Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kecelakaan membawa bahagia


__ADS_3

Mata Raisya perlahan mengerjap. Seseorang yang sedari tadi setia menunggu di pinggir ranjang rumah sakit pun langsung mendekatkan dirinya pada Raisya.


"Ra... " Suara itu begitu jelas dan tak asing di telinga Raisya. Raisya membuka mata perlahan. Bayang-bayang lampu yang menyilaukan mata begitu menusuk matanya sehingga Raisya menutup kembali matanya dan berusaha mengangkat tangannya agar silau itu tidak menyakiti retinanya.


"Jason... " Panggilannya sambil mengerungkan kedua alisnya.


"Mmm.. ya ini aku, Ra." Jawab Jason dengan senyuman yang begitu mempesona.


"Aku dimana? Aku... tidak mimpi kan?" Raisya melihat ke kiri dan ke kanan mengamati sekitar tempat tidurnya.


"Kamu di rumah sakit. Dan kamu tidak lagi bermimpi." Jawab Jason meyakinkan Raisya yang baru saja siuman.


Perlahan tangan Raisya menggapai wajah tampan yang ada di dekatnya.


"Ini kamu Jason? Beneran kamu? Kamu tidak mati kan?" Raisya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jason bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.


"Tidak Ra.. ini aku beneran. Aku tidak mati." Jawab Jason menyentuh tangan Raisya dan menaruhnya di pipi nya.


"Kamu nyata?" Sungguh pikiran Raisya agak ketakutan. Dia takut sedang berada di alam mimpi.


"Nyata Ra.. aku bukan hantu." Jason kembali tersenyum.


"Alhamdulillah... kamu selamat?" Mata Raisya berkaca-kaca.


"Mmm.. ya aku selamat. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku Ra." Jason merasa senang bahwa dirinya selamat juga ada orang yang mencemaskan dirinya.


"Ya Allah.. alhamdulillah... kamu selamat. Bagaimana dengan yang lainnya?" Raisya ingin tahu kabar terbarunya.


"Alhamdulillah.. semua selamat." Jawab Jason menenangkan.


"Pak Baron bagaimana? Aku lihat terakhir kali dia ditandu." Raisya ingin tahu kabar Baron.


"Dia sedang di ruang perawatan. Sekarang sudah lebih baik. Kamu mau melihatnya?" Tanya Jason menawarkan pada Raisya untuk menengok Baron.

__ADS_1


Raisya menggelengkan kepala. Jason heran melihat reaksi Raisya. "Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin ditemani kamu disini." Raisya tak ingin kehilangan laki-laki yang sekarang berada di depannya.


"Mmm...Baik. Kamu mau minum?" Jason tidak bertanya kenapa Raisya tidak mau menengok Baron saat ini. Dia malah menawarkan Raisya minum.


Raisya mengangguk. Kebetulan tenggorokannya terasa kering juga haus.


Jason membawa sebotol air mineral juga sebuah sedotan untuk membantu Raisya agar mudah minum sambil berbaring.


Dia menyodorkan sedotan itu pada Raisya. Rasanya begitu segar begitu air mineral mengaliri tenggorokan nya.


"Terimakasih." Ucap Raisya setelah selesai minum dan mengembalikan botol itu pada Jason.


"Ceritakanlah, bagaimana bisa kamu selamat?" Tanya Raisya ingin tahu bagaimana Jason dan yang lainnya bisa selamat.


"Semuanya berkat Tuhan. Tuhan masih memberikan kesempatan kita untuk hidup. Waktu itu kebetulan lift macet di titik 12. Jadi kita memutuskan untuk berhenti. Sang mandor menerangkan bahwa ada beberapa titik yang memang harus diperbaiki infrastrukturnya untuk keamanan para pekerja juga penambangan. Nah waktu itu pak Baron ingin melihat titik mana saja yang kira-kira perlu perbaikan. Baru juga ngomong terdengar suara aneh. Suara itu dihasilkan dari getaran titik yang rawan gempa. Aku waktu itu langsung memutuskan untuk langsung kembali. Tapi ternyata tak disangka tepat di atas pak Baron sebuah reruntuhan penyangga rongga terowongan retak dan akhirnya menimpa pak Baron dan mandor. Aku segera melakukan penyelamatan agar pak Baron dan kawan-kawan bisa selamat. Alhamdulillah tim. penyelamat segera datang membantu lift yang macet. Dan kami segera bisa keluar dari terowongan itu. Dan untuk sementara penambangan ditutup dulu sebelum perbaikan dan infrastruktur diperbaiki selesai dilakukan." Jason menceritakan semua yang menimpanya pada Raisya.


