
"Iya sayang.. ayo bobo! Bunda udah ngantuk." Raisya tidak ingin banyak bicara. Malam ini badannya tiba-tiba saja merasa letih.
"Iy.. Iya." Michel langsung naik ke kasur dan berbaring di samping Raisya sambil menatap wajah Raisya yang matanya sudah memejam.
"Kenapa liatin bunda?" Raisya meski sudah memejamkan matanya merasakan bahwa dirinya sedang ditatap Michel.
"Aku ingin benar-benar jadi anak bunda." Bibir merah Michel tiba-tiba mengatakan itu pada Raisya. Ada perasaan yang tidak tenang dalam hatinya karena dirinya tidak lahir dari rahim dari perempuan yang ada di depannya. Michel begitu mencintai Raisya sampai-sampai ingin menjadi anak kandungnya.
"Ayo masuk ke perut bunda lagi!" Ray memeluk badan Michel yang sudah tidak kecil lagi lalu menekan-nekan badannya ke badan dirinya.
"Ih.. geli bunda." Michel merasakan gerakan tangan Raisya di punggungnya begitu menggelitik.
"Abis udah segede gini juga masih manja kaya adiknya Arsel." Raisya masih menutup matanya.
"Bunda beneran pengen tidur ya? Padahal ini masih siang lho!" Michel melihat jam dinding masih menunjuk diangka jam 8.
"Iya bunda cape banget. Pengen tidur. Tidur yuk!" Raisya mengajak Michel yang belum mengantuk untuk tidur.
"Ayo." Michel berbaring di samping Raisya
Dia membiarkan Raisya tidur dengan senyaman mungkin. Tak lama kemudian terdengar nafas halus teratur. Raisya sudah tidur terlelap di samping Michel sambil memeluk Michel.
Tangannya meraba halus pipi Raisya. Rasanya damai melihat Raisya ada di sampingnya.
Bunda.. jangan tinggalkan aku! Aku takut sekali. Setelah kematian Daddy bunda satu-satunya milik aku. Kalau bukan pada bunda pada siapa lagi aku harus mendekat. Aku tak mau kehilangan bunda untuk selamanya. Jadi.. jangan pernah pergi darimu bunda..
Tes
Air mata Michel lolos begitu saja. Dia mendekat wajahnya pada Raisya tepatnya di dada Raisya. Rasanya nyaman sekali seperti anak bayi yang menemukan tempat ternyaman nya di dunia. Yaitu pelukan seorang ibu.
Sebelum subuh Raisya sudah terbangun. Dia terbiasa bangun sebelum subuh dan melakukan shalat sunat tahajud dan witir. Dalam setiap doanya dia selalu mengirimkan doa-doa kebaikan untuk kedua orang tuanya, mediang suaminya, juga untuk semua orang yang ada di keluarganya. Di subuh ini Raisya berdoa lebih lama dari biasanya. Dia berdoa untuk kebaikan dirinya dan juga minta dipilihkan yang terbaik jalan terbaik untuk ke depannya. Tak lupa dia melakukan shalat istikharah untuk kemantapan hatinya.
Tak lama kemudian adzan subuh berkumandang lalu Raisya pun menunaikan shalat subuh. Setelah selesai Raisya melanjutkan dengan membaca Al-Quran sampai jam setengah enam pagi.
Setelah ingatannya kembali Raisya kembali menjadi Raisya yang dulu. Raisya yang tekun beribadah. Dia sangat menyesali perbuatannya sewaktu amnesia yang membuka aurat juga mengumbarnya dalam media sosial.
"Bunda.. " Michel melongok dari pintu.
"Iya sayang.. " Raisya menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Bunda beneran gak jadi pulang ke Bandung?" Michel masih juga cemas.
"Iya.. bunda gak bakal jadi pulang. Memangnya kenapa?" Raisya berdiri lalu melipat mukenanya yang baru saja dipakainya.
"Aku nanya aja.. tapi.. boleh gak Michel bunda antar aku ke sekolah?" Michel hari ini sangat posesif sekali.
"Iya.. entar bunda antar. Tapi bunda juga mau pergi ke rumah tante Ratna. Kasian Arsel pengen ketemu om Irwan." Terang Raisya.
"Aku juga mau bunda." Michel merubah rencananya.
"Sekolah kamu bagaimana?" Raisya mengerutkan dahinya.
