Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Michel maaf..


__ADS_3

"Bi Siti... maaf..baju kotor Michel sudah dibawa dari kamar?" Nathan penasaran dengan merk yang dipakainya. Meski dia tahu tapi dia ingin meyakinkannya.


"Yang tadi malam dipakai? Bibi sudah jemur tadi di belakang. Apa mau bibi ambilkan?" Bi Siti tak mencurigai sama sekali apa yang sedang Nathan selidiki.


"Biar sama saya saja bi." Nathan langsung ke belakang rumah dimana bi Siti biasa menjemur. Dia langsung mencari baju yang dipakai Michel. Matanya langsung menemukan apa yang dicarinya.


Dia langsung melihat merk pakaian yang dipasang di belakang punggung. Nathan mengehela nafas.


Darimana dia mendapatkan baju bermerk itu?


Setelah melihat merk itu dengan matanya sendiri, Nathan lantas duduk di meja makan. Michel masih siap-siap di kamar membereskan bukunya.


Sambil menunggu Michel siap, Nathan sarapan pagi ditemani kopi juga roti berisi telur juga sayuran segar. Tak lama kemudian Michel duduk di seberang Nathan lalu meneguk segelas susu. juga mengunyah roti isi selai stroberi kesukaannya.


"Chel.. kemarin kamu beli baju?"


"Mm... " Michel mengangguk mengiyakan.


"Katanya kamu balik lagi membeli pakaian lagi. Tapi kok daddy tidak melihat laporan belanjaannya." Nathan sedang menguji kejujuran Michel kali ini. Biasanya dia langsung percaya apa yang dikatakan Michel. Tapi entahlah kali ini dia begitu penasaran dengan apa yang dilakukannya kemarin.


Uhuk.. Uhuk..


Michel keselek roti begitu Nathan menanyakan hal itu. Michel segera menepuk-nepuk dadanya sedangkan Nathan menatap tajam ke arah Michel.


"Dad.. Michel duluan berangkat. Ada janjian sama temen, aku mau naik ojeg online." Michel langsung berdiri dan berniat meninggalkan Nathan di meja makan.


"Michel.. duduk! Daddy belum selesai bicara." Baru kali ini Nathan berteriak kencang pada Michel. Karena dia tahu kali ini Michel sedang berbohong. Sudah lama dia tidak marah bahkan meninggikan suara.


Michel terhenyak mendengar bentakkan dari ayahnya. Karena ini kali pertama dia mendapatkan perlakuan dari ayahnya seperti ini.

__ADS_1


Michel duduk lalu tertunduk. Entahlah.. hatinya sakit mendapatkan perlakuan seperti itu. Apalagi Nathan selama ini belum pernah membentaknya Michel. Bentakkannya melebihi sakitnya dipukul, luka yang tak berdarah.


"Jawab! Darimana kamu mendapatkan baju itu?" Sorot matanya sedang mengintimidasi Michel. Emosinya tiba-tiba memuncak, dia tidak sadar bahwa hal itu berhasil membuat hati Michel terluka. Selama ini dia menahan diri untuk tidak menuntut apapun dari Nathan padahal batinnya merindukan kasih sayang juga sosok perhatian seorang ibu layaknya anak-anak yang lain. Tapi Michel selama ini menahan diri agar dia tidak terlihat lemah dihadapan Nathan. Apalagi melihat Nathan beberapa kali depresi membuat Michel dipaksa mandiri dan dewasa sebelum waktunya.


Michel masih terdiam dia tidak menjawab pertanyaan Nathan sedikitpun. Kalaupun dia berbohong ayahnya pasti akan lebih marah lagi. Dia tahu ayahnya bukan orang biasa, kalau sudah marah seperti ini dia bisa menghabisi siapapun.


"Apakah kali ini dia mampu memperlakukan Michel seperti pada yang lainnya?" Michel sedang menunggu. Apakah ayahnya akan seperti dulu selalu lemah lembut atau mungkin saja akan kasar seperti dia memperlakukan Raisya?


