Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Panik


__ADS_3

Sebuah guncangan lumayan keras dirasakan semua warga Jakarta. Terutama orang-orang yang sedang berada di gedung tinggi.


"Mbak.. gempa!" Ratna langsung berteriak mengajak Hesti Hesti keluar ruangan.


"Ayo keluar!" Hesti dan Ratna berpegangan tangan keluar dari ruangan. Jalan mereka tidak seimbang karena goncangan itu lumayan agak besar.


"Tangga darurat. Jangan pakai lift!" Seseorang mengarahkan semua orang untuk mengambil jalan tangga.


"Tenang jangan panik! Jalan teratur! Seorang security mengarahkan tiap orang untuk tidak saling mendahului.


Semua orang dalam gedung bisa di evakuasi ke luar gedung dengan selamat.


"Rat... kamu lihat Raisya?' Tedi berlarian menghampiri Ratna.


"Oh ya ampun! Tadi kayanya di lift deh sama pak Nathan. Aduh.. aku lupa dia pasti syok berat." Ratna melepaskan tangannya dari Hesti.


"Kenapa Rat?" Hesti heran melihat Ratna dengan wajah cemasnya.


"Ted antar aku ke tim penyelamat, kayanya mereka terjebak di lift. Tadi sempet ngobrol sih sebelum gempa." Ratna meminta Tedi mengantarkannya ke tim penyelamat.


"Aku ikut Rat! Takut!" Hesti menempel pada Ratna.


"Iya hayuu mbak!" Ratna kembali menggengam tangan Hesti yang terasa dingin.


"Aku lupa Ratna. Michel sama Mbak Ina masih di atas." Tedi yang tadi panik langsung menghambur ke luar tanpa mengindahkan Michel yang sedang tertidur ditemani Ina sang babysitter.


"Apa?" Ratna langsung terhenyak mendengar kabar itu.


"Gawat! Elu buruan susul ke sana kalau elu gakau dibunuh sama psikopat gila!" Ratna langsung memperingatkan Tedi akan kekejaman Nathan kalau mengenai anaknya, Michel.


"Iya. Ini gue juga mau minta antar ke sana." Cemas Tedi yang melupakan penyelamatan pada Michel dan Ina.


"Pak mohon cepat lihat lift yang ada di area parkir. Teman saya suka sesak nafas kalau mati lampu apalagi ada di lift." Ratna langsung memohon pada tim penyelamat.


"Sama antarkan saya ke gedung lantai 25! Di sana masih ada orang yang terjebak. Pinta Tedi.

__ADS_1


"Kalian tenang. Kita akan naik ke atas." Tedi langsung mengikuti grup penyelamatan dengan memakai standar keamanan, helm dan rompi anti panas.


"Ya Allah.. Semoga mereka selamat ya!" Ratna dan Hesti saling memandang dan mengeratkan genggamannya.


"Aamiin."


Sementara itu di lantai 25. Ina hanya memeluk Michel yang masih terlelap tidur. Dirinya sebenarnya panik. Tadi dia menemani Michel tidur begitu goncangan keras gempa terasa Ina terbangun. Ina yang baru saja bangun seperti linglung untuk mengambil tindakan.


Dia memilih diam dan memeluk Michel. Apapun yang terjadi dia tidak akan lari kemana-mana. Ina terus berdoa meminta keselamatan pada Allah atas gempa yang sedang berlangsung. Dia hanya bisa memejamkan matanya sesekali membuka matanya melihat Michel. Untungnya anak itu tenang.


Guncangan pun berhenti. Ina berucap syukur mudah-mudahan tidak ada gempa susulan. Ina berdiri hendak melihat ke luar kamar melihat ruang kerja karyawan. Kepalanya melongok tapi tak ada satu pun orang yang ada di ruangan itu.


"Pada kemana mereka? Sepi banget." Ina bergumam sendiri. Lalu kembali ke kamar dimana Michel tertidur.


"Mbak... " Mata Michel terbuka menatap Ina.


"Cup cup sayang. Mbak gendong ya! Kita keluar dari sini!" Ina langsung menggendong Michel dengan membawa tasnya yang berisi makanan dan minuman juga peralatan kebutuhan Michel.


Ina keluar dari ruangan itu. Nampak benar-benar sepi seperti gedung kosong.


