
POV Nathan
Setelah kejadian itu hidupku suram. Bagaimana tidak, aku harus mengakui apa yang selama ini aku simpan di dalam dada dan dengan egoisnya aku menepis kehadiran dia dalam hatiku, Raisya.
Entahlah, mungkin itu yang bisa aku katakan waktu itu. Tanpa aku sadari aku sering menyakitinya entah dengan kata-kata ataupun dengan tanganku yang kasar. Entah dia ketakutan dia selangkah demi selangkah menghampiri diriku dengan kepasrahan.
Aku tidak mengenali siapa diriku dan apa yang sedang terjadi dengan gejolak emosi ku itu seperti mengalir begitu saja tanpa bisa aku kendalikan.
Setelah kepergian ku satu bulan, aku mempercepat kepulanganku ke Jakarta. Tak lain hanya ingin segera bertemu dengannya. Walau ragaku lelah sekali, aku memilih mampir ke kantornya dahulu. Dan sebelum aku menjemputnya aku memutuskan untuk mengisi perutku yang lumayan lapar. Jadi aku memilih cafe dekat kantor dia berada.
Sosok yang aku ingin lihat segera, ternyata masuk ke dalam cafe. Begitu dia masuk semua mata memandang, mungkin dipikirnya ada artis. Kalau boleh jujur, penampilannya agak aneh. Bukan aneh sih, cuman aku biasa melihatnya sederhana. Tapi lain dengan hari ini, dia memakai make up, juga baju yang dia pakai pun terlihat berkelas. Mirip seorang model.
Dan yang membuat aku marah, kenapa laki-laki itu berani menggandeng pinggangnya. Apakah mereka sedang berkencan? Aku.. tidak menerima hal itu. Kenapa kalau aku menyentuhnya di tidak terima, tapi kalau disentuh orang lain dia tidak terlihat marah. Dan aku tidak mengenali jenis emosi apa yang sedang muncul di tubuhku.
Mataku tak bisa terlepas dari dia. Aku terus mengebor gerak-geriknya dan juga sikapnya dengan laki-laki itu. Hatiku sesak begitu mereka saling melempar senyuman.Mereka bisa tertawa bersama tanpa beban. Tetapi kenapa dia tak bisa begitu denganku? Aku tak menerima diperlakukan begitu, padahal aku juga ingin seperti dia yang ditatap sebagai laki-laki dan diperlakukan lembut sebagaimana seorang pasangan.
Sampai matanya melihat aku yang sedang menyorotinya. Dia terlihat gugup. Aku melihat dia meminta izin pada laki-laki itu dan menghampiri meja dimana tempat aku makan.
__ADS_1
Dia menyapaku. Aku tidak membalasnya. Sebenarnya aku sedikit tenang ketika dia memutuskan untuk beralih mendekatiku. Tapi aku tahu kalau dia tidak begitu tulus, dia terlihat kaku sekali. Bahkan selama aku makan siang, dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Aku merasa kenapa dia tidak bisa seakrab dengan laki-laki itu.
Pikiran burukku mulai muncul. Apakah selama satu bulan ini dia tiap hari seperti itu? Apa yang sudah dilakukan mereka bersama?
Aku tak bisa menerima kalau dia memikirkan laki-laki lain selain diriku. Begitu egoisnya aku saat itu.
Setelah makan aku pergi duluan keluar cafe dan masuk ke dalam mobil. Ternyata dia mengikutiku. Aku ingin dia bersikap layaknya ramah pada laki-laki lain, tidak tegang seperti sekarang ketika berhadapan denagku. Aku terpaksa menyalakan sebuah rokok untuk menyeimbangi gejolak hatiku yang kecewa.
Entah dorongan dari mana, aku nekad men*** di mobil dan dia malah menamparku dan mengatakan 'kurang ajar'
Aku tak bisa menerima dengan perkataan itu. Aku bicara sendiri dalam hati menahan kekesalan dan kemarahan. Benar saja, dia malah menangis.