Nathan memang paling tidak suka dibohongi apalagi dibantah. Sekarang Michel sudah mulai menunjukkan sikap yang tidak disukainya. Mata Nathan merah, rasa marahnya sudah naik ke ubun-ubun apalagi melihat Michel tidak juga menjawab pertanyaannya.


Wurtt... Gelas yang masih berisi penuh air putih meluncur bebas ke arah muka Michel yang sedang tertunduk.


Michel terhenyak kaget begitu pula bi Siti yang sedang ada di dapur. Degup jantung Michel langsung bertempo cepat mendapatkan kekasaran ayahnya sekarang.


"Semarah inikah dia tentang baju yang dipakainya? Lalu kenapa semarah ini?" Michel hanya mengusap wajahnya yang baru saja disiram Nathan. Michel tidak menangis, dia seperti gagu dan tuli. Dia malah berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Nathan yang masih menatapnya tajam.


"Michel.. " Nathan langsung berdiri dan menyusul Michel.


"Michel.. " Nathan memanggil Michel tapi yang dipanggil malah sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Mata Nathan mengedar kesana kemari.


"Kemana anak itu?" Nathan heran kemana perginya Michel.


"Mang.. lihat Michel?" Nathan menanyakan pada satpam yang ada di depan rumahnya.


"Non.. Michel baru saja naik motor ojeg." Ucap satpam.


"Ke arah mana mang?" Tanya Nathan dengan cemas.


"Ke arah sana pak." Satpam menunjukkan arah ke sebelah kanan rumahnya.

__ADS_1


"Lho kok kesana mang?" Nathan heran, arah yang diambil Michel berlawanan arah dengan arah ke sekolah.


"Mmm.. saya tidak tahu pak." Satpam rumah yang tahu Nathan mempunyai gangguan emosi, agak takut. Pasti sekarang sedang terjadi sesuatu anatar Nathan dan Michel. Tadi sekilas dia melihat kerudung dan baju depan Michel terlihat basah. Tapi dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan majikannya itu.


Nathan masuk ke dalam mengambil kunci mobilnya hendak menyusul Michel. Hatinya sangat cemas. Dia menyesal telah berbuat kasar pada Michel. Padahal seumur ini dia belum pernah memarahinya apalagi membentaknya seperti itu.


Nathan melajukan mobilnya menyusuri jalan, berharap menemukan motor ojeg yang membawa Michel.


"Maafkan daddy... Michel... " Bibirnya terus mengucapkan kata-kata itu. Nathan panik, dia takut terjadi sesuatu dengan Michel. Dia cemas kemana Michel akan pergi? Karena tidak banyak tempat yang Michel tahu di Indonesia.


Nathan menepikan mobilnya setelah bingung bolak-balik mencari Michel. Dia memukul setir dan mengusap wajahnya kasar. Bingung dan menyesal kini sedang bercampur menjadi satu. Dia melupakan niatnya untuk pergi ke perusahaan. Karena tidak ada yang lebih penting dari apapun di dunia Nathan selain keberadaan Michel.


Tling


Tling


Tling


Sebuah notifikasi baru saja masuk di handphone Nathan. Nathan membuka layar pipih itu dan melihat sebuah notifikasi. Tertera di layarnya sebuah pemberitahuan sebuah penarikan uang dengan jumlah besar.


Degg


"Michel... " Jantung Nathan kian berdetak tak karuan setelah melihat pemberitahuan yang masuk ke layar handphonenya. Tertera di layar itu ada penarikan uang sebanyak seratus juta di sebuah bank. Nathan melebarkan matanya melihat perbuatan Michel yang terbilang nekad. Apa yang akan diperbuatnya dengan membawa uang sebanyak itu.


Nathan langsung melajukan mobilnya ke arah bank yang sedang ditujunya, dimana Michel telah menarik uang tunai dari kartu debit yang diberikan Nathan pada Michel.


Sepanjang jalan hati Nathan tidak tenang. Bukan masalah uang yang ditariknya, tapi lebih ke niat apa yang sedang direncanakan anaknya itu.


Akankah Michel berniat pergi? Atau semua itu ada kaitannya dengan kejadian kemarin? Nathan bingung.

__ADS_1


__ADS_2