
Raisya berjalan meninggalkan Nathan dengan sejuta sakit dalam dadanya. Sesak hatinya mendengar kejujuran dari mulut Nathan. Ya... isi pembicaraannya ibarat buah simalakama. Maju salah mundur pun patah.
Namanya juga manusia. Kekuatan hati Raisya bukan baja, bahkan tubuhnya pun bukan robot. Setelah amnesia nya sembuh malah hatinya kian sakit. Bertambah yang diingat bertambah pula rasa sakitnya.
"Aku.. harus bagaimana?" Raisya berbicara sendiri sambil menangis. Dia menyusuri jalanan di sepanjang pantai seolah sedang berbicara pada alam mengeluhkan rasa sakitnya.
"Kenapa juga dia membiarkan aku hidup, kalau hanya sebatas untuk keegoisannya." Raisya terus saja bicara mengeluhkan apa yang ada dalam hatinya.
Ingin sekali dia berteriak pada ombak yang sedang meneriakinya.
"Aku... lelah.... " Suatu teriakan itu menghenyakkan seseorang yang sedang duduk termenung di pinggir pantai.
Dia melirik perempuan yang sedang berjalan diantara bebatuan yang menggunung di sepanjang pinggiran pantai untuk menahan hantaman ombak agar tidak sampai ke pinggiran pantai berpasir. Hanya punggungnya saja yang bisa dilihatnya. Matanya terus saja menatap tidak terlepas dari gerak-gerik perempuan yang sedang berjalan dengan langkah gontai itu. Bahunya terlihat naik turun menahan isak tangis yang dikeluarkannya.
Raisya menghentikan langkahnya begitu suara handphonenya berdering nyaring. Lalu membuka handphonenya karena satu panggilan masuk ke layar handphone. Nomor asing tertera di layar handphonenya. Dia menatap nomor itu ragu untuk mengangkat. Jadi jempolnya perlahan menggeser tanda hijau ke atas.
Raisya menempelkan benda pipih itu tanpa bersuara hanya telinganya saja yang menguping. Sesekali dia menyeka air mata yang masih belum berhenti beejatuhan.
"Hai cantik.. kamu bisa menerima pesanku kan? Sebenarnya aku..terpesona dengan kecantikanmu sayang..jika kamu kesepian, kamu bisa lari padaku. Aku akan rela memberikan dadaku untuk menghangatkannya. Karena aku sayang padamu..Ada suatu kejutan untukmu sayang.. " Suara laki-laki asing berbicara di seberang telepon seperti sedang melecehkannya.
Raisya tak menjawabnya. Dia hanya menutup panggilan itu tanpa sepatah katapun keluar darinya.
tlong
tlong
Sebuah notifikasi pesan masuk. Karena masih aktif menatap layar itu, Raisya membuka pesan yang telah dikirimkan oleh si pengirim dengan nomor asingnya.
Degg
Matanya menatap layar itu dengan tidak berkedip. Dilihatnya sampai habis foto-foto. Dadanya bergemuruh merasa jijik melihat sepasang manusia yang tak memakai busana yang tak lain suaminya sendiri dan istri dari adik iparnya. "Sungguh kejam kamu Nathan! Apa pantas kamu menerima kebaikanku?" Dengan bibir bergetar dia mengucapkan kalimat itu. Air mata yang tadinya sudah menyurut pun kembali berjatuhan seperti hujan deras. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan apa. yang dilihatnya.
Satu pesan belum dibuka. Raisya menekan tombol untuk membuka kiriman sebuah video. Layar berputar menayangkan apa yang direkamnya. Ya tontonan film blue gratis sedang diputar oleh mesin handphone menyuguhkan adegan yang tak pantas untuk dilihatnya. Kalau kemarin dia masih menahan diri untuk tidak memergokinya kini mau tak mau adegan itu harus ditatap di depan matanya.
"Hahhhhh.... dasar psikopat gila...
__ADS_1
kamu tidak pantas menerima kebaikanku Nathan." Raisya berteriak kencang sekali bahkan suara deburan ombak pun seolah berhenti karena terkejut mendengar teriakan yang dikeluarkan oleh Raisya.
"Nathan???" Laki-laki yang sedari tadi memperhatikannya tidak kalah terkejut ketika perempuan yang sedang menghadap ke memunggunginya.
"Raisya.... " Dia tak kalah kencangnya meneriakkan nama Raisya lalu berlari diantara bebatuan dan memeluknya dari belakang.
