
"Aduh.. kaget beneran... hampir saja jantung aku loncat pindah ke hatimu." Raisya malah tertawa, menertawakan gombalannya pada Nathan. Raisya yang dulu telah kembali. Memunculkan karakter ceria dan tak patah arang. Ya karakter dia sebelum amnesia.
Kalau orang terdekat seperti Jacky dan Ratna pastinya akan mengenali kebiasaan-kebiasaan Raisya tapi berbeda dengan Nathan. Yang memang dulunya tidak begitu dekat dan belum sempat dekat.
"Raisya... kamu bisa tidak berhenti melakukan itu!" Nathan sepertinya kesal melihat sikap Raisya yang agak aneh dimatanya.
"Iya iya deh! Aku akan berhenti merayu disini. Nanti akau lanjut di tempat aman." Raisya menahan tawa menutup mulutnya.
Nathan masih melihat Raisya sambil menggeleng-geleng kepalanya.
Aneh... kenapa dia tiba-tiba berubah? Makan apa barusan? Salah makan kali. Atau... dia sedang menutupi kesalahannya?
Lagi-lagi Nathan menyangka yang lain-lain pada Raisya. Kelamaan diperlakukan tidak baik oleh keluarga Alberto membuat Nathan selalu berpikiran negatif dan penuh curiga.
Dia melajukan mobilnya kembali. Pandangannya lurus ke depan tapi hati dan pikirannya malah berbelok ke samping. Tepatnya memikirkan keanehan dengan sikap Raisya.
Mobil yang dikemudikan Nathan akhirnya sampai juga di salah satu pantai yang ada di Jakarta.
Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Keduanya keluar dari dalam mobil. Penampilan Nathan yang baru saja turun membuat para wanita yang melewati dan dilewatinya melirik padanya, lalu mereka saling berbisik sambil tersenyum.
Sikap itu tak lepas dari pengamatan Raisya yang berada di sampingnya.
Ya postur tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang bule ditambah kaos santai yang di padu padankan dengan celana jeans selutut juga kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya membuat menarik para lawan jenis.
Raisya langsung bergelayut ke sikut Nathan tidak membiarkan orang-orang yang melihatnya berpikiran kotor dengan terus menikmati ketampanan suaminya.
"Apaan sih kamu?" Nathan hendak menepis tangan Raisya dari sikutnya. Tapi Raisya langsung menangkap tangannya lalu menggenggam tangannya dengan erat dan mengayun-ayunkan ke depan ke belakang sambil memasang senyum lebar.
"Biar ketampanan kamu tidak dicuri perempuan lain." Jawab Raisya tegas. Raisya sedang berjuang mempertahankan pernikahannya agar lebih baik. Dia berharap benih -benih cinta akan turun dan bersemai seiring kebersamaan.
Ya.. meski dia harus memulai semuanya. Karena usaha untuk menunggu Nathan berubah sendiri sepertinya agak sulit. Dia berinisiatif untuk memulai. Setidaknya ikhtiar dibarengi doa berharap meluluhkan hati Nathan yang keras dan kasar.
Nathan tidak menolak genggaman Raisya. Malah perlahan dia merasa nyaman dengan pegangan tangan itu. Walau gengsinya yang tidak ketulungan itu masih saja bertahan untuk tetap dingin.
Kriukk
Kriuk
Suara keras yang datang dari perut Raisya sampai ke telinga Nathan. Dia menghentikan langkahnya.
"Kamu lapar?" Nathan menoleh ke arah Raisya dengan menyembunyikan sorot matanya di balik kacamata hitam.
"Emmmm... mas Nathan lapar gak?" Raisya mendongak menatap wajah tampan Nathan dengan sedikit kagum.
__ADS_1
Weis... seperti inilah mungkin para wanita menatap kamu.
Raisya mengedip-ngedipkan matanya. Jauh dalam hatinya dia penasaran melihat mata Nathan kalau sedang ditatap begini. Apa reaksinya?
Nathan membuka kacamata lalu menyimpan diatas kepalanya.
"Ihh... ngapain juga kamu liat aku kaya gitu?" Nathan menutupi perasaan yang sebenarnya dengan bicara ketus.
Padahal semenjak Raisya menyentuh tangannya ada desiran-desiran aneh yang masuk ke tubuhnya.
"Aku.. sedang penasaran. Kalau mas membuka kacamata apa masih tetap tampan?" Raisya terlihat lebih berani menatap netra Nathan. Dia ingin mencari sesuatu di netranya Nathan. Apakah ada perasaan lain yang bisa dibacanya atau tidak.
Sejenak kedua netra saling menilai.
Nathan menurunkan kacamata itu menutupi matanya yang ke abu-abuan. Tiidak mau Raisya melihat kekurangan dirinya atau membaca perasaan yang sedang ada dalam dirinya.
"Kita cari makan!" Suara dinginnya tetap bertahan.
"Let's Go... " Raisya mengayunkan kembali tangan Nathan seperti tingkah anak abg.
Hhmm.. aku pengen tahu seberapa kuat dia untuk bertahan.
'Ih... kok ditutup mas?" Raisya yang sedang melihat Nathan rupanya kecewa. Tidak berhasil membaca emosi kejujurannya lewat sepasang netranya.
Nathan memasuki cafe tempat makan di sekitar pinggir pantai. Langkahnya yang panjang membuat Raisya tertinggal di belakang.
Nathan memilih kursi yang memungkinkan untuk merokok. Raisya pun duduk di depan Nathan.
"Maaf mbak.. ini buku menunya." Seorang pelayan menyodorkan sebuah map yang isinya macam-macam menu yang disediakan cafe.
"Oh, iya terimakasih." Raisya menerima buku menu itu.
"Mas mau pesan apa?" Tanya Raisya sambil memperlihatkan buku itu dan menggeserkan kursinya agar mendekat pada Nathan.
Nathan melihat-lihat menu yang ada dalam buku itu. Memilah aneka makanan yang cocok di lidahnya.
"Aku pesan sate kambing sama sop nya." Ucap Nathan pelayan.
"Minumnya?" Pelayan menanyakan minuman yang akan dipesan.
"Jeruk hangat." Ucap Nathan.
"Baik. Kalau mbak?" Pelayan itu beralih menatap. Raisya.
__ADS_1
"Sudah itu saja!" Raisya tidak memesan apapun.
Nathan membuka kacamatanya. "Bukannya kamu tadi mau makan?" Nathan melebarkan matanya melihat Raisya karena heran.
"He.. kita makan sepiring berdua saja ya!" Raisya tersenyum sambil melihat wajah Nathan.
"Aku gak mau! Pesan dua porsi saja mbak!" Nathan memesan porsi tambahan untuk Raisya lalu mendengus kesal.
Ngapain juga dia pengen sepiring berdua?
Nathan mengeluarkan bungkusan rokoknya dan memantik bensin untuk membakar ujung rokoknya. Pelan-pelan dia menyesap lalu menghembuskannya ke udara.
Uhuk.. uhuk..
Raisya terbatuk-batuk karena ikut menghirup asap rokok yang anginnya bertiup tepat ke arah Raisya.
"Pindah sana!" Nathan menyuruh Raisya untuk pindah lebih menjauhinya.
Raisya pun menggeserkan tempat duduknya agak. menjauh dari Nathan.
"Mmm.. mas." Raisya melihat Nathan.
Nathan yang merasa dipanggil pun menatap lurus pada Raisya.
"Aku boleh bicara?" Raisya mengambil kesempatan untuk berbicara dengan serius.
"Mmm." Dijawab pendek dengan bibirnya yang sembari menyesap rokok yang sedang disesapnya.
"Benarkah mas mau membatalkan perjanjian pernikahan kita?" Raisya ingin mengetahui kepastian yang diinginkan Nathan dibalik pembatalan itu.
Nathan tak langsung menjawab.
"Mau kamu?"
"Aku ingin tahu kenapa mas mau membatalkan perjanjian itu? Aku tak ingin ke depannya kita jadi salah paham dan saling menyakiti." Raisya terdiam sejenak menunggu tanggapan Nathan.
"Mas.. "
"Mmm.. "
"Kok Mmm sih?"
Dibalik kacamata dia sedang menatap inten Raisya. Dia tahu perempuan di depannya terlihat murung. Dan keceriaan yang sedari tadi dia lakukan hanya menutupi rasa sakit yang kemarin dia Terima.
__ADS_1
"Aku hanya mau kamu jadi ibunya Michel."