Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Bahagialah


__ADS_3

"Wan.. bilang dong sama Ratna, gue pengen jenguk Raisya juga." Jacky memohon agar Irwan bisa membantunya. Dia benar-benar tidak tahan dibuat begini. Rindu yang membuncah seakan-akan meledak dalam dadanya. Jika diperbolehkan dia ingin berlutut di hadapan Raisya agar mendapatkan maaf akan perbuatannya dan memohon agar bisa kembali rujuk.


Irwan hanya bisa menghela nafas panjang melihat raut wajah Jacky yang menghiba. Semakin lama dia menatap Jacky malah hatinya leleh tidak tega.


"Entar gue bilang ya! Tapi gue gak bisa janji. Pasalnya kan tadi kamu dengar sendiri dari Anwar, dokter tidak mengizinkan Raisya untuk menerima tamu yang sekiranya akan membuat dia syok." Irwan tak mau gegabah mengambil keputusan. Meski dia tidak menyukai sikap Jacky yang mudah terpantik emosi, tapi jauh dalam lubuk hatinya dia juga sebenarnya tidak tega melihat laki-laki itu menderita karena rindu.


Ya meski sudah memiliki Sherly mungkin Jacky tak bisa melupakan begitu saja Raisya. Jiwanya meronta ingin menemui sang kekasih hati yang pernah dia sakiti. Bukan tanpa alasan dia menceraikan Raisya waktu itu. Karena cemburu dan salah paham juga tingkat emosi Jacky yang sering tidak terkendali.


"Please.. Wan.. ! Dengan apa gue harus membuktikan cinta gue ke Raisya? Bantu gue Wan.. " Jacky memegang erat tangan Irwan memohon amat sangat bantuannya agar Raisya bisa menerimanya.


"Daripada elu sekarang ngemis-ngemis minta ketemu, saran gue sih, mending kamu buat kebaikan buat Raisya, yang bikin hati Raisya terenyuh." Irwan memberi saran pada Jacky agar bisa mengambil hati Raisya, agar Jacky bisa diterima kembali oleh Raisya.


Setidaknya usaha itu bisa meluluhkan hati perempuan daripada memaksakan diri ingin diterima. Bukankah segala sesuatu juga butuh bukti bukan hanya janji.


Jacky terdiam sejenak memikirkan apa yang sekiranya yang bisa membuat hati Raisya leleh.


"Kasih aku contoh! Aku masih bingung Wan." Jacky menoleh ke arah Irwan berharap Irwan memberikan masukan.


"Kamu lebih tahu apa yang dibutuhkan Raisya saat ini Jack. Mungkin Raisya ingin hal asuh Arsel kembali. Raisya sudah kehilangan bayinya. Mungkin kehadiran Arsel bisa mengobati hatinya untuk waktu sekarang." Irwan memberi masukan yang sekiranya bisa mengambil hati Raisya.


"Kamu benar Wan. Kenapa aku tidak kepikiran ke sana. Tapi.. aku tidak yakin apakah papih akan memberikan hak asuhnya atau tidak." Jacky menatap kosong ke arah depan tanpa tahu apakah dia bisa membujuk tuan Robert untuk memberikan Arsel pada Raisya atau tidak. Jacky merasa pesimis.


"Ya tergantung. Jika kamu mau Raisya menerima kamu, kamu harus berjuang Jack!" Ucap Irrwan melihat Jacky yang sedang melamun dengan tatapan kosongnya.


"Iya. Nanti aku pikirkan." Jawab Jacky lirih.

__ADS_1


"Sebaiknya sekarang kamu pulang Jacky! Ini sudah malam. Sherly pasti khawatir jika kamu terlalu lama di sini." Irwan berdiri hendak meninggalkan Jacky.


"Baiklah Wan. Aku pulang dulu. Titip salam buat Ratna juga Raisya." Jacky ikut berdiri lalu keduanya saling berpelukan. Irwan menepuk-nepuk bagian punggung Jacky memberi motivasi padanya agar tidak mudah menyerah.


Keduanya pun berpisah. Setelah melihat Jacky pergi, Irwan pun masuk ke dalam ruangan.


"Assalamu'alaikum." Ucap Irwan begitu masuk. Dua perempuan yang sedang duduk berhadapan pun mengalihkan pandangan ke arah pintu.


"Waalaikumsalam." Keduanya kompak menjawab sambil tersenyum. Irwan pun tersenyum memasang muka bahagia nya.


"Apa kabar Sya?" Irwan duduk di samping Ratna sambil menanyakan kabar Raisya.


"Alhamdulillah. Baik Wan.. kamu sendiri bagaimana?" Raisya balik bertanya pada Irwan.


"Alhamdulillah aku sekeluarga baik Sya." Jawab Irwan sambil menggandeng mesra istrinya.


Terkadang terlintas di hati Raisya ingin sekali mempunyai rumah tangga yang tenang seperti Ratna. Tapi entah kenapa, sejak awal pernikahannya selalu saja diuji oleh beberapa masalah yang tidak mudah dijalani Raisya. Tanpa terasa kedua kelopak matanya meneteskan airmata.


"Sya.. " Ratna langsung mendekati Raisya dengan menarik kursi yang sedang didudukinya. Dia segera mengambil tisu dan menghapus air mata Raisya. Ratna tak ingin melihat Raisya bersedih. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba Raisya terlihat sedih seperti itu.


Raisya memaksakan diri tersenyum sambil melihat wajah Ratna yang juga terlihat cemas.


"Kamu kenapa Sya?" Ratna memastikan sahabatnya kenapa menitikkan airmata. Dia tidak sampai hati jika Raisya harus bersedih.


"Tidak Rat.. aku hanya bahagia bisa melihat kamu lagi. Aku senang melihat kamu bahagia." Jawab Raisya menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Aku juga Sya... aku bahagia sekali melihat kamu sadar lagi. Tiap malam aku tidak bisa tenang melihat kamu tidur terus. Semoga kamu selalu sehat ya Sya! Jangan sakit lagi Sya! Sehat terus.. jangan lupa kamu harus bahagia. Mulai sekarang kamu carilah kebahagiaan kamu sendiri." Ratna mengelus lembut pipi Raisya sambil menghapus air matanya yang masih menetes.


"Kalau Raisya sudah keluar dari rumah sakit bagaimana kalau kita pergi ke Bandung? Kita liburan di sana?" Irwan menghibur kedua perempuan itu agar kembali ceria.


"Bagaiama Sya?" Ratna menyambut ajakan suaminya yang selalu bisa menghibur dirinya. Ratna dengan antusias melihat Raisya begitu suaminya mengajak liburan.


"InsyaAllah.. " Raisya mengangguk setuju.


Ketiganya tersenyum bahagia. Sepakat membuat rencana untuk liburan. Setelah itu mereka mengobrol yang ringan-ringan dan sesekali di iringi gelak tawa.


*****


Jacky melakukan mobilnya dengan lesu kembali pulang ke rumah. Tepatnya rumah peninggalan Nathan.


Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Jacky memarkirkan mobilnya di depan rumah. Sang security yang setia menunggu di depan post kembali menutup pintu pagar setelah majikannya masuk.


Jacky masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa ruangan tamu. Lelah hati dan jiwa sedang dia rasakan. Nasibnya seperti di gonjang-ganjing ke sana kemari. Itu semua akibat dari perbuatan dia sendiri. Dia menciptakan nasibnya dan memilih nasibnya. Bukankah semua keburukan itu datang dari manusia itu sendiri?


"Kamu kemana aja Jack?" Sherly dengan langkah lemah menghampiri Jacky yang sedang duduk berselonjor di sofa. Sejak tadi dia tidak bisa tidur menantikan kepulangan Jacky.


"Kamu belum tidur Sher... " Tanya Jacky dengan tatapan lesunya.


Sherly menggelengkan kepala.


"Kalau aku pulang telat jangan tunggu aku. Kamu harus beristirahat teratur, apalagi kamu sedang mengandung." Jacky mengusap punggung Sherly. Jacky selalu memperlakukan lembut Sherly. Itu dia lakukan karena dia tak ingin Sherly sedih dan Jacky ingin Sherly bahagia. Bahkan Sherly nekad untuk hamil dari Jacky, dan menghentikan pengobatan kimia dan beralih ke pengobatan tradisional.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur." Ucap Sherly sambil menyandarkan tubuhnya di dada Jacky yang terasa menenangkan di penciuman Sherly.


__ADS_2