"Kalau Arsel. sekolah tidak?" Michel malah balik bertanya.
"Ya ampun. Anak bunda.. kok. jadi begini." Raisya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sikap Michel.
"Bunda... please.. aku juga mau ke sana!" Michel merajuk.
"Iya.. kamu sekolah dulu. Nanti bunda jemput lagi kita pulangnya ke sana." Raisya mengalah demi Michel. Sepertinya. Raisya memang tak bisa tegas pada Michel. Apapun kemauannya selalu saja diturutinya.
"Asik.. makasih bunda. Aku mandi dulu." Michel mencium pipi Raisya lalu keluar dari kamarnya.
"Dasar ya.. kalau ada maunya aja langsung cium-cium. Giliran ngambek aja manyunnya gak ketulungan." Raisya menggerutu sendiri.
Setelah selesai mandi dia berdandan untuk siap-siap berangkat. Ditengah dia sedang bercermin Arsel bangun.
"Ma.. mama." Arsel mengucek matanya sambil memanggil-manggil Raisya.
"Apa sayang. Kamu sudah bangun? Mandi yuk!" Raisya mendekati Arsel.
Arsel mengangguk menurut. Raisya menggendong Arsel ke kamar mandi dan memandikannya agar Arsel tidak kesiangan untuk pergi ke sekolah.
Setelah mendandani Arsel, Raisya pun turun ke bawah untuk sarapan pagi.
"Hei.. jagoan papa sudah turun." Jacky menyapa. Arsel dan menyebut dirinya papa.
"Om.. bukan papa Acel!" Wajah lucu Arsel manyun, menolak panggilan Jacky sebagai papa.
"Eh.. sekarang om akan jadi papa Arsel jadi Arsel mulai sekarang harus panggil papa! Ucap Jacky yang percaya diri.
__ADS_1
"Gak mau! Papa Acel.. papa Iwan, bukan om." Tolak Arsel yang sebentar lagi akan mengeluarkan senjatanya, tangisan maut.
"Jacky... aku harap jangan bikin keributan! Nanti sarapannya jadi tak nyaman." Raisya duduk di samping Jacky dan melarang Jacky untuk memaksa Arsel memanggilnya dengan sebutan papa, karena Arsel terlihat seperti akan menangis.
"Oke.. oke.. aku akan sabar." Jacky mengambil roti yang sudah terhidang di meja untuk sarapan.
"Om.. hari ini aku diantar bunda. Jadi gak usah antar jemput aku!" Michel memberitahu Jacky agar tidak mengantarkannya.
"Lho.. padahal om semangat banget lho Chel." Ucap Jacky sambil tersenyum menggoda Michel.
"Jangan lebay!" Michel mencebikan bibirnya melihat sikap Jacky terlalu berlebihan.
"Gak pa-pa lebay asal jangan alay." Ucap Jacky sambil menahan tawanya.
"Ih.. apaan sih!" Michel tidak menyukai banyolan Jacky yang dianggapnya tidak lucu.
"Eh.. kenapa ini pagi-pagi sudah ribut?" Ibunya Jacky menarik kursi lalu duduk di samping Michel.
"Biasa mih.. anak abg. Suka labil gitu!" Jacky menjawab, Lagi-lagi dia menggoda Michel.
"Ih.. om.. ngapain sih ngatain aku labil?" Michel protes dikatain labil.
"Sudah-sudah. Michel cepetan makannya!" Raisya. memperingatkan Michel agar tidak kesiangan.
"Iya bunda. Ini aku sudah beres."
"Ayo berangkat!" Raisya menyudahi sarapannya lalu berpamitan pada semua orang.
Raisya sengaja berangkat lebih pagi agar kemacetannya tidak terlalu parah. Setelah mengantarkan Michel sekarang Raisya sedang menuju sekolah Arsel.
"Arsel... " Teriakan yang sudah dikenalinya langsung terdengar begitu Arsel sampai di parkiran.
"Eh.. Rara.. Riri." Raisya turun dari mobilnya dan mendekati sikembar. Ketiga anak itu langsung asik mengobrol.
"Kalian sama siapa?" Raisya tak melihat Ratna juga Irwan di sekitar si kembar.
"Aku.. Raisya.. "
Deg
__ADS_1
Raisya sungguh terkejut mendengar suaranya.
"Kak Hendrik... "