Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Diputisin itu sakit


__ADS_3

"Maaf nona dan pak Baron tidak apa menunggu dulu?" Ucap Bi Riri sambil merapihkan barang milik Jason dan juga milik Ramos.


"Kenapa baru dirapihkan bi?" Tanya Baron heran.


"Iya pak Baron, dikira bibi, bapak mau menempati kamar tamu. Tapi pak Jason menyuruh bibi membersihkan kamarnya dan juga kamar pak Ramos." Bi Riri juga heran dari kemarin kamr tamu sudah rapih tapi malah harus merapihkan kembali kamar yang sudah biasa ditempati atasannya itu.


"Oh.. gitu? Mana Ramos sama Jason?" Tanya Baron sambil mengedarkan pandangan. Raisya dan Baron duduk di tempat lobi sambil menunggu bi Riri selesai membereskan kamar yang akan ditempati.


"Mereka sedang pergi ke kamar tamu pak. Menyimpan barang-barangnya." Jawab bi Riri sambil menyelesaikan pekerjaannya.


"Lah.. " Baron langsung menelpon kedua bawahannya.


"Iya halo pak?" Jason langsung menyapa.


"Kenapa aku harus menempati kamar kalian?" Tanya Baron agak heran.


"Kan tadi bapak ingin kamarnya berdampingan dengan kamar bu Raisya. Kalau kamar tamu kan letaknya satu sama lain berjauhan pak." Jawab Jason sambil membereskan baju-baju nya ke dalam lemari yang ada di kamar tamu.


"Ya gak begitu juga kali. Kalau memang tidak ada yang kosong, biar aku sama bu Raisya menempati kamar tamu saja." Baron yang ingin segera beristirahat agak kurang sabar harus menunggu bi Riri merapihkan semua kamar yang akan ditempatinya.


"Jadi bagaimana pak?" Jason malah tambah bingung. Biasanya pak Baron datang dengan asistennya menempati kamar tamu yang sudah tersedia di perusahaan. Dan kali ini dia membawa seorang perempuan dan menginginkan kamar yang tidak berjauhan letaknya. Hanya kamar karyawan dan staff yang memang posisinya saling bersebelahan.


"Ya sudah.. tanggung soalnya. Aku tunggu bi Riri saja!" Baron mematikan handphonenya tanpa izin.


"Ih.. si bos suka gak jelas. Bikin orang bingung." Keluh Jason.


"Kenapa emang?" Ramos heran melihat Jason menggerutu. Biasanya laki-laki itu jarang sekali mengeluh.


"Ya.. biasalah.. lagi pms mungkin." Jason asal menjawab.


"Wah.. gak jadi dong dapet kehangatan kalau pms gitu?" Ramos yang pikirannya keruh malah kepikiran pada hal lain.

__ADS_1


"Dasar maniak." Jason melengos tak mau tercemari pikiran kotor asistennya itu.


"Ih.. dasar kepala es batu. Kapan cairnya tuh benda sakti kalau di kulkas terus." Ramos menggeleng-gelengkan kepalanya. Heran ada lelaki sekuat Jason dalam hal wanita. Padahal usianya sudah 35. Dia masih saja menjomblo dan tak mau juga main cewek. Kalau laki-laki lain mungkin sudah gak tahan. Meski digoda dan ditawari Jason kuat iman tidak mudah goyah untuk menerima seorang perempuan apalagi yang bersifat ilegal di luar nikah.


"Maaf tuan nona harus menunggu lama." Bi Riri sudah selesai membersihkan juga merapihkan dia kamar yang akan ditempati Raisya juga Baron.


"Gak pa-pa bi, santai saja!" Raisya menjawab sambil tersenyum melihat perempuan paruh baya itu merasa bersalah karena terlambat membersihkan kamar yang baru saja dibersihkan.


"Silahkan nona, tuan kamarnya sudah siap! Yang sebelah sini untuk nona dan yang sebelah sini untuk tuan." Bi Riri menunjukkan kamar yang sudah disediakan untuk keduanya sambil membantu menggeret koper bos besar mereka.