Raisya yang terkejut spontan memberikan perlawanan pada orang yang di belakangnya. Tapi.. karena keseimbangannya tidak kuat akhirnya
Biurrrrr.....
Kedua orang itu jatuh ke laut.
#####
Sejak kepulangannya dari pantai, awalnya Nathan merasa tenang karena telah mengirimkan pesan pada Raisya untuk pulang memakai taxi.
Karena video ancaman yang dikirimkan seseorang Nathan mencari Sherly ke tempat yang dia keyahui. Dia menduga bahwa dalang dibalik semua itu adalah dirinya. Tapi.. setelah beberapa kali menghubungi, handphonenya tidak aktif sama sekali.
Nathan kembali ke rumah dengan membawa kekesalan.
Brukkk..
Pintu kamarnya dibanting, membuat bi Siti yang ada di dapur pun terhenyak.
"Kenapa sih pulang-pulang malah marah-maraha? Apa bertengkar lagi sama nyonya?" Bi Siti bicara dalam hati. Kedamaian dalam rumah ini seperti mahal.
"Oh.. ya ampun... nyonya kok. tidak bareng sama pak. Nathan? Apa dia meninggalkannya? Ishh.. suami macam apa sih dia? Semua perempuan pastinya takut dapat suami sakit jiwa kaya gitu. Hhhmm... kasihan. nyonya." Bi Siti ikut sedih memikirkan nasib Raisya. Dia menghela nafas panjang.
Sementara itu Nathan membaringkan tubuhnya di kasur. Dia kembali membuka layar handphonenya. Dia membuka pesan yang tadi dikirimkannya pada Raisya. Tertera masih centang dua berwarna abu.
"Kemana si bodoh itu pergi? Bikin kesal saja!" Nathan bangkit dari tidurnya lalu ke luar dari kamarnya menuruni anak tangga berjalan menuju kamar Raisya.
Dibukanya kamar itu dia mengedarkan pandangan. Semuanya nampak rapih tanpa ada. penghuninya. Nathan kemudian masuk berjalan ke arah toilet dan melongokan kepalanya melihat isi toilet itu, kosong juga.
"Kemana perempuan itu pergi?" Bisik Nathan yang heran tidak menemukan keberadaan Raisya.
__ADS_1
"Awas saja kalau berani melarikan diri!" Nathan rupanya menumpahkan kekesalannya pada Raisya yang sengaja memperkeruh keadaan.
"Tuan mencari siapa?" Bi Siti membawa segelas air teh manis dingin ke hadapan Nathan yang sedang duduk si sofa ruang keluarga.
"Bi Siti tidak lihat Raisya?" Nathan mendongak melihat bi Siti yang sedang berdiri di samping kursi sofa.
"Kan tadi pergi sama pak. Nathan. Sampai sekarang bi Siti belum melihatnya lagi.' Bi Siti heran, kenapa kok bisa pergi sama-sama pulang berpisah tapi tidak tahu istrinya kemana. Mustahil menghilang kaya sulap.
"Dasar tak tahu diuntung!" Nathan berdiri lalu berjalan keluar masuk ke dalam mobilnya lalu mengemudikan mobilnya kembali ke pantai berniat mencari Raisya.
Dalam dadanya sudah bergemuruh, jika menemukan Raisya, dirinya akan melakukan hukuman. Hatinya sudah dibuat kesal dan sekarang malah harus mengerjai dirinya untuk mencari keberadaannya.
Sampai di pantai hari matahari sudah mulai. tenggelam. Dia mencari Raisya kesana kemari sambil memanggil-mangil namanya.
Setelah tak berhasil menemukannya dia kembali lagi ke rumahnya.
Keadaan masih sama. Raisya belum pulang entah kemana perginya.
Nathan duduk disofa, pikirannya sudah dipenuhi amarah yang memuncak.
Hari mulai malam. Waktu menujukkan jam 11 malam.
Ceklek
Pintu terdengar dibuka. Sebuah bayangan masuk ke dalam rumah.
Grepp..
Nathan menangkap tubuh Raisya.
"Darimana kamu?" Nathan menatap tajam dalam kegelapan lampu.
Raisya terdiam.
"Jawab!" Nathan berteriak sampai memekakkan telinga Raisya.
__ADS_1
Raisya tak mempedulikan lagi sikap Nathan. Hatinya seperti mati rasa menghadapi sikap arogan Nathan.