju dengan Baron.
Jason dan Baron langsung menajamkan pandangan pada Ramos yang bicara asal. Keduanya sudah menganggap bicara Ramos kurang sopan dengan menyebut Raisya sebagai rebutan.
"Kamu.. sebaiknya cari pasangan yang bener! Kalau tidak aku laporkan sama mamih kamu agar tahun ini juga kamu dijodohkan!" Ancam Baron pada Ramos.
"Wah.. dengan senang hati bang. Aku sih maunya sama bu Raisya. Dia kelihatannya cocok sama aku bang. Abang bisa kan jodohin aku sama dia?" Sikap Ramos malah menjadi. Dia menjadikan ancaman Baron sebagai kesempatan baginya untuk memiliki Raisya sebagai istri.
"Jangan ngaco kamu!" Baron terlihat marah melihat tingkah Ramos. Entah apa yang sedang ada dipikiran Baron ketika dirinya mendengar sepupunya itu malah naksir Raisya.
__ADS_1
"Ya ngaco bang. Dia single aku juga single. Aku sudah bosan main, dan sekarang mau serius. Aku lihat dia juga perempuan baik." Ramos membela diri. Dia terang-terangan mengungkapkan isi hatinya.
"Pokoknya cari yang lain saja! Kaya tidak ada lagi perempuan." Baron tetap menolak keinginan Ramos.
Jason yang ada diantara mereka hanya terdiam. Sedang menilai dan mengamati.
"Abang kenapa sih? Apa abang berencana menikahinya?" Pertanyaan Ramos seperti menohok Baron. Ramos tidak bisa menerima begitu saja usul Baron. Dia ingin bersaing mendapatkan hati Raisya.
"Sudahlah! Kita makan! Jangan bahas lagi masalah ini!" Baron tak mau masalah pribadi nantinya menganggu masalah perusahaan.
"Kenapa bang?" Ramos penasaran kenapa sepupunya itu malah terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Aku ingin kalian serius pada pekerjaan! Aku tak ingin kehilangan Raisya dan nantinya masalah perusahaan malah mangkrak gara-gara urusan percintaan. Maka dari itu cari saja perempuan lain selain Raisya jika kamu ingin menikah. Aku masih membutuhkan tenaga dia juga pikirannya untuk perusahaan. Jadi jangan sekali-kali kamu mengganggunya saat ini!" Jawab Baron mempertegas tujuannya membawa Raisya.
"Ohh... dikira abang naksir juga. Kalau begitu aku akan menunggunya sampai masalah perusahaan selesai." Ramos senang melihat lampu hijau yang memberi kesempatan lebar pada dirinya untuk mendekati Raisya.
"Hei.. ingat! Kamu mending cari perempuan lain saja!" Lagi-lagi Baron memperingati Ramos.
"Lah.. abang.. maunya abang sih apa? Aku heran. Apa bu Raisya akan disimpan untuk abang miliki maksudnya?" Ramos malah ngotot.
"Nah.. yang kaya gini yang aku gak mau. Gara-gara bu Raisya kita malah jadi ribut. Kamu tidak tahu siapa bu Raisya sebenarnya. Makanya aku peringatkan dari sekarang, jangan dekati dia atau kamu akan berakhir di penjara atau nyawa kamu akan melayang." Baron yang tahu kedudukan keluarga mantan suaminya juga sikap Jacky yang arogan, mengkhawatirkan Ramos ke depannya.
__ADS_1
"Memangnya dia itu siapa? Apa dia lahir dari keluarga kaya? Dan keluarga kita tidak sebanding dengannya? Lalu kenapa kalau kaya dia malah bekerja pada kita?" Ramos yang tak mudah dibodohi terus saja penasaran.
"Ramos, Aku minta serius pada pekerjaan! Jangan sampai aku harus pusing dengan urusan yang seperti ini!" Baron kesal melihat sepupunya itu susah diberi saran