Puncak kekesalanku tiba, saat dia malah sesenggukan di dalam mobil seolah aku ini orang jahat. Padahal aku sudah berusaha baik, semua konsentrasiku hanya pada dia semata. Terbukti ketika aku membeli semua oleh-oleh terbanyak dan terbaik hanya dia seorang. Dan walaupun badanku capeknya minta ampun aku memilih ingin melihatnya dibandingkan dengan yang lain.
Aku terpaksa ingin membuktikan padanya, bahwa aku sesungguhnya sangat menyukainya. Akuntak mau dibantah, tak mau dilawan apalagi ditolak untuk kedua kalinya. Aku menarik dia ke kamarku tak peduli semua orang melihat aksiku.
Aku melu***bibirnya dalam, menumpahkan segala gejolak hatiku dan aku ingin dia mengerti bahwa dalam aksiku aku sangat menginginkannya.
__ADS_1
Hampir-hampir aku menodainya. Walaupun aku sudah siap jika aku harus bertanggung jawab. Michel mengetuk pintu dan aku harus mengembalikan kewarasan agar aku tidak terlihat bejat. Aku memperbaiki penampilanku untuk membuka pintu dan bertemu Michel.
Begitu pintu terbuka, ternyata dia menerobos keluar dari kamarku dan karena tidak hati-hati dia terpeleset di anak tangga pertama sehingga badannya terguling jatuh sampai lantai bawah.
Aku hanya menatap kosong ketika itu terjadi. Aku hanya berdiri saja tanpa bisa melakukan apapun. Darah yang membanjiri lantai seakan membuat pikiran dan hatiku mati. Aku hanya bisa menatap dan tidak bisa menerima dia mati seperti itu.
Michel yang meraung-raung pun tak sanggup aku rengkuh, ya jasad dan jiwaku mematung. Bahkan saat tim medis membawanya jiwaku ikut pergi entah kemana.
Sejak itu aku seperti robot berjalan. Mengikuti siapa saja yang mengarahkanku. Aku hanya bisa membuka mata tapi bibirku hanya menyebut satu kata saja, Raisya.
Satu tahun aku mendapatkan perawatan kejiwaan. Aku bahkan tidak pernah memikirkan Michel, sampai suatu hari Adam dan Michel menjenguk aku di rumah sakit. Badanku sehat, tapi jiwaku seperti hampa.
Setelah itu aku menjalani terapi kesehata mental dan emosi di sebuah institut dimana mereka merancang sebuah program bagi para pasien yang mempunyai gejala gangguan emosi. Selama. dua tahun aku menjalani terapi akhirnya aku dinyatakan sembuh.
Hal yang bisa kulakukan ketika sembuh, aku ingin mengunjungi Indonesia. Aku rindu.. bahkan aku ingin meminta maaf dipusaranya. Aku dan Michel sangat senang walaupun aku masih gugup untuk pergi kesana.
Diperjalanan aku malah dikagetkan dengan Sarah. Mantan istrinya Adam. Entahlah aku harus memulai emosiku untuk berdamai dengan siapapun. Karena aku ingin menunjukkan bahwa aku sembuh.
__ADS_1
Sampai aku di apartemen Sarah. Dia terlihat kaget dan gugup. Di apartemennya ada dua orang. yang belum aku kenali mereka siapa. Aku mengira mungkin mereka adalah saudara Sarah.
Sampai kami makan bersama, suatu hal terjadi. Wanita yang di depanku menendang kakiku dengan keras dan dia seolah menyalahkanku. Aku yang tidak tahu apa-apa tak menerima diperlakukan seperti itu. Aku hanya membesarkan mata tak berani menaikan emosi. Aku belajar melatih emosi. Kemungkinan ini adalah ujian pertama bagiku. Dan aku sedang berpikir kenapa dia sampai marah dan menendang kakiku. Helaan nafas aku tarik kasar, mengatur ritme jantungaku agar tidak marah.