
Malam itu ternyata semua orang berkumpul dan menginap. Raisya heran melihat ketiga orang dewasa itu bisa-bisanya mengikutinya dan ikut menginap.
"Mmmm... aku bingun harus mengatur kamar." Raisya masih termenung. Kamar tamu sudah disiapkan untuk tuan Robert Alberto dan istrinya. Tapi dia bingung harus menempatkan Jacky. Ini adalah hari pertama dia menginjakkan kakinya di rumah ini dan belum sempat menata isi rumah dan kamar.
"Ma.. kita tidur dimana?" Michel rupanya ikut memikirkan juga apa yang dipikirkannya.
"Menurut kamu lebih baik kita tidur dimana ya?" Raisya bingung juga harus menentukan dimana dirinya, Arsel juga Michel harus tidur.
"Ya.. udah di kamar aku aja. Kan di sana ada kasur cadangan ma." Michel mengusulkan untuk tidur di kamarnya malam ini.
"Kamu tidak keberatan kalau om Jacky tidur di kamar bekas daddy?" Raisya meminta izin dulu pada Michel, khawatir anak itu tidak mengizinkan kamar bekas ayahnya di tempati orang lain.
"Mmm... di sofa aja! Kenapa?" Michel rupanya tidak terlalu suka kalau kamar bekas ayahnya ditempati Jacky.
"Ishhh... jangan begitu. Bisa-bisa kita dapat kesulitan dari oppa dan malam ini malah kita harus disuruh kembali lagi ke rumah oppa." Raisya sedang mencari cara agar Michel mau merelakan kamar mendiang ayahnya ditempati Jacky.
"Ya sudah.. kalau menurut mama itu lebih baik. Michel ngikut kata mama. Tapi... mama harus tidur di kamar ku. Kalau tidak, Michel bakal marah." Michel mengancam Raisya dan dirinya takut kalau Raisya akan melakukan hal-hal apa yang dipikirkannya.
"Memangnya mama mau tidur dimana sayang? Paling kalau kamu marah, mama tidur di kamar bi Siti." Ucap Raisya sambil berjalan hendak keluar kamar Michel.
"Ma... " Michel segera memeluk pinggang Raisya dari belakang.
Michel merapatkan tubuhnya pada Raisya seperti tidak ingin kehilangan Raisya.
"Apa?" Raisya memegang tangan Michel lalu memutarnya agar dia bisa berhadapan dengan Michel.
"Ada apa?" Raisya menatap wajah Michel. Nampaknya Michel sedang memikirkan sesuatu.
"Mama.. mau menikah sama om Jacky?" Michel menatap netra Raisya. Kedua mata saling berpandangan. Raisya mengelus halus wajah Raisya. Anak ini sudah banyak mengerti tentang persoalan orang dewasa. Raisya malah memeluk Michel.
"Mama.. tidak tahu Michel. Mama ingin mengurus kalian dulu. Untuk masalah pernikahan, mama akan memikirkannya nanti setelah kalian siap." Itu jawaban yang Raisya berikan. Raisya tidak ingin menjanjikan sesuatu dan tak ingin melukai Michel yang memang belum siap menerima orang baru dalam kehidupannya.
"Apa mama mencintai om Jacky?" Michel mengangkat wajahnya melihat Raisya. Raisya terkejut mendengar pertanyaan Michel tentang perasaannya.
"Mmm.. dulu iya. Tapi.. sekarang mama tidak tahu. Tepatnya sekarang mama hanya mencintai kalian sayang... " Raisya mengecup kening Michel.
__ADS_1
Michel tersenyum senang mendengar perkataan Raisya seperti itu. Hatinya merasa tenang.
"Ayo.. keluar dulu. Mama mau bicara dulu sama oppa dan om Jacky."
"Iya ma." Michel mengangguk dan mengikuti langkah Raisya.
"Ma.. Acel ngantuk." Arsel langsung memeluk Raisya dan minta digendong.
"Sini.. sama papa aja! Kita tidur bareng yuk?" Jacky berusaha sedang mengambil hati Arsel.
Arsel malah menggelengkan kepalanya.
"Nanti om ajarin main mobil-mobilan mau?" Jacky merayu Arsel agar mau mengikutinya.
