Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Menunggu


__ADS_3

"Kita akan mengunjungi gerai-gerai terdekat dulu sebelum gerai luar kota. Siapkan diri kamu dan buatkan laporannya. Kemungkinan kita akan pulang malam hari." Suaranya terdengar mendominasi.


"Baik pak!" Ratna menjawab.


"Yang lain bikin planing ke depan dan buatkan laporannya. Nanti kita rapat team setelah survei pasar selesai."


"Baik pak!" yang lain menjawab serempak.


"Reza.. kamu siapkan berkas yang akan kita pelajari!"


"Baik pak!"


"Sudah kita pergi sekarang!"


"Baik pak!" Jawab Reza dan Ratna.


Ketiganya keluar dari ruangan menuju parkiran. Untuk mengunjungi beberapa gerai. Untuk meninjau ulang starategi marketing perusahaan ke depan yang lebih baik.


"Kamu bawa kendaraan?" Nathan bertanya pada Ratna.


"Tidak pak!" Jawab Ratna dengan wajah semu merah. Merasa senang ditanya oleh Nathan.


"Kamu tadi sama temen kamu naik apa ke kantor?" Nathan sedang menyelidiki Raisya lewat Ratna.


"Tadi kami naik mobil online pak!"


"Hhhm. Kalian tinggal bersama?"


"Tidak pak! Teman saya kost." Jawab Ratna.


"Kok bisa berangkat bersama? Kalian tinggal dekat?"


"Tidak pak! Saya kemarin menginap." Terang Ratna.


"Hhhm."


"Dulu Raisya juga tim pemasaran pak! Tapi semenjak tuan Jacky pindah ke divisi keuangan dia juga dipindahkan." Reza menimpali.


"Kenapa dipindahkan?"


"Bu Mia yang memintanya."


"Dia punya kelebihan apa?"


"Dia punya analisa data yang cukup kompeten di bidangnya. Waktu di bagian marketing dia banyak membantu strategis pasar dengan analisa pasar potensial."


"Hhhmm." Nathan berusaha mencerna apa yang dikatakan Reza.


"Lalu sekarang di divisi kita siapa yang paling handal membuat analisa data?

__ADS_1


"Standar pak! Malah lebih ke monoton. Kemarin malah banyak ide dari pak Ericson saja. Yang lain hanya mengikuti perintah."


"Wah.. kacau kalau begitu. Sebenarnya bagian keuangan tidak perlu orang seperti dia. Apakah kita bisa menarik dia kembali?"


"Tidak tahu pak. Kecuali pak Adam yang memberi perintah."


"Aku pengen tahu sepintar apa dia?" Nathan menatap ke luar jendela.


Ratna hanya terdiam mendengarkan penjelasan Reza pada Nathan. Dirinya hanya menunduk. Ratna tak bisa berkutik dengan penilaian Nathan di mata divisinya.


Ketiganya turun di gerai cabang. Nathan kembali mengatur strategi tiap gerai, untuk meningkatkan penjualan. Dan laporan-laporan penjualan sedang dikumpulkan Ratna untuk bahan analisa.


####


"Sya.. udah jam empat nih!" Gue mau siap-siap." Cicit Hesti dari dalam kubikelnya.


"Iya mbak duluan aja! Saya belum beres nih!" Raisya hanya merentangkan keduan tangannya untuk mengatasi rasa pegalnya.


"Sampai mana yang udah diberesin Sya?" Hesti melongok ke kubikel Raisya.


"Aku baru beres bikin laporan tiga tahun terakhir. Analisa rugi laba nanti mungkin abis ini mbak. Dan untuk laporan keuangan tiap divisi kayanya harus meeting sama tiap divisi mbak. Dan gak mungkin beres dalam jangka sehari." Keluh Raisya.


"Dasar si Jacky, gila dia. Itu kan harusnya kerjaan dia sama bu Mia. Masa elu sendirian yang akan turun tangan. Tapi... " Hesti tiba-tiba berhenti bicara.


"Apa mbak?"


"Kayanya elu akan naik jabatan. Jadi lagi uji coba dengan tugas itu." Hesti menemukan ide.


"Jangan begitu! Rejeki, jodoh dan kematian sudah ditakdirkan. Kali aja abis naik jabatan elu dipinang sama yang punya perusahaan. Jadi nyonya besar, kagak usah kerja. Hi Hi Hi... " Hesti tertawa.


"He he he... mbak kalau melamun tuh ketinggian. Mana ada mbak yang mau saya? Lagian aku gak cantik, gak kaya. Logikanya orang kaya nikah sama kaya lagi. Biar kekayaannya terus bertambah." Tukas Raisya.


"He iya iya.. banyak haluu.. kaya drakor aja. Di mana-mana juga kaya gitu nyatanya. Ya udah.. good luck end goodbye deh. Gue mau pulang duluan ya! Eh elu.. gimana nanti kamu elu butuh info? Elu kan gak ada handphone?"


"Iya ntar pake email aja!"


"Ih elu kenapa gak pake aja handphone pemberian si Jacky sih?"


"Aku belum punya duit mbak... "


"Emang sih.. bingung juga ya? Diambil takut ditagih. Gak diambil pasti butuh. Dianggurin malah jadi sengketa. Terserah elu deh.. yang jelas mending elu ngomong baik-baik biar si Jacky ga tersinggung." Saran Hesti yang sudah siap meninggalkan kantor.


"Iya mbak ati-ati dijalan!"


"Kamu juga! Jangan terlalu maksain!" Hesti memberi saran.


"Iya mbak."


"Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Hesti berlalu dari ruangan. Raisya kembali menyelesaikan kerjaannya. Dia melihat ke dalam ruangan. Terlihat Jacky masih ada di dalam begitu juga bu Mia.


"Mungkin sebentar lagi mereka akan pulang." Raisya bergumam sendiri.


"Raisya berdiri mendekati mesin printer dan mencetak hasil kerjaannya. Sementara itu dia sambil mengolahragakan badannya mengamati Jacky yang masih bekerja.


Lalu kembali ke kursi mengamati komputernya.


"Raisya kamu masih disitu?" Bu Mia memanggilnya.


"Iya bu." Raisya berdiri dan dilihatnya bu Mia sudah menenteng tasnya sudah siap pulang.


"Kamu masih mengerjakan tugas?" Bu Mia melihat Raisya. Di mata bu Mia Raisya sudah terlihat lelah.


"Iya bu." Raisya menjawab.


"Hhmm.Ya sudahlah! Ibu pulang dulu. Kalau selesai kasih ke Jacky biar dia periksa dulu! Kamu juga jaga kesehatan!" Saran bu Mia.


"Iya bu. Terimakasih."


"Aku pulang dulu. Assalamu'alaikum." Bu Mia berlalu dari hadapan Raisya.


'Waduh aku belum shalat ashar." Raisya baru sadar ini sudah jam setengah lima. Buru-buru dia pergi ke toilet mengambil wudhu, lalu menggelar sajadahnya dekat kubikelnya.


Sementara ditempat lain seorang bocah setia sedang menunggu di depan halaman rumahnya yang besar ditemani babysitternya


"Daddy ko jam segini belum pulang ya?" Anak itu bicara sendiri sambil memegang handphone yang diberikan ayahnya. Handphonenya sudah disetting tidak bisa menerima panggilan atau pun berkirim pesan. mode off.


"Michel mau nelepon ayah?" Babysitter menawarkan pada Michel sebuah handphone miliknya jika ingin berbicara pada ayahnya.


"Tidak. Aku mau nunggu saja. Aku gak mau rewel. Nanti tantenya gak bakal datang kesini kalau Michel nya rewel." Tolak Michel yang sedari pagi dia sudah membuktikan dirinya tidak mau rewel karena ingin bertemu Raisya.


Ada perasaan kasihan melihat anak itu yang tidak biasanya tidak rewel dan jadi penurut demi janjinya pada ayahnya.


Satu jepretan foto Michel terkirim pada Nathan yang dikirim babysitter ketika Michel sedang duduk. Dia juga mengabarkan kondisi anaknya pada Nathan.


Satu panggilan masuk melalui handphonenya dan langsung diberikan pada Michel.


"Michel. Ini Daddy!" Babysitternya menyodorkan handphone pada Michel.


"Halo Daddy.. "


"Michel sudah makan?"


"Sudah." Anak itu terlihat menggemaskan.


"Michel. Sepertinya daddy malam ini pulang telat. Michel kalau mengantuk tidur duluan ya!"

__ADS_1


"Iya."


__ADS_2