Ina menekan tombol lift. Tapi tak bisa terbuka.


"Mbak.. pengen. pipis." Rengek Michel.


"Oh iya.. mbak antar ke toilet ya!" Ina menggendong Michel ke toilet dan lampu-lampu semua padam


"Mbak.. takut!" Michel melihat toilet gelap karena tidak ada penerangan.


"Gak pa-pa kan ada mbak! Mbak pake senter HP ya!" Ina menekan senter agar ada penerangan di sekitar toilet.


Michel akhirnya mau buang air kecil setelah Ina menyalakan senter dari handphonenya.


"Mbak kenapa ruangannya gelap?" Michel melihat Ina berharap pertanyaannya dijawab.


"Tadi ada gempa. Jadi mati listrik." Jawab Ina sambil memakaikan celana Michel.

__ADS_1


"Gempa? Michel kok gak tahu mbak?" Celoteh Michel dengan polosnya.


"Tadi Michel tidur." Jawab Ina merapihkan baju Michel yang sudah mengenakan celananya lengkap.


"Wah.. mbak harusnya bangunin Michel. Kata bu guru kalau ada gempa harus keluar dari bangunan. Kenapa kita masih disini mbak?" Michel walaupun usianya baru 4tahun tapi dia anak yang cerdas.


"Iya. Mbak nungguin Michel bangun tadi. Sama mbak takut. Jadi mbak memilih nungguin Michel bangun saja." Ina memberikan alasan.


"Mbak.. aku ingin keluar dari sini!" Michel rupanya merasa takut.


"Iya mbak juga bingung. Liftnya mati." Ina belum menemukan solusi untuk bisa keluar dari gedung ini.


"Mbak gak boleh pakai lift! Harus pakai tangga! Kan mati lampu. Kata bu guru kalau ada bencana kita harus pakai tangga darurat untuk menyelamatkan diri." Michel masih mengingat penjelasan gurunya sewaktu belajar di Amerika. Anak-anak di sana memang sudah mendapatkan edukasi sejak dini tentang penanganan bencana alam dan sejenisnya.


"Ya ampun.. mbak lupa! Ayo mbak gendong lagi kita turun pakai tangga saja!" Ina baru ingat harus mencari tangga darurat. Kalau bukan karena Michel mungkin Ina akan terus diam di gedung itu.


Sementara itu tim evakuasi berhasil mengeluarkan Nathan, Reza juga Raisya. Raisya langsung mendapatkan penanganan khusus karena harus mendapatkan oksigen segera.


Begitu sampai di luar gedung Nathan langsung menghambur mencari Michel. Kancing kemejanya yang terbuka memperlihatkan dada bidangnya dan juga bulu-bulu halusnya terekspos bebas. Di tambah rambutnya yang basah karena keringat menambah seksi orang yang melihatnya.


"Lihat! Gantengnya!" Para perempuan yang dilewati Nathan saling berbisik dan menggosip akan ketampanannya. Tapi Nathan tidak memperdulikannya. Dia fokus mencari Michel di setiap ada kerumunan orang.


"Ratna!" Suar itu terdengar jelas di telinga Ratna.


"Pak Nathan.." Nafas Nathan tak beraturan. Ratna dan Hesti melongo melihat saya tarik Nathan yang begitu mempesona bagi siapapun yang melihatnya tak terkecuali Ratna dan Hesti.


"Kamu lihat Michel?" Sepasang netranya seolah membaca lebih dulu daripada telinganya.


"Michel sedang... diselamatkan oleh Tedi pak! Dia masih di atas." Ratna agak gugup menyampaikan berita itu.


"Apa? Michel masih di atas? Kalian ngapain aja dari tadi? Bukannya nyelamatin anak gue!" Nathan langsung emosi dan berteriak yang mengundang banyak mata melihatnya.


"Tenang pak Nathan! Itu Michel." Hesti langsung menunjukkan pada Nathan Michel sedang digendong oleh Tedi.


Nathan langsung berlari seperti tidak peduli orang sedang memperhatikannya.

__ADS_1


"Daddy... " Michel malah tersenyum melihat ayahnya mendekat.


Nathan langsung mengambil Michel dan memeluknya.


__ADS_2