
"Ini pemeriksaan pertama?" Tanya dokter Tiara ramah.
"Iya dok." Jawab Raisya.
"Haid terakhir?"
"Sekitar 8 minggu yang lalu." Jawab Raisya.
"Oke kita periksa ya.. kita lihat dede bayinya." Dokter Tiara dibantu asistennya mengoleskan gel di bawah pusar perut Raisya yang sudah terbaring di atas blangkar lalu memutar alat sambil menekannya di bagian rahim Raisya. Aisyah bisa melihat dilayar smart TV bagaimana isi dari rahim Raisya. Dia begitu bahagia ada kehidupan kecil di sana.
"Nah bisa dilihat ya.. bayinya insyaallah sehat. Usia kandungannya sekitar 8 mingguan ya. Dokter mencetak foto USG nya. Sang asisten pun mengelap gel bekas USG dan merapihkan kembali baju Raisya. Raisya turun dari atas blangkar dibantu oleh asisten lalu kembali duduk di samping Aisyah.
"Bagaimana ada keluhan seputar kehamilan?" Tanya dokter Tiara pada Raisya.
"Ya paling mual, enek, pusing sama lemes." Ucap Raisya.
"Baik nanti saya resepken vitamin juga asam folatnya." Dokter Tiara menuliskan sesuatu di selembar kertas.
"Ini nanti bisa diambil di apotik." Dokter Tiara memberikan selembar kertas itu pada Raisya.
"Semoga ibu bayi dan bayinya sehat selalu ya!" Ucap dokter Tiara mengakhiri pemeriksaannya.
"Aamiin. Terima kasih dokter."
"Sama-sama." Jawab dokter ramah.
Aisyah dan Raisya berdiri lalu melangkah pergi dari ruangan itu.
Di luar sana Anwar seperti gelisah. Seperti seorang suami yang sedang menunggu kabar istrinya. Begitu melihat keduanya keluar dari ruang pemeriksaan, Anwar langsung berdiri dan menghampiri keduanya.
"Bagaimana sudah selesai?" Tanya Anwar melihat ke arah Aisyah.
"Sudah mas. Nih lihat fotonya lucu banget." Aisyah begitu gemas melihat titik hitam yang belum terlihat wujudnya itu memperlihatkan pada Sang suami. Tadi Aisyah meminta pada Raisya ingin melihat foto USG karena penasaran.
__ADS_1
"Mana? Kok gak kelihatan foto bayinya?" Anwar menajamkan matanya melihat foto hitam putih USG.
"Lah.. masih kecil mas. Baru juga 8 minggu." Jawab Aisyah begitu semangat. Raisya hanya tersenyum tipis melihat sikap suami istri itu.
"Ah.. mas gak ngerti. Kenapa gak keliatan." Anwar masih kekeh ingin melihat wajah Sang bayi. Yang terbayang dalam pikirannya kalau di USG itu wajah bayinya bisa dilihat jelas seperti kamera.
"Belum berbentuk mas. Ih.. napa gak sabaran. Nanti kalau udah sembilan bulan baru keliatan seperti bayi wajahnya jelas, kaki tangannya jelas. Kalau umur 8 minggu masih belum jelas terlihat. Makanya searching mbah google!" Aisyah yang sering melihat-lihat laman tentang seputar kehamilan sudah hafal betul kalau usia bayi 8minggu itu seperti apa.
"He he iya. Ntar mas lihat. Tapi coba mas lihat lagi deh.. kok. kamu lucu banget." Ada perasaan aneh di hati Anwar meski tidak bisa melihat jelas foto itu. Kalaulah yang hamil itu istrinya, mungkin dia sudah mencium perut buncitnya.
"Jangan khawatir! Umi sama abi akan selalu menjaga kamu dede bayi." Ucap Anwar pada foto hitam putih itu.
"Umi abi?" Aisyah mengerutkan dahinya.
"Iya.. kan nanti kalau bayi mbak Raisya lahir. Kita akan jadi umi abinya dede bayi ini." Jawab Anwar keceplosan.
Mata Aisyah langsung mengedip pada suaminya. Isyarat Aisyah agar suaminya jangan sampai menyinggung perasaan Raisya.
"Gak pa-pa. Saya bahagia melihat kalian mau jadi ayah dan ibunya bayi ini." Raisya tersenyum tipis.
"Eh.. mbak.. habis dari sini mbak mau jalan-jalan atau mau makan atau mau belanja?" Aisyah mengubah topik agar Raisya bisa mengalihkan perhatiannya.
