
PoV Nathan
Ya.. aku ingin sekali menghancurkan pernikahan mereka. Entah kenapa, Padahal sebelumnya aku sudah memaafkan keduanya. Tapi setelah Jacky menerobos masuk ke kamarku dan berakhir tragedi Raisya, hal itu membuat penyakit lamaku kambuh.
Apalagi Jacky seolah ingin merebut Raisya dari tanganku. Meski Raisya yang aku nikahi bukanlah Raisya yang dulu. Raisya yang anggun dan menutup bagian tubuhnya dengan rapih.
Ya momen itu akan aku buat mereka merasakan hal yang sama, sakit. Bedanya kalau kami sama-sama tidak mencintai, tapi kalian sama-sama pernah saling mencintai. Itu pastinya bakal lebih sakit.
Aku menyuruh Reza membuat penampilan Raisya menjadi terbaik. Aku menjemput Raisya ke butik itu, penasaran bagaimana penampilannya. Aku tidak akan membiarkan orang lain menikmatinya lebih dulu.
Begitu aku melihatnya, semua bulu halus di tubuhku seolah berbaris tegak sebagaimana juniorku. Apalagi saat harus berfoto pikiran ke laki-lakianku menjelajah kemana-mana. Itu membuatku menderita. Aku menyudahi sesi foto lebih cepat agar bisa mengendalikan diriku sendiri.
Ya sepanjang jalan tak henti-hentinya aku memikirkan wanita yang ada di sebelahku. Kadang aku juga berpikir, apakah dia juga memikirkan diriku tidak?
Sampai di tempat pesta aku mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Aku ingin melihat reaksi mereka setelah melihat Raisya.
Satu orang berhasil aku perdaya. Jacky memeluk Raisya dengan rasa sakit. Aku tertawa menang dalam hati. Aku berhasil membalas sikap kurang ajar Jacky padaku.
Ya aku turun dari altar. Aku melihat Adam sendirian di tengah lautan tamu istimewa. Aku menghampirinya agar tidak terlihat menyedihkan.
Setelah aku berbincang dengan Adam, aku lupa akan tujuan awal. Aku asik berbicara dengan beberapa kolega dan mengabaikan Raisya juga Michel.
Tadi aku sempat tenang karena melihat Raisya bersama Michel asik memilih menu, makanya aku tidak mengkhawatirkan keduanya.
Sampai Adam menunjukkan padaku ke arena dansa. Aku melihat Raisya sedang menari di sana dengan seorang laki-laki yang aku tidak tahu siapa dia. Anehnya ketika melihat aksi mereka berdansa dadaku merasa sesak dan aku tak bisa menerima Raisya ada dalam pelukan laki-laki lain. Aku menghampiri keduanya tanpa mereka sadari.
Begitu musik beralih ke arah tempo cepat aku siap-siap menangkap Raisya. Dan Raisya pun kaget melihat aku menjadi pasangannya. Aku membisikan sesuatu pada telinganya. Aku tak ingin diperlakukan beda dengan laki-laki tadi. Tapi aksiku malah membuat para tamu menerjemahkan lain. Aku disangka sedang menggodanya. Dan itu berhasil membuat Jacky kepanasan.
Dan di penghujung acara dansa, aku malah dituntut oleh para tamu untuk menciumnya di depan umum. Ini kali pertama aku menunjukkannya di depan orang banyak. Untuk menutupi dramaku aku terpaksa menciumnya.
__ADS_1
Dan lagi-lagi hal itu sukses membuat Jacky kabur dari altar dan meninggalkan Sherly seorang diri.
Ya rencanaku sukses besar.
Lalu aku memilih pulang lebih cepat setelah rencana yang aku buat selesai.
Entahlah karena aku mabuk, ketika melihat Raisya dengan pakaian minim hasratku meningkat. Aku ingin menuntaskannya segera dan memaksanya masuk ke dalam kamar.
Aku marah dan kesal karena dia menolak permintaanku. Buatku itu sah-sah saja karena kami telah sah menjadi pasangan suami istri meski tanpa cinta.
