Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Menunda Rasa


__ADS_3

Kasur yang empuk juga ruangan yang selalu wangi membuat Jacky terlelap dengan nyaman. Suara jam yang sudah distel sejak dulu, suka menyala dan mati dengan sendirinya. Itu membuat Jacky kaget setengah mati, karena dirinya tidak merasa memasang alarm.


Jantung Jacky benar-benar hampir saja copot. Dia langsung terbangun dan duduk sekaligus di atas kasur.


"Gila... mengagetkan saja! Siapa yang memasang alarm ini?" Jacky menggerutu.


Dia masih memegang dadanya mengatur irama jantungnya yang baru saja hampir melompat karena kaget.


Dia berusaha mengumpulkan ingatannya, dan itu berhasil membuat keningnya berkerut. "Kemana bocah itu? Bukankah semalam dia tidur denganku?" Jacky kaget dan turun dari ranjang membuka pintu keluar kamar dan turun ke bawah.


Sayup-sayup dia mendengar seseorang membaca Al-Quran. Itu mengingatkan Raisya sewaktu dulu ketika menjumpainya di kosannya. Bayangkan Jacky mundur ke belakang mengingatkan perasaannya waktu itu pada Raisya.


Ah.. andaikan waktu itu aku langsung jadian, hidupku tidak akan serumit ini. Bisa jadi aku sudah mempunyai anak dan hidup bahagia.


Gumam Jacky sambil berdiri di depan pintu.


Suara itu berhenti, pertanda Raisya menyudahi membacanya.


Jacky mengetuk pintu kamarnya.


Tok


tok


tok


"Ra..." Jacky tak berani memanggilnya kencang.


"Iya tunggu!" Raisya menjawab sambil melipat mukena dan memakai kerudung praktis Alami rumahan.


Tak lama kemudian dia membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?" Raisya melihat Jacky. Penampilan Jacky yang baru tidur terlihat alami. Dengan rambut agak menyembul ke atas, tapi wajahnya tetap saja masih tampan.


Jacky menatap Raisya, dia terlihat sudah segar. Sudah jadi kebiasaannya sesudah bangun subuh Raisya membiasakan diri langsung mandi dan berdan-dan jadi tak heran jam pagi, Raisya sudah nampak cantik.


Mata Jacky sejenak tertegun, apalagi di pagi biasanya libido laki-laki sangat kuat. Dengan melihat penampilan Raisya sudah rapih dan wangi membuat sesuatu di bawahnya bangun. Apalagi Jacky sudah cukup umur dan sudah lama menahan diri dari hasrat laki-laki nya. Melihat Raisya dan membayangkan masa lalunya membuat perasaan cinta Jacky tumbuh dan menguat.

__ADS_1


Ngapain si Jacky liatin gue kaya gitu? Bikin merinding mesum.


"Hei.. ada apa?" Suara Raisya agar Jacky sadar dari tatapannya.


"Siapin gue air mandi sama baju dong!" Entah modus apa yang sedang direncanakan Jacky pada Raisya. Selain dia tidak membawa baju ganti, dia juga sebenarnya sedang kebingungan jika harus mengambil begitu saja baju-baju yang Nathan miliki.


"Emang biasa mandiin apa?" Raisya mendumel.


"Iya.. ngarep." Jacky menahan tawa. Ingin menggoda tapi dia takut anak bocil di belakangnya nanti malah bikin rusuh.


"Bisa kan nyalain sendiri?" Raisya masih berdiri di dekat pintu.


"Itu kan bukan kamarku. Jadi aku tidak hafal." Jacky mencari alasan agar Raisya mengikutinya.


"Ish.. menyusahkan saja!" Raisya keluar kamar lalu naik ke kamar bekas Nathan dan diikuti langkah Jacky.


Raisya langsung menuju lemari membawakan handuk untuk Jacky.


"Nih!" Dia menyodorkan handuk itu ke tangan Jacky.


"Jangan judes-judes dong Ra.. entah gue cium kalau judes gitu!" Jacky menyeringai licik.


"Memangnya kamu gak pernah mesum gitu? Atau suka menyalurkan... " Jacky tak malu-malu berkata agak vulgar dan menyebutkan sesuatu yang tabu untuk Raisya.


"Emangnya kamu...apa?" Raisya masuk ke dalam kamar mandi mengatur suhu air di bethub.


Klek


Jacky mengunci kamar mandi. Raisya langsung menoleh ke belakang melihat ke arah Jacky.


"Kenapa pintunya dikunci?" Raisya agak was-was. Jacky malah melangkah maju menghampiri Raisya selangkah demi selangkah. Itu membuat jantung Raisya berdegub kencang.


"Kan tadi janjinya mau mandiin?" Jacky sudah tepat ada di depan Raisya sambil mencondongkan badannya tepat di hadapan wajah Raisya.


"Kamu jangan macam-macam Jack!" Mata Raisya merah karena menahan marah karena Jacky semakin memiringkan wajahnya dan netranya malah melihan bibir Raisya yang merah alami tanpa polesan lipstik.


"Aku boleh kan Ra... mencicipi ini?" Suaranya agak terserak.

__ADS_1


"Berani kamu menyentuh aku? Kulaporkan sama papih." Ancam Raisya sambil memundurkan badannya karena Jacky terus mamajukan wajahnya perlahan.


"Laporkan saja! Aku malah senang. Dengan begitu kita akan segera menikah."


Plak


Raisya menampar Jacky replek. Dia merasa Jacky telah berniat ingin melecehkan dirinya.


Jacky kaget, dia mengelus pipinya yang sudah ditampar Raisya.


Jacky segera menarik tangan Raisya dengan kuat yang berakhir tubuh Raisya terangkat dan menubruk dada bidang Jacky.


Kedua orang itu bersitatap dengan degub jantung yang semakin kencang. Raisya semakin tidak karuan mendapat perlakuan dari Jacky seperti itu.


Jacky mengelus halus pipi Raisya dan tidak membalas tamparan Raisya. Dia malah tergoda ingin menyentuhnya dengan cara lain.


Jacky semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Raisya dengan perlahan. Sejuta aliran listrik sengat menyengat kedua tubuh orang ini.


Tepat bibir Jacky tinggal beberapa inci lagi Raisya menutup matanya. Perasaannya sudah tidak karuan, tubuhnya malah membeku dalam pelukan Jacky yang kencang.


"Kenapa menutup mata? Kamu ingin ya?" Hembusan nafas Jacky sudah terasa di depan bibir Raisya. Sepersekian detik saja Jacky memajukan wajahnya, pastinya bibir mereka pasti akan bertemu.


"Aku akan menunggu saatnya tiba Ra... walaupun aku sangat ingin sekarang." Persekian detik Jacky langsung menjauh wajahnya dari Raisya dan melepaskan pelukannya.


Raisya seperti berhenti berdetak. Dia berdiri mematung. Lalu megambil kesadarannya yang baru saja menguap ke udara.


"Kamu mau mandiin aku?" Jacky sudah membuka bajunya sudah siap untuk masih ke bathtub.


"Tidak... aku keluar. Aku akan sediakan baju yang ada dulu." Raisya tak berani menoleh ke belakang takut, Jacky akan nekad. Kakinya melangkah mendekati pintu kamar mandi dan membuka kuncinya lalu keluar. Dia menutup pintu kamar mandi lagi lalu berdiri mematung sambil mengambil nafas banyak-banyak.


Gila.. dia bikin aku seport jantung. Untungnya dia tak jadi ngapa-ngapain aku. Kalau tidak... gue...


Raisya membayangkan jika hal buruk menimpanya seperti waktu dulu bersama Nathan.


Setelah degub jantungnya normal kembali Raisya menyiapkan baju untuk Jacky ganti. Dia tidak tahu mana yang disukai Jacky. Sehingga dia menaruh dua stel baju di atas kasur lalu buru-buru keluar dari kamar itu dengan pikiran mengelana.


Sementara itu Jacky tersenyum senang telah membuat Raisya ketat-ketir. Dia melihat wajahnya yang gugup ketika Jacky akan menciumnya. Tapi Jacky lebih memilih untuk menahannya setelah tadi mendapatkan tamparan Raisya.

__ADS_1


Saat ini Jacky tidak ingin merusak imagenya di mata Raisya. Dia yakin perasaan Raisya sekarang sedang tidak baik-baik saja mengingat tadi wajahnya sangat gugup. Jacky ingin Raisya datang dengan rela.


__ADS_2