"Alhamdulillah... kamu selamat. Aku sempat syok karena kamu tidak juga keluar dari terowongan. Aku kira kamu meninggal." Ucap Raisya menceritakan kekhawatirannya waktu itu.


"Pertanda apa?" Raisya mengerucut bibir nya pura-pura tidak tahu.


"Mmm... ya sudah kalau begitu aku memilih terluka aja kaya pak Baron." Jason sedang menguji kejujuran Raisya.


"Eh.. jangan!!!" Raisya menarik kain kemeja tangan Jason.


"Kenapa?" Jason terus saja mendesak agar Raisya bisa jujur dengan perasaan nya.


"Mmm... kamu jangan terluka. Aku... " Raisya menggantung kalimatnya karena malu harus berkata jujur.


Jason menunggu jawaban. Dia menatap wajah Raisya dalam. Dia berharap perempuan yang sedang terbaring itu memberikan jawaban yang dia inginkan.


"Aku... " Raisya bingung lalu membuang muka karena ditatap Jason sebegitu intennya.

__ADS_1


"Aku.. sayang kamu." Lirih Raisya tanpa melihat wajah laki-laki tampan yang sedari tadi setia menunggu jawaban.


"Mmm... aku gak dengar." Jason malah menggodanya Raisya lagi. Meski Raisya mengatakannya pelan, tapi telinganya masih mendengar jelas apa yang baru dikatakan nya.


"Ih... " Ucap Raisya kesal. Untuk mengatakan hal itu Raisya membutuhkan keberanian dan nyali. Jason malah mengujinya.


"Telinga aku masih agak terganggu. Jadi aku gak denger apa yang kamu ucapkan." Jason pura-pura tidak mendengar lalu mendekatkan telinganya ke dekat Raisya. Dia ingin Raisya mengulang kata-kata nya lagi.


"Ih.. budeg ah. Gak ada siaran ulang." Ucap Raisya cemberut.


"Ya udah.. kalau begitu aku ke kamar pak Baron dulu ya?" Jason menarik wajahnya menjauh dari Raisya.


"Iya.. iya deh. Aku sayang kamu... " Raisya akhirnya mengatakan kalimat itu dengan lantang agar Jason tidak meninggalkan dirinya sendirian.


"Terimakasih Ra... akhirnya.. " Jason hendak memeluk Raisya tapi repleks tangan Raisya mencegahnya.


"Bukan muhrim!" Ucap Raisya menahan Jason agar menjauh.


"Oke.. oke.. maaf. Kamu mau kan aku melamar kamu agar cepat jadi muhrim?" Tanya Jason seperti menohok jantung Raisya.


"Ya?" Kaget Raisya ditodong seperti itu.


"Apa boleh sehabis kamu sembuh, aku melamar kamu Ra?" Tanya Jason tak ingin berlama-lama lagi menunda untuk melamar Raisya.


Raisya mengangguk tanpa berpikir lagi. Dia tidak akan menyia-nyiakan lagi laki-laki yang baik yang berada di depannya yang hampir saja dia kehilangan nya karena kecelakaan.


"Alhamdulillah... Terima kasih Ra... " Jason mengangkat kedua telapak tangannya menutup mukanya dengan menyisakan kedua matanya. Dia sangat bahagia. Akhirnya dia bertemu jodohnya yang sudah lama di nantikan. Seperti dalam peribahasa 'Jodoh takkan lari kemana'


Mata Jason berkaca-kaca. Kalau dia tidak malu mungkin sudah dipeluknya perempuan yang ada di depannya. Meski dia bukan laki-laki yang fanatik, dia menghormati apa yang menjadi prinsip Raisya. Dia bahagia memilih perempuan yang baik yang tidak mau disentuh oleh laki-laki sembarangan.


"Semoga kamu cepat sembuh ya Ra.. Aku akan pergi ke orang tuamu. Orang tua kamu masih tinggal di Bandung kan?" Tanya Jason tak sabar ingin segera pergi melamar.


"Mmm... mama saja. Papa aku di Amrik." Jawab Raisya pelan.

__ADS_1


"Amrik?" Jason mengerungkan alisnya.


__ADS_2