
"Lah.. urusan elu apa kalau istri gue belum tidur?" Nathan menjawab ketus.
"Ya aneh saja... biasa orang pergi ke klubing buat ngilangin stress kan? Kalau penyebab stressnya masih on percuma juga kan pergi ke sini?" Sherly pastinya tahu, ada hubungan yang tak beres antara Nathan dan Raisya. Kalau mereka baik-baik saja tak mungkin Nathan nongkrong di klubing, apalagi ini masih bulan madu.
"Siapa yang stress? Daripada elu ngurusin gue, mending lu cari si Jacky biar malam pertama tidak dihabiskan disini!" Nathan berdiri dari tempat duduknya menjauhi Sherly.
Sherly tersenyum licik menanggapi Nathan yang dingin.
Baru beberapa langkah saja Nathan bangkit dari tempat duduknya, kepalanya terasa berputar seperti relcoaster. Dia mengedip-ngedipkan bola matanya lalu menggelengkan kepala agar bisa melihat dengan jelas juga berusaha berdiri tegak agar tidak limbung.
Ya, sekarang semua objek terlihat menjadi kembar dan menari-nari di pelupuk matanya.
"Ah... kenapa ini? Kenapa bisa begini? Apa yang salah dengan diriku? Jangan-jangan...
Di lain tempat Raisya menyuapkan nasi dengan malas. Kunyahan yang seharusnya lezat, kini terasa hambar seperti tak bergaram. Dengan susah payah Raisya menelan makanan itu masuk ke dalam perutnya. Hilang sudah selera makannya. Dia mencoba bertahan dengan sedikit makanan agar tidak keroncongan. Raisya menyudahi acara makan malamnya.
"Sabar...ini baru awal Raisya...Jangan putus harap! Toh merubah manusia itu bukan sulap. Pastinya butuh waktu dan proses." Raisya menyemangati dirinya sendiri.
Bi Siti menatap iba pada sang majikan. Mau menemaninya takutnya malah menambah beban. Tidak menemani pun tetap tidak merubah apapun. Padahal sejak sang majikan memasak di dapur, bi Siti sudah sangat senang. Melihatnya ceria dan bersemangat membuat bi Siti pun ikut berbahagia.
Untungnya malam ini sang majikannya tidak mogok makan. Kalau tidak, makanan yang sudah cape-cape dimasaknya bakal jadi penghuni tong sampah jika hanya dilihat dan dipajang.
Berabe jika Raisya harus sakit. Sudah sakit hati, sakit pisik juga. Setidaknya kalau dia mau makan, pisiknya bisa kuat untuk menghadapi Nathan yang kadar emosinya naik turun.
"Nyonya sudah makannya?" Bi Siti segera menghampiri Raisya yang sudah menelungkupkan garpu dan pisau di atas piring.
"Sudah bi." Jawab Raisya sambil mengelap sudut bibirnya dengan tisu.
__ADS_1
"Biar bibi saja yang membereskan Nyonya!" Bi Siti tak mau Raisya ikut membereskan makanan yang ada di atas meja.
"Ga pa-pa bi. Kita sama-sama saja! Aku mau membawa wadah tertutup untuk memasukkan steak yang belum dimakan. Takutnya nanti pak Nathan datang dan belum makan." Ucap Raisya, masih mengkhawatirkan laki-laki yang sudah meninggalkannya sendirian.
"Iya nyonya. Biar saya saja! Nyonya duduk saja!" Bi Siti dengan gesit membawa wadah kotor ke wastafel dan membawa wadah tertutup agar sisa makanan bisa dihangatkan nanti di microwave. jika dibutuhkan.
"Iya, bibi coba bawa wadahnya kesini! biar nanti saya masukan ke wadahnya. Bibi bereskan saja piring-piring bekasnya!"
"Baik nyonya." Bi Siti langsung membuka rak
kitchen yang berisi wadah bermerk agar makanan yang sudah dimasak, nanti bisa dihangatkan.
Raisya memindahkan makanan jatah Nathan ke wadah yang tertutup berbahan fiber dengan merk highclass. Setelah selesai Raisya membiarkan bi Siti yang menyelesaikan sisanya.
Raisya duduk diruang tengah sambil menyalakan televisi menekan remot kontrol mencari acara televisi yang cocok.
Bi Siti tersenyum memperhatikan Raisya yang tertawa sendiri. Terkadang dia tertawa sambil menutup mulut dan terkadang sambil memegang perutnya, tak kuat menahan tawa.
Ya... setidaknya nyonya Raisya tidak stress ditinggalkan pak Nathan itu membuat bi Siti senang. Sayang seharusnya sekarang mereka sedang manis-manisnya menikmati bulan madu. Eh.. ini malah kaya perang dingin yang sedang gencatan senjata. "Sabar ya nya... semoga pak Nathan bisa berubah." Itu yang diucapkan dalam hati bi Siti pada Raisya.
Tanpa terasa malam terus larut, suasana pun menjadi sepi. Bahkan para jengkrik pun berhenti bernyanyi karena sudah habis masanya untuk mereka berpesta.
Para makhluk bumi kembali melipat mata dan menebalkan selimutnya karena suhu udara bertambah dingin.
Raisya yang sadari tadi menonton kini sudah tertidur di atas sofa tanpa memadamkan televisi. Suara di televisi menina bobokan dengan lelap.
Suhu yang dingin membuat Raisya semakin meringkukkan tubuhnya dan menggigil. Karena tak tahan, rasa dingin itu seolah membangunkannya dari mimpi.
__ADS_1
Begitu membuka mata sinar cahaya lampu begitu menyilaukan mata Raisya. Dia menyipitkan kedua kelopak matanya sambil mengucek agar bisa melihat jelas apa yang sedang dilihatnya.
"Jam berapa ini?" Sepasang bola matanya memutar melihat jam dinding yang sedang melakukan tugasnya.
"Wah jam dua." Raisya bangun dari kursi dan duduk tertunduk sambil mengumpulkan kesadaran.
"Nathan sudah pulangkah?" Itu yang langsung diingatnya ketika kesadarannya mulai terkumpul. Karena terakhir kali dia menonton di ruang tengah, tujuannya untuk menunggu kepulangannya dari luar.
Raisya berdiri lalu berjalan ke ruang tamu lalu mengintip di balik gorden.
"Mobilnya belum ada. Apakah dia menginap di luar? Tapi dimana? Apakah menyusul Michel?" Raisya tetap berbaik sangka pada Nathan. Setelah tidak melihat mobilnya di area parkir depan halamannya dia berjalan ke arah ruang makan. Ruangan nampak remang. Hanya lampu temaram yang dinyalakan di ruang itu agar tidak terlalu gelap.
Matanya mendongak melihat lantai dua, tepatnya ke kamar Nathan, ternyata masih gelap juga. Berarti pemiliknya memang belum pulang.
Raisya berjalan ke kamarnya lalu pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu. Dipikirannya karena ini sudah hampir setengah tiga, ada baiknya dia sholat tahajud.
Ya.. sejak Raisya amnesia, dia memang jarang shalat juga mengaji. Dia seperti bayi yang baru terlahir kembali dan mengikuti siapa saja yang menuntunnya.
Alhamdulillah Tuhan berbaik hati memulihkan ingatan Raisya sehingga dia mempunyai kesempatan memperbaiki kesalahannya di masa itu yang cenderung jauh dari agama.
Sementara itu di sebuah hotel mewah tepatnya di satu kamar yang sudah disewa sepasang pengantin, sudah terbaring dua orang berbeda gender. Keduanya sama-sama tidak berbusana alias polos seperti orang mandi.
Tiba-tiba saja si lelaki menggeliat lalu mengucek matanya tersadar dari miminya.
Begitu matanya sudah bisa dibuka, dia terhenyak kaget bukan kepalang.
"Dimana ini?" Satu pertanyaan lolos dari bibirnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.
__ADS_1
"Ya ampunn.. apa ini?" Dia membuka selimutnya.