"Mbak.. pengen ke laut.. sudah lama mbak gak keluar rumah. Mbak gak mau jalan-jalan ke tempat ramai!" Raisya ingin jalan-jalan untuk membuang kepenatannya memikirkan masalahnya.
"Baik.. saya antar mbak ke pantai ya! Kita ke ancol sekarang sambil makan-makan disana. Kita juga sudah lama tidak rekreasi." Anwar langsung kembali bersemangat.
"Ma kasih ya Aisyah, mas Anwar. Kalian mau jadi saudara mbak." Raisya kembali menitikkan air matanya.
"Jangan sedih mbak. Mungkin sudah takdir mbak dipertemukan dengan kami. Saatnya mbak harus bergembira! Banyak-banyak bersyukur agar kebahagiaan kita selalu bertambah. Kami juga bersyukur telah dipertemukan dengan mbak Raisya. Rumah kami jadi hangat juga kami juga banyak kegembiraan. Jadi jangan sedih ya! Kasian dede bayinya nanti kalau sedih terus." Aisyah menggandeng Raisya sambil mengelus lembut punggungnya.
"Iya benar yang kamu katakan Aisyah. Sepertinya aku kurang bersyukur. Padahal kehidupan di luar sana ada yang lebih kurang daripada mbak." Ucap Raisya menyadari ucapan pesan dari Aisyah.
"Mereka saja sepasang suami istri yang sudah lama menikah tapi tak mempunyai anak, nampak bahagia saja. Kenapa aku yang sudah dikaruniai anak malah banyak mengeluh?" Ucap Raisya di dalam hati.
__ADS_1
"Ayo kita pergi! Keburu panas banget." Anwar langsung mengajak kedua perempuan itu untu segera pergi ke pantai Ancol.
Keduanya sangat senang. Mereka saling menggandeng tangan dan bersemangat untuk pergi ke pantai untuk rekreasi.
Di lain tempat Jacky harus menemani Sherly ke rumah sakit. Dia tidak tega membiarkan perempuan itu pergi sendirian untuk kemoterapi.
"Ma kasih ya Jack.. sudah mau mengantar aku berobat." Ucap Sherly dengan wajah tirusnya. Dia masih terlihat cantik meski badannya sekarang lebih kurus.
"Iya." Jawab singkat.
Sekarang Sherly menempati rumah peninggalan Nathan bersama Michel. Di Sana juga sudah ditambahkan dua perawat untuk merawat Sherly agar kondisi kesehatannya membaik.
Sedangkan Jacky sudah kembali bekerja di perusahaan dan Adam bersama Sarah sudah kembali ke Amerika untuk mengurus perusahan.
Sudah satu bulan ini Jacky belum menemukan kembali kabar tentang Raisya. Sang detektif sudah melacak tempat-tempat yang mungkin saja dikunjungi Raisya. Tapi hasilnya tetap nihil
Jacky menemani Sherly masuk ke ruangan pemeriksaan. Dia jadi teringat saat terakhir kali menemani Raisya waktu itu. Dekat dia harus menemani Sherly ke rumah sakit agar Sherly bertambah semangat untuk berobat. Kata dokter semangat pasien harus selalu bahagia agar penyakit yang dideritanya bisa berangsur-angsur pulih. Meski hanya seribu satu orang yang bisa keluar dari penyakit berbahaya ini.
"Bagaimana masih suka mual?" Tanya dokter pada Sherly.
"Iya dok. Sejak kemoterapi saya sering mual." Jawab Sherly merasakan efek dari kemoterapi.
"Mohon sabar ya bu. Semoga kanker ibu bisa sembuh. Banyak kok pasien yang bisa sembuh. Yang penting ibu harus bahagia. Hormon kebahagiaan bisa membantu memulihkan pasien dari rusaknya sel-sela dalam tubuh." Ucap dokter menyemangati.
"Iya dok. Terima kasih." Ucap Sherly menyudahi pemeriksaannya.
Keduanya keluar dari ruangan dan kembali masuk ke dalam mobil untuk pulang.
"Jack.. bisa antarkan aku jalan-jalan gak?" Ucap Sherly memelas.
"Kamu mau kemana?" Tanya Jacky dengan penuh rasa iba.
"Aku mau ke pantai Jack. Semenjak kita menikah, kita belum pernah honeymoon. Aku ingin sekali kesana sekarang." Sherly yang kini sudah menikah dengan Jacky dengan alasan karena sakit meminta Jacky untuk membawanya ke pantai.
__ADS_1