Tapi karena dia terus-menerus menolak aku tak tahan sampai menamparnya. Aku mendorongnya dengan paksa agar bisa sampai di atas ranjang.
Namun naas, karena pandanganku kabur, Raisya malah membentur nakas.
Aku terkejut bukan kepalang begitu Raisya tergeletak di atas lantai dan mengeluarkan darah. Aku syok. Bayangan itu kembali hadir. Badanku gemetar hebat dan aku takut aku mengulang kesalahan yang sama.
Untung mang Syarif segera menghubungi Reza dan memangil dokter keluarga ke rumah dengan cepat. Dari sana aku tidak tahu lagi karena aku tertidur lelap sampai pagi.
Ketika keduanya sedang bicara di meja makan aku keluar dari kamar karena penasaran ingin melihat keadaannya.
Ya aku sedih.. ketika Raisya menertawakan masalah cinta. Benar apa yang dikatakannya. Aku memang buta. Aku tak bisa mengenali mana itu cinta dan mana itu nafsu.
Sejak itu aku berjanji. Aku tidak ingin menyakitinya. Aku tak ingin melampiaskan hasrat ku padanya. Aku takut jika aku melampaui batas emosiku. Maka aku berinisiatif menyewa perempuan bayaran untuk menuntaskan kebutuhanku yang sudah ku tahan bertahun-tahun.
Ya walaupun aku terpuaskan. Tapi entah kenapa nama itu yang ku sebut di penghujung puncak nirwana. Aku tak habis pikir kenapa tubuhku dan pikiran ku tidak sejalan.
Selesai menuntaskan hasratku, aku langsung mengusir wanita itu. Aku hanya duduk di belakang pintu begitu suara Raisya terdengar menginterogasi wanita bayaran itu.
Sakit. Ya sakit rasanya hatiku harus berbuat seperti itu. Aku tahu walaupun Raisya setuju kita menikah dalam perjanjian, naluri wanitanya pasti tersinggung.
__ADS_1
Biarlah dia kalau menangis, asal aku tidak menyakiti pisiknya.
Setelah aksi panasku selesai, aku malah mengurung diri di kamar. Aku tak berani menampakkan muka di depan siapapun setelah perbuatan kotor tadi aku lakukan.
Ya aku memilih tidur meski perutku keroncongan. Setelah bangun aku membersihkan tubuhku dan berniat mencari kesenangan di luar sana sambil mencari makan.
Aku tak menyangka yang mengetuk pintu itu adalah Raisya. Aku mengira adalah bi Siti, makanya aku menyuruhnya masuk.
Aku sempat kaget dan mematung melihat Raisya ada di depanku. Apalagi dia memakai kerudung dan menutup semua bagian tubuhnya dengan rapih.
Tak sedikitpun aku melihat raut wajahnya sedih ataupun marah padaku. Malah dia dengan sopan menawari aku makan malam bersama dengan menu yang aku suka.
Aku bukannya menolak, tapi aku merasa malu sekali padanya. Padahal aku sangat ingin menerima tawaran itu. Aku memutuskan diam. dan tak menjawabnya. Aku memilih pergi dari rumah karena tak sanggup untuk menghadapi kenyataan bahwa pernikahan kita adalah pura-pura.
Aku memutuskan pergi ke klub. Aku duduk di kelas ViP dan memesan makanan untuk mengganjal perutku yang sedari tadi kosong.
Ditengah aku menikmati pesanan, tiba-tiba ada yang duduk di sampingku. Aku menoleh ke arahnya.
"Sherly... " Aku kaget, kenapa dia ada di sana.
"Hhmmm... Sama-sama kesepian rupanya." Sherly rupanya mengolok-olok diriku yang terlihat lebih menyedihkan daripada dia.
"Kenapa lapar?" Sherly melihat isi piring yang tak biasa dipesan oleh pendatang dengan perut penuh.
"Nih aku traktir minum!" Dia menyodorkan segelas minuman padaku.
Aku meminumnya sedikit karena sudah lama tidak pernah minum.
Aku berdiri hendak meninggalkan Sherly.
__ADS_1
"Mau kemana? Ini masih siang. Istrimu juga belum tidur."