
Perasaan Amora saat ini seperti ketiban rejeki nomplok. Sekali mendayung satu dua pulau terlampaui. Maksud hati ingin menjenguk Nathan, dia malah melihat ada laki-laki yang tak kalah ganteng dari Nathan. Kalau Nathan tidak berhasil, pikirnya bisa juga menggaet laki-laki yang didepannya.
"Maaf.. anda siapa?' Jacky penasaran menanyakan identitas wanita asing yang baru saja menjenguk Nathan. Penampilannya rapih juga cukup baik. Terlihat resmi dan tak kalah fashionable.
"Perkenalkan saya Amora, saya sekertaris pak Nathan." Amora dengan senyum menggoda mengulurkan tangannya pada Jacky.
"Oh.. Jacky. Panggil pake pak!" Jacky menekankan penegasan karena dia akan bertemu nantinya di kantor.
"Oh.. iya Pak Jacky." Amora menurut.
Hening
"Oh iya gue pamit dulu ya brother.. Nanti gue balik lagi." Ucap Jacky berpamitan pada Nathan karena tubuhnya mulai agak lelah membutuhkan istirahat.
Nathan hanya mengangguk.
"Kamu memang tidak ada kerja di kantor?" Jacky melirik Amora.
"Oh.. iya. Saya sebentar kok pak. Mau menyapa dulu pak Nathan." Jawab Amora yang tersenyum malau-malu sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, ciri khas wanita penggoda.
"Ya udah, jangan pake lama! Pak Nathan gak boleh banyak bicara!" Jacky memperingati tamunya Nathan. Karena sebelumnya memang Nathan tidak menerima tamu selain keluarga. Itupun tak boleh terlalu lama, takutnya imun Nathan drop lagi. Kondisi Nathan belum benar-benar aman.
Jacky keluar dari ruangan lantas tak langsung pergi. Dia sedang mencurigai Amora yang terlihat mencurigakan. Dia khawatir terjadi apa-apa dengan Nathan. Apalagi Michel sedang tidur. Jacky terpaksa menunggu di balik pintu sambil membuka sedikit pintu agar dia masih bisa mendengarkan suara yang ada di dalam ruangan itu.
"Maaf Pak saya lancang masuk ke ruangan bapak." Ucap Amora yang tak tahu malu duduk di kursi tepian kasur lalu menggenggam tangan Nathan. Meski lemah, Nathan masih bisa menggerakkan tangannya dan menarik tangannya yang tadi mau digenggam Amora.
"Maaf.. saya terlalu emosional pak. Begitu mendengar bapak sakit, saya tidak bisa sabar ingin menjenguk bapak." Ucap Amora sambil melihat Nathan. Nathan yang sedang dilihat Amora merasa risih dan tak bisa melawan. Dia hanya mencari jarak aman agar Amora tidak nekad.
"Saya sangat menyukai bapak." Jelasnya tak ingin berlama-lama lagi untuk menembak Nathan. Karena ini saatnya yang tepat menurut Amora untuk meraih simpati Nathan agar menerima niatnya.
__ADS_1
Nathan agak mengernyitkan dahi.
Perempuan ini terlalu agresif. Aku tidak tahu apa motifnya menjenguk aku disini?
Nathan tak merespon apapun.
"Saya sangat mengkhawatirkan anda pak. Setelah pertemuan itu hati saya selalu teringat pada anda. Bahkan begitu mendengar anda sakit, saya tidak bisa tenang memikirkan anda setiap waktu." Ungkap Amora sambil meneteskan air mata palsu agar bisa meraih simpati Nathan.
"Bolehkan saya menjenguk anda tiap hari? Saya.. benar-benar tidak bisa tenang melihat bapak seperti ini. Jika bapak membutuhkan bantuan saya siap menginap disini untuk mengurus anda." Ucap Amora lagi-lagi ingin memuluskan niatnya..
Nathan menggelengkan kepalanya tanda dia tidak mengizinkan Amora untuk tinggal.
Amora kecewa ketika Nathan menolak bantuannya. Amora berdiri lalu mendekati wajah Nathan.
"Tapi saya benar-benar mengkhawatirkan anda. Saya mau berkorban untuk anda. Jika anda membutuhkan bantuan saya siap mengorbankan diri saya." Amora menatap wajah Nathan lebih dekat. Tangannya mulai berani membelai rambut Nathan.
"Kenapa? Anda tidak suka saya?" Lirih Amora melihat reaksi penolakan Nathan.
Nathan kembali membuka mata. Dia menatap bola mata Amora. Dia sedang memindai apakah dia sedang jujur atau sedang bermain drama.
Ingin sekali Nathan bicara tapi suaranya tertahan. Hanya dadanya yang terlihat naik turun menahan sesuatu. Dia sedang berharap ada yang dapat datang dan menjauhkan Amora darinya.
Kedatangan Amora dirasakan menjadi beban buat Nathan. Dia tak mau dibebani apapun saat ini. Dia hanya butuh ketenangan dan kebahagiaan. Rasa lelah jiwanya sudah menumpuk. Jadi sedikit saja dia terbebani, dadanya akan terasa nyeri dan sesak.
Jacky yang melihat gelagat Amora membuat Nathan tidak nyaman kembali masuk.
"Maaf nona Amora saya rasa pak Nathan butuh istirahat dan ketenangan. Jika keadaan anda datang kesini untuk membuat pasien terganggu sebaiknya anda keluar." Jacky bicara tegas. Sejak melihat pertama kali Amora, Jacky sudah tidak sreg. Mata Amora menyiratkan kelicikan dan menggoda. Dia khawatir akan mempengaruhi Nathan padahal dia punya anak dan istri. Meski Jacky tidak tahu ada hubungan apa. diantara keduanya.
"Maaf Pak Jacky. Saya ingin menjenguk Pak Nathan. Apa hak anda melarang saya menemui Pak Nathan?" Amora agak tersinggung dengan kata-kata Jacky yang setengah halus mengusirnya.
__ADS_1
"Ya.. tentu saja saya berhak mengusir anda nona Amora. Saya keluarganya pak Nathan dan sekaligus atasan anda mulai sekarang." Ucap Jacky memberitahu kedudukannya pada Amora.
Amora sedikit kaget mendengar penuturan Jacky. Dia tidak tahu bahwa kedudukan Nathan akan diganti oleh laki-laki yang ada di depannya.
"Oh.. maaf Pak atas sikap saya yang tidak sopan. Saya tidak tahu anda keluarga Pak Nathan juga atasan saya. Saya mohon maaf." Amora langsung membungkuk pada Jacky.
"Sudahlah. Lebih baik anda segera keluar! Agar Pak Nathan bisa istirahat." Ucap Jacky harus segera bertindak agar wanita itu bisa segera keluar dari ruang perawatan Nathan.
"Oh.. iya baik pak." Amora tidak mau berdebat lagi dengan Jacky.
"Maaf Pak Nathan saya permisi dulu. Semoga bapak segera sehat." Ucap Amora berpamitan pada Nathan.
Nathan hanya mengangguk. Dia senang sekali Jacky bisa mengatasi Amora dan menolong dari rayuannya.
"Saya permisi Pak Jacky." Amora berpamitan pada Jacky dan bergegas keluar. Dia seperti malu pada Jacky karena tadi sudah mempertanyakan identitas Jacky yang belum diketahuinya.
Setelah Amora keluar Jacky kembali mendekati Nathan.
"Sebaiknya ruangan ini memakai security, agar tidak ada sembarangan lagi orang masuk." Jacky mengutarakan idenya.
Nathan hanya bisa mengangguk pasrah.
Dilain tempat Reza menerima laporan dari Jacky agar ruangan Nathan memakai jasa pengamanan.
"Ishh.. Ngapain juga si Amora datang ke rumah sakit?" Reza mendengus kesal. Dia tak habis pikir apa maksudnya menjenguk Nathan? Dia bukan siapa-siapa pak Nathan bukan? Lalu ada apa dengan Amora sikap Amora yang dianggapnya terlalu berani?
Sekarang Reza agak meneysal telah merekomendasikan Amora sebagai seorang sekertaris Nathan. Dia menilai Amora terlalu agresif mendekati Nathan. Apalagi di saat seperti ini. Langkahnya perlu diwaspadai khawatir ada motif lain dari perbuatannya menjenguk Nathan.
"Ah.. kalau bukan karena pak Hadi, aku sudah bisa memindahkannya."
__ADS_1