"Iya Terima kasih bi. Panggil saja saya Raisya." Raisya memperkenalkan dirinya.


"Saya biasa dipanggil bi Riri. Jangan sungkan jika nona ingin meminta bantuan termasuk untuk mencuci pakaian dan menyetrikanya. Semua staff disini sudah biasa menggunakan jasa saya untuk hal itu." Bi Riri memberitahu Raisya sebagai orang baru.


"Oh iya baik bi." Jawab Raisya sambil menganggukkan kepala.


"Sebenarnya disini semua mes berisi laki-laki. Aku khawatir jika kamu terlalu jauh dari jangkauan aku. Khawatir ada yang iseng. Makanya tadi aku menyuruh Jason mencarikan kamar yang dekat-dekat sama aku. Bukan apa-apa, untuk urusan perempuan aku hanya percaya dengan Jason saja." Baron setengah berbisik memberitahu Raisya khawatir terdengar oleh yang lain.


"Ayo kita masuk! Jangan lupa nanti jam 2 setelah makan siang kita ada rapat. Jadi sekarang kamu bisa istirahat dan menyiapkan diri." Baron yang sudah menerima schedule dari Jason memberitahu pada Raisya.


"Baik pak." Raisya pun berdiri lalu melangkah masuk ke kamar yang tadi bi Riri siapkan.


Hawa maskulin di kamar itu masih tercium karena parfum ruangan yang dipasang di sana sesuai dengan selera Jason.


Raisya segera mendaratkan tubuhnya di sebuah kasur yang empuk. Rasa pegal-pegal yang terasa karena guncangan sepanjang perjalanan mampu diredam dengan merebahkan diri di kasur. Semua tulang-tulangnya terasa relaks.


Baru saja Raisya memejamkan mata, sebuah notifikasi terdengar di handphonenya. Tangan Raisya merogoh saku dan mengeluarkan benda pipihnya.


Sebuah pesan tertera di layar handphone.


"Ra.. maafkan aku ya! Maafkan atas kesalahan dan dosa-dosaku selama ini. Aku sering menyakiti kamu dan belum bisa memberi kamu bahagia. Mulai sekarang mari kita melepaskan semuanya. Semua angan yang pernah ada. Semua rasa ya g pernah hadir. Dan Semua gundah yang selalu jadi bayang-bayang. Sekali lagu maafkan aku... meski kesalahan aku tak termaafkan, aku harap pintu hatimu masih bisa terbuka untuk memaklumi semua kesalahan aku. Jaga diri baik-baik. Mulai sekarang aku tidak akan lagi menghubungi kamu dan tidak akan menganggumu lagi. Biarkan rindu pergi bersama angin dan menjauh. Agar hati ini bisa melupakanmu." Jacky

__ADS_1


Deg


Hati Raisya seperti dihantam benda berat dalam dada. Ada rasa sesak juga sakit yang dirasakan Raisya. Meski dari kemarin dia berharap Jacky bisa melepasnya.Tapi begitu dilepaskan dia seperti rapuh. Bukankah ini yang selama ini diharapkan? Kenapa disaat harapan itu terkabul malah seperti tidak rela. Apa itu namanya kalau bukan cinta?


Tanpa terasa air mata Raisya meleleh di pipi.


"Jack... akhirnya kamu melepaskan aku juga.. " Raisya berkata lirih. Bibirnya bergetar dan hatinya serasa perih tersayat.


"Ya Allah... beginikah rasanya putus?" Raisya hanya bicara sendiri.


Tok


Tok


Tok


Di tengah hatinya sedang melow, pintu kamarnya ada yang mengetuk. Raisya buru-buru menyeka air matanya dan bangkit dari tidur.


Dia merapihkan diri sejenak lalu berjalan melangkah menuju pintu.


"Siapa?" Tanya Raisya sedikit menaikan suaranya dari dalam sebