Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Gerimis duka


__ADS_3

Sakit rasanya mendengat makian dan hinaan dari mulut suaminya yang berumur 3 hari itu.


Jijik? tak sudi? Apakah sebenci itu Jack?


Raisya meneteskan air mata. Rasanya hatinya terlalu sakit mendengar kata-kata itu. Padahal masih hangat dalam ingatannya bahwa Jacky sangat mencintainya dan sekarang berubah menjadi sangat membencinya.


"Kalau tahu begitu, jangan pernah mencintaiku dan jangan pernah ada ungktukku Jack! Biarkan aku seperti dulu tidak berharap dicintaimu dan tak berharap apapun darimu. Aku bisa hidup seperti itu. Daripada seperti sekarang, aku merasakan manisnya dicintai dan merasa sakitnya dibenci." Namun Raisya hanya bisa mengeluh dalam hatinya.


"Sebaiknya kamu, kembali menempati rumah Nathan! Papih tidak tahu harus bagaimana menanggapi masalah kalian." Tuan Robert tak bisa berat sebelah dalam hal menyikapi masalah pernikahan Raisya. Sebenarnya dalam diri tuan Robert sendiri kecewa mendengar berita Raisya hamil dengan laki-laki lain. Satu sisi kemanusiaannya pun bicara bahwa semua itu musibah. Tuan Robert menyuruh Raisya menempati rumah itu karena ada haknya sebagai ahli waris dari Nathan, karena rumah itu diperuntukkan untuk Raisya, Michel juga Arsel.


"Maaf Pih. Bukan Raisya tidak butuh rumah atau tempat tinggal. Tapi bagaimana dengan pernikahan Raisya dengan Jacky?" Raisya ingin kesalahan pahaman ini bisa diperbaiki. Raisya masih berharap pernikahannya masih bisa dilanjutkan.


Raisya menoleh ke samping. Tangannya mengulur hendak menyentuh Jacky. Tapi Jacky buru-buru menepisnya. Raisya kembali tertunduk menunggu jawaban.


"Jika Jacky sudah menjatuhkan talak, berarti sudah jatuh talak Raisya. Kalian untuk sementara harus berpisah dulu. Biar kalian sama-sama merenung. Jika dalam masa indah kamu Jacky ingin rujuk tinggal kalian bersatu lagi." Adam berbicara mewakili Jacky.


"Maaf mas Adam. Saya tidak berniat untuk berpisah dengan Jacky dan tak menginginkan perpisahan." Ucap Raisya sambil mengusap airmatanya sambil menoleh pada Jacky. Berharap Jacky bisa seperti kemarin menerima apa adanya Raisya meski dirinya dalam keadaan hamil. Apa yang tadi dilihatnya murni salah faham. Dokter Ferdi menyalahgunakan keilmuannya untuk berbuat senonoh pada Raisya. Sungguh kelicikannya sekarang berhasil mematahkan pernikahan dengan Jacky.


"Ya.. untuk sementara baiknya begitu dulu Raisya. Mungkin Jacky butuh waktu untuk berpikir sebelum rujuk denganmu." Adam kembali bicara.

__ADS_1


"Baiklah mas Adam. Tapi saya ingin membawa Arsel." Raisya tidak bisa memaksakan diri untuk bertahan. Satu lawan tiga laki-laki tentu itu tidak mudah. Dia akan membawa Arsel bersamanya.


"Arsel tak bisa ikut denganmu! Arsel akan tetap tinggal disini!" Tuan Robert langsung menyela.


"Tapi pih, kenapa Arsel tidak boleh ikut? Arsel masih membutuhkan perhatian Raisya pih." Raisya tidak bisa merima keputusan tuan Robert menahan Arsel.


"Kamu tidak akan bisa mengurus Arsel dengan baik kalau keadaan kamu sedang hamil. Sekarang urus dirimu sendiri!" Jawab tuan Robert tak ingin cucunya terbengkalai gara-gara ibunya mengidam kembali. Dia tahu kalau perempuan mengidam pasti butuh perhatian dan tak kan mampu memperhatikan yang lainnya. Tuan Robert khawatir jika Arsel nantinya akan terbengkalai.


"Tapi pih... Arsel masih kecil. Dia butuh Raisya pih. InsyaAllah Raisya bisa mengurus Arsel." Raisya memohon agar Arsel bisa ikut dengannya. Raisya tak bisa dipisahkan antara Arsel dan dirinya. Dia satu-satunya pelipur lara selama ini. Apa jadinya kalau dia dipisahkan.


"Papih masih berbaik hati sama kamu Raisya! Papih hanya ingin kamu dan Arsel baik-baik saja. Jangan sampai papih berubah pikiran sama kamu!" Tuan Robert agak sedikit kesal melihat Raisya ingin mempertahankan Arsel.


"Tapi pih please.. Raisya tak bisa hidup tanpa Arsel.. jangan pisahkan Raisya dari anak Raisya pih!" Raisya langsung bertekuk lutut di depan lutut mertuanya dengan deraian air mata.


Raisya tahu tuan Robert tidak bisa dibantah. Apalagi dia mempunyai kekuatan untuk memisahkan putranya dari dirinya. Raisya duduk sambil terisak menangis tersedu-sedu.


Tuan Robert meninggalkan ruangan itu disusul oleh Jacky yang naik ke dalam kamarnya. Tinggallah Adam yang masih duduk di kursi dan Raisya duduk bersimpuh dengan tangisan yang memilukan.


"Raisya.. " Adam menghampiri Raisya dan menepuk bahunya.

__ADS_1


"Kamu sebaiknya sabar. Nanti aku bantu untuk bisa bertemu Arsel. Sekarang jangan sampai papih marah. Nanti kamu akan kesulitan ketemu Arsel kalau papih sampai marah sama kamu." Adam memberi saran pada Raisya agar mengikuti apa yang ayahnya katakan.


"Baik mas Adam. Saya titip Arsel pada mas juga kak Sarah. Mohon maaf sudah merepotkan keluarga disini." Raisya berdiri dan menyeka matanya.


"Ikuti saja dulu apa yang kata papih! Nanti kita pikiran apa ke depannya." Adam berusaha menguatkan Raisya meski dia pun tak bisa memberi janji apakah ke depannya akan baik-baik saja atau akan bagaimana.


"Iya mas. Saya pergi dulu. Mohon maaf pada Jacky, aku sudah membuatnya kecewa." Ucap Raisya sambil menunduk kembali meneteskan airmata.


"Iya. Kamu jaga diri baik-baik ya! Jangan sampai sakit!" Ucap Adam memberi pesan terakhir pada Raisya.


"Aku pergi dulu mas. Assalamualaikum." Raisya melangkah keluar dari ruangan itu dengan membawa kesedihan dan putus asa.


Sepasang mata tak kuasa menahan sedih ketika wanita yang dicintainya pergi meninggalkan mansion.


Adam melihat ke atas melihat laki-laki yang dari tadi melihat ke bawah. Dia tahu pada hati keduanya masih ada rasa cinta yang besar yang masih berdiam di hati masing-masing. Adam tak bisa memaksa Jacky menerima Raisya dalam kondisi seperti itu. Laki-laki manapun pasti akan kecewa melihat perempuan yang dicintainya hamil oleh laki-laki lain.


Raisya berjalan gontai ke luar mansion. Badan dan pikirannya begitu lemas. Meski mertuanya menyuruh dia pergi ke rumah warisan Nathan, tapi hatinya tak mau mengikuti sarannya. Selain rumahnya berdekatan dengan dokter Ferdi, hatinya pun merasa hampa.


Dia tidak tahu kemana kakinya akan melangkah di saat pikirannya putus asa seperti itu. Hanya satu yang ada dipikirannya adalah Ratna. Sahabat terbaiknya yang selalu ada buat Raisya. Selama ini hanya dia yang mampu menampung keadaan Raisya seperti apapun. Ya Ratna, hanya itu yang dipikirkan Raisya.

__ADS_1


Raisya segera menghentikan taxi, lalu memerintahkan sopir taxi ke alamat Ratna. Ya hari mulai mendung seperti mendung di hatinya. Seperti alam sedang berduka cita hari itu. Gerimis kecil mulai turun menghujani bumi. Petir mulai bersahutan menyambut hujan membuat penghuni bumi merinding. Jalanan mulai berkabut dan sopir pun mulai menyalakan whisper untuk menghapus air hujan yang menghalangi pandangan.


Tak lama kemudian mobil taxi berhenti di depan ruko.


__ADS_2