
Acara lamaran pun digelar. Walau hanya acara sederhana, orang tua Raisya tetap menyiapkannya dengan matang. Tenda di depan rumah dipasang rapih. Begitupun untuk makanan ibunya sudah menyiapkan cetering dari restoran yang lumayan cukup mahal. Keluarga Raisya tidak ingin mengecewakan calon besannya yang nota bene dari kaum atas. Meski dirinya orang biasa-biasa, tapi keluarga Raisya tidak ingin terlihat lemah di mata mereka.
Empat mobil mewah berderet di depan halaman rumah Raisya. Dua mobil isinya hanya barang-barang untuk lamaran. Satu mobil Jaguar milik Jacky dan satu mobil Alphard milik tuan Robert.
Mereka disambut hangat oleh keluarga Raisya dengan mengundang MC dan beberapa tokoh yang ada di sekitar lingkungan rumahnya.
Sambutan diserahkan pada pak Rt dan tokoh sebagai pembuka. Dan selanjutnya adalah acara sambutan dari keluarga laki-laki yang langsung dibawakan oleh tuan Robert itu sendiri. Acara penerimaan lamaran langsung diterima oleh ayah sambung Raisya.
Acara ramah tamah pun selesai. Sekarang giliran Raisya keluar untuk acara pemakaian cincin oleh calon ibu mertuanya sebagai tanda ikatan dari keluarga laki-laki.
Sepasang mata dari tadi tak mau lepas menatap Raisya. Siapa lagi kalau bukan Jacky. Ya dia hanya bisa menatap dengan hampa melihat Raisya kembali menjadi milik orang lain. Tak bisa dipungkiri setelah Jacky putus dari Sherly hatinya tak bisa lepas dari Raisya. Meski dia pernah dekat dengan beberapa wanita, tapi entahlah hatinya hanya berisi satu nama, Raisya.
"Hei.. tuh mata dikondisikan!" Ratna yang sedari tadi duduk dekat Jacky terus melihat orang yang di sampingnya.
"Ini juga sudah terkondisikan lho!" Ucap Jacky menahan senyum.
"Lah... katanya mau ditaa'rufin. Giliran lihat yang di depan itu mata gak gudhul bashor." Ratna kembali menimpali. Dua orang ini kalau sudah ketemu seperti Tom and Jerry saja.
"Apaan tuh? Gue kagak ngarti." Jacky agak beebisik.
"Nunduk bro!" Irwan menjawab dari sisi lain.
Sejak kedatangan dari Jakarta Jacky sengaja duduk di dekat Ratna dan Irwan. Keduanya memang sudah nyaman diajak ngobrol oleh Jacky. Makanya tak heran pertama yang ditemui Jacky waktu datang ke Jakarta adalah sepasang suami istri ini.
"Oh.. iya ntar gue nunduk kalau giliran Raisya menghilang." Jacky melipat dada lalu kembali melihat ke depan.
Raisya nampak cantik sekali. Dengan gaun dan kerudungnya yang senada juga make up tipisnya membuat tampilannya semakin anggun. Cincin berlian yang dibelikan nyonya Rosa tersemat sudah di jari manisnya. Ibu satu anak ini masih terlihat cantik malah semakin menarik diusianya yang menginjak 33 tahun ini.
Acara lamaran pun selesai kalau para tamu dipersilahkan untuk makan.
__ADS_1
Dua keluarga saling mengakrabkan diri dan berbincang untuk berubah rencana pernikahan putra-putrinya.
"Saya atas nama keluarga mengucapkan banyak terima kasih atas sambutan dan keluasan hati untuk menerima putra Kami Nathan sebagai suami Raisya. Saya sebenarnya malu, setelah kegagalan pernikahan Adam dan Sarah, juga kemarin perceraian Nathan dan Raisya. Penyebabnya adalah putra kami. Saya berharap untuk sekarang dan kedepannya mereka bisa menyatu kembali." Tuan Robert sudah sedikit berubah, tidak seegois dulu.
"Saya juga mohon maaf jika putri kami kurang sabar dalam menjalani rumah tangganya. Dan saya ucapkan terimakasih pada besan yang sudah mau menerima putri kami yang banyak kekurangan." Ucap ibunya Raisya berbasa-basi.
"Iya. Orang tua hanya berharap dan berdoa untuk kelanggengan rumah tangga mereka. Kebahagian mereka adalah kebahagian kami juga." Ucap ibunya Jacky ikut berbicara.
"Iya kita doakan semoga rumah tangga mereka rukun dan langgeng." Ucap ibunya Raisya mendoakan rumah tangga putrinya.
"Aamiin." Mereka serempak mengaminkan doa.
"Oh iya. Apakah Raisya tidak keberatan kalau pernikahannya dipercepat? Saya berharap dengan menikahnya Raisya dengan Nathan, kesehatan Nathan bisa cepat pulih." Tuan Robert menanyakan Raisya.
"Raisya?" Ibunya Raisya menoleh pada Raisya menunggu jawaban.
Raisya mengangguk setuju.
"Saya tergantung Raisya pak Robert." Ibunya kembali melihat Raisya.
"Saya setuju." Raisya tidak dapat menolak lagi.
"Baiklah kalau begitu. Saya sangat menghargai keputusan Raisya. Dan saya ucapkan terimakasih, Raisya mau kembali rujuk dengan Nathan. Saya pun berharap Sarah bisa menerima kembali Adam." Pak Robert tak meu menyia-nyiakan kesempatan ini untuk meminta orang tua Sarah menerima Adam lagi sebagai menantu.
"Iya. Nanti akan saya bicarakan dengan Sarah. Kebetulan dia masih di Amerika bersama ayahnya." Ucap ibunya Raisya.
"Oh.. di Amerika?" Tuan Robert sepertinya kaget mendengar keberadaan Sarah.
"Iya. Dia ikut membantu saudaranya mengurus rumah sakit." Jawab ibunya Raisya apa adanya.
__ADS_1
"Wah.. kebetulan sekali. Adam juga baru dialihkan beberapa hari kesana." Entah apa yang akan direncanakan tuan Robert setelah mendengar keberadaan Sarah yang sama-sama di Amerika.
Obrolan hangat diantara dua keluarga sepertinya belum bisa berhenti. Tapi Raisya juga tidak bisa terus menerus tinggal bersama mereka mengingat Arsel sedari tadi dititipkan pada Irwan.
"Maaf pih, saya permisi dulu mau mencari Arsel." Ucap Raisya meminta izin.
"Oh.. ya ampun.. saya jadi lupa saking asiknya mengobrol. Padahal saya juga mau kangen-kangenan sama cucu saya." Tuan Robert langsung berdiri.
"Gak usah dicari! Nih anaknya!" Jacky yang dari tadi menggantikan Irwan menggendong Arsel langsung membawa Arsel mendekati Raisya.
"Eh.. ma kasih. Tidur ya?" Raisya menarik Arsel akan menggendongnya.
"Tunjukin kamarnya biar aku baringkan!" Ucap Jacky tidak membiarkan Raisya menggendongnya.
"Oh.. iya." Jawab Raisya cukup gugup. Orang yang dia hindari malah sedang menggendong Arsel.
Tadi Irwan tidak kuat ingin ke toilet ditambah si kembar sedang rewel ingin sama-sama digendong. Ratna agak kewalahan karena si kembar tidak mau dibujuk.
"Sebelah sini!" Raisya mengarahkan Jacky ke lantai dua kamarnya.
Jacky menurut mengikuti arahan Raisya sambil menggendong Arsel.
Raisya membuka kamarnya lalu diikuti Jacky. Setelah Jacky masuk, Raisya menutup pintu kamarnya dan segera merapihkan bantal yang akan dipakai Arsel.
Jacky membaringkan Arsel perlahan ke ranjang takut anak itu terbangun.
"Lucu juga anakmu!" Ucap Jacky setelah membaringkan Arsel di tempat tidur. Netra Jacky langsung menatap Raisya yang masih berdiri di sampingnya.
"Terimakasih." Jawab Raisya lirih.
__ADS_1
"Mmm." Jawaban Jacky singkat dengan deheman. Sekarang hatinya sedang berdebar tidak karuan apalagi dia sedang di kamar berduaan.