Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kenapa?


__ADS_3

"Sya.. " Hesti melihat keheningan di dalam ruangan kerjanya. Hesti berjalan ke arah kubikel Raisya.


"Wah kemana tuh anak... katanya mau disini tapi kosong. Duh ini komputer sama meja berantakan." Dumel Hesti melihat bekas makanan juga pesanan Raisya masih teronggok di meja belum disentuhnya.


"Maaf ini ruangan Michel bagian keuangan?" Seorang OB muncul dari balik pintu.


"Michel? Di bagian keuangan tak ada yang namanya Michel." Protes Hesti sambil menatap paket yang sedang dipegang OB.


"Duh.. gimana ini? Mbak terima aja dulu! ini ada pengirimnya ko!" Petugas OB kelihatan bingung. Karena tugasnya hanya menyampaikan saja.


Hesti mengerutkan dahi lalu membawa paket itu dari OB. Dibacanya nama pengirim "Daddy Nathan?" Dahi Hesti kembali mengerut.


"Apa bapaknya si bule gitu?" Hesti mengernyitkan dahi menerka-nerka si pengirim paket. Baunya sudah tercium di hidung Hesti. Mungkin isinya makanan.


"Gue telepon aja si Raisya, kenapa juga gue bingung. Gue tadi gak sempet nanya itu bocah namanya siapa?" Sesal Hesti yang terlalu apatis.


"Eh.. ko gak aktif.. ini anak kemana?"Jam siang udah lewat orangnya menghilang kaya ditelen bumi." Hesti berbicara sendiri.


"Ya udah gue simpan aja.. kali dia lagi ada perlu." Hesti meletakkan semua paket makanan di atas meja Raisya. Yang terlebih dahulu merapihkan nya agar tidak terlalu berantakan


Hesti kembali ke kubikelnya menyelesaikan pekerjaan.


Sementara Jacky dan bu Mia makan di luar karena tadi ada meeting direksi yang mengambil tempat di luar gedung perusahaan.


"Bu.. Abis ini aku mau ke kantor. Ibu mau barengan sama aku lagi?"Jacky menanyakan atasannya sambil mengunyah makanan pesanannya.


"Hhhmm kayanya sih abis makan siang, ibu ketemu pak Adam deh. Katanya tadi dia minta ketemuan di luar. Kamu ke kantor deh! Cek kerjaan Hesti sama Raisya buat laporan ke Direksi. Takutnya ada yang salah. Ntar laporin ke gue!" Bu Mia dengan asiknya membuka layar handphone sambil menjawab beberapa pesan yang masuk.


"Ya udah aku jalan duluan. Ibu bayarin semua ini kan?"Jacky menyunggingkan bibirnya pada bu Mia.


"Iya... " Bu Mia tanpa ragu menjawab.


"Thanks bos!" Jacky berdiri hendak meninggalkan bu Mia yang masih asik memainkan layar handphonenya.


"Wah giliran dibayarin ngomong aja bas bos!" Protes bu Mia yang masih bisa mendengar perkataan Jacky.

__ADS_1


"Iya lah.. kerjaan bos emang traktiran. He he.." Jacky berlalu ke tempat parkiran mengambil mobilnya lalu meluncur kembali ke kantornya untuk mengontrol pekerjaan Hesti dan Raisya.


"Ra... " Panggilan itu selalu muncul ketika Jacky pertama masuk ke ruang kerjanya.


"Ngabsen.. ngabsen.." Hesti berteriak dari dalam kubikelnya.


Jacky berjalan ke arah kubikel Raisya.


"Lah... kemana bidadariku?" Cicit Jacky yang heran Raisya tak ada di meja kerjanya.


"Hesti... Raisya kemana? Kok kosong di mejanya! Itu makanan siapa sampai numpuk gitu kaya mau botraman saja?" Keluh Jacky yang tidak menemukan Raisya malah melihat beberapa makanan di mejanya.


"Hhmm tau! Tadi pas gue ajak makan, katanya sih mau makan disini. Sampai gue pesenin. Terus itu tuh... ada kiriman juga dari daddy Nathan. Tau siapa dia?" Hesti masih fokus menyalin data laporan dari masing-masing divisi.


"Nathan?" Dahi Jacky mengerut.


"Eh elu sudah membereskan laporan yang kemarin yang gue suruh revisi?" Jacky kembali memeriksa pekerjaan Hesti.


"Sudah! Filenya udah gue kirim ke email elu! Ini gue lagi masukin data dulu buat dikirim ke Raisya. Takutnya dia ntar ditanya sama bu Mia." Hesti melaporkan pekerjaannya pada Jacky.


"Tadi gue sudah telepon tapi handphonenya gak aktif." Cicit Hesti yang melihat Jacky agak merenggut.


"Ya udah gue periksa dulu kerjaan elu. Ntar gue periksa kerjaan Raisya menyusul." Jacky berjalan ke meja kerjanya yang dekat dengan meja bu Mia yang terhalang kaca pembatas ruangan antara ruangan bos dan bawahan.


Tanpa teras waktu sudah menunjukkan jam empat sore. Hesti melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Dia membereskan semua kertas-kertas yang disimpan tak beraturan lalu mematikan layar komputer kerjaannya untuk siap-siap pulang.


Setelah dirasa beres. Dia menyelendangkan tasnya lalu berdiri akan meninggalkan kubikelnya.


Matanya menatap pada kubikel Raisya. Dia baru inget Raisya belum kembali. Saking asiknya mengerjakan tugas Hesti lupa bahwa rekan kerjanya belum kembali.


"Jacky.. aku kok khawatir sama Raisya." Dia melongokkan kepalanya dari pintu ke arah meja Jacky.


"Hhhmm." Jacky hanya menjawab dengan deheman saja. Dia tak begitu fokus dengan apa yang dikatan Hesti.


Hesti yang melihat respon Jacky langsung mendekati. "Gue khawatir Jacky.. Raisya belum balik! Mejanya masih kosong." Volume bicara Hesti dinaikkan satu oktaf untuk menarik perhatian Jacky.

__ADS_1


"Oh ya? Lah kok belum balik?" Jacky melihat kubikel Raisya dari mejanya.


"Kamu telepon! Ini udah jam 4. Masa iya itu komputer masih nyala sama makanan dia gak dimakan. Sebenarnya gue curiga dengan kejadian tadi pagi. Takutnya Raisya nekad."


"Nekad apa?" Jacky langsung menyorot wajah Hesti.


"Ya.. naudzubillahi mindzalik.. " Hesti tak berani membicarakan apa isi pikirannya.


Jacky yang baru sadar. Langsung berdiri dan berjalan ke kubikelnya Raisya. Hesti mengamati gerak-gerik Jacky yang mulai cemas.


Jacky menelpon seseorang.


"Hei ular? Elu lagi dimana?" Wajah Jacky yang blasteran terlihat agak memerah. Wajah marahnya keluar.


"Weis ular." Hesti yang sudah berjalan mendekati Jacky terhenyak mendengar percakapan Jacky yang agak kasar. Dia tak tahu dengan siapa Jacky berbicara.


"Apa urusanmu!" Orang yang diseberang telepon tak kalah sinisnya menjawab Jacky.


"Eh.. urusan elu belum beres. Staf gue lu bawa kesitu buat ngasuh anak ular tangga kan?" Jacky langsung menuduh Nathan karena kejadian tadi pagi yang telah menyuruhnya membawa Michel dari ruang kerjanya. Sekarang Raisya tak ada di tempat. Kecurigaannya kemungkinan Raisya ada bersama Nathan.


"Eh asal lu tahu ya ngapain gue bawa-bawa staf elu. Emang gak ada kerjaannya apa!"


Jacky mengernyitkan dahi lalu mengusap kasar wajannya.


"Tapi.. dia gak ada di ruang kerja dari siang sama anak lu!" Akhirnya Jacky sedikit menurunkan biasanya yang kasar. Pikirannya kini sedang bingung mencari keberadaan Raisya sama Michel.


"Apa lu bilang?" Nathan tak kalah kaget.


"Makanan yang elu kirim masih utuh malah di meja." Cicit Jacky melaporkan kejanggalannya.


"Sebentar gue langsung ke kantor. Ini pasti ada yang gak beres." Nathan langsung menutup teleponnya.


"Gimana Jack?" Hesti masih mengamati wajah Jacky yang tidak tenang.


"Kemana tuh anak.. bawa anak ular?" Jacky berbicara sambil bolak-balik memikirkan keberadaan Raisya.

__ADS_1


__ADS_2