Arsel dengan mata satu mengangguk lemah. Rupanya anak kecil itu masih bisa berkomunikasi jika seputar mobil mainannya.
"Ayoo sini.. besok, papa ajarin mobil baru yang itu. Tapi Arsel harus tidur dengan papa." Jacky sedang berusaha keras mendekatkan dirinya dengan anak-anak demi meraih perasaan Raisya.
Arsel menatap Raisya, dia tahu selama ini ibunya tidak terlalu bisa memainkan mobil remot besar itu. Dan Irwanlah yang selama ini selalu menemaninya memainkan mainan itu bersama Arsel.
Raisya hanya menatap Arsel dan memperhatikan reaksi Arsel. Dia tak berani melarang apapun pada putranya itu.
"Ish.. anak tampan papa baik banget. Yuk.. kita berdua. Nanti kalau udah ada mama.. kamu bobo sendiri ya!" Jacky mengoceh sambil mengedipkan sebelah matanya pada Raisya. Raisya segera memalingkan pandangannya dari kejahilan mata Jacky.
"Sya... biarkan anak-anak dekat dengan Jacky! Kasihan dia butuh sosok ayah. Jangan sampai Arsel kesepian dan bersedih." Ucap tuan Robert yang sama-sama sedang melihat Jacky menggendong Arsel ke lantai dua, tepatnya ke kamar bekas mendiang Nathan.
Raisya hanya terdiam.
"Kami istirahat dulu. Besok pagi kita akan ke sekolah Michel bareng sama papih."
"Iya pih." Jawab Raisya tanpa bisa menolak.
Sepasang suami istri itu masuk ke kamar yang tamu yang sudah bi Siti rapihkan.
"Kita tidur yuk!" Ajak. Raisya pada Michel.
__ADS_1
Michel menggandeng Raisya lalu berjalan ke arah kamar Michel. Semua isi kamar masih sama, seperti terakhir kali Michel meninggalkannya.
Raisya dan Michel naik ke atas ranjang lalu mereka membaringkan tubuhnya dan menarik selimut.
"Jangan lupa berdoa Michel!" Raisya mengingatkan Michel supaya berdoa sebelum tidur.
"Iya ma." Michel pun berdoa pelan. Bibirnya terlihat bergerak membaca doa. Lalu Michel mengubah posisi tidurnya menyamping melihat Raisya.
"Ma.. " Michel masih ingin mengobrol dengan Raisya. Ini adalah kali pertama dia tidur dengan Raisya tanpa. kehadiran Arsel diantaranya.
"Apa?" Jawab Raisya masih tidur terlentang.
"Mama cinta daddy gak?" Tiba-tiba Michel penasaran dengan perasaan Raisya.
Raisya terdiam tidak menjawab. Matanya lekat melihat langit-langit di kamar Michel. Dia bingung harus menjawab apa.
"Mama cinta sama om Jacky ya?" Tanya Michel lagi.
Raisya memiringkan badannya melihat Michel.
"Tidurlah!" Raisya tak berani menjawab.
"Mama.. kalau cinta sama om Jacky, menikahlah!" Michel merasa kasihan pada Raisya. Selama ini ayahnya malah banyak menyusahkan Raisya dan Michel tidak melihat mereka dekat.
"Sudahlah! Jangan membahas apa yang sudah. Mama harap kamu fokus belajar. Masalah mama, biarin mama yang pikirkan. Kamu jangan terlalu keras berpikir. Nanti kepala kamu pusing.
"Aku sayang mama.. " Michel memeluk Raisya dan menelusupkan kepalanya di dada Raisya.
"Iya sayang... mama juga sayang sama kalian." Raisya mengecup lembut pucuk kepala Michel.
"Sekarang tidurlah! Besok pagi kita harus ke sekolah bersama oppa. Kamu harus tidur!" Ucap Raisya mengingatkan Michel untuk jadwal untuk pergi ke sekolah.
"Iya ma.. " Michel memejamkan matanya, begitupun Raisya.
Di kamar lain, Jacky sudah berhasil menidurkan Arsel yang tadi memang sudah ngantuk berat. Berbeda dengan Jacky yang masih membuka matanya tak bisa segera tidur. Dia sedang mengamati sekeliling kamar Nathan.
__ADS_1
"Tan.. izinkan gue tidur di sini bersama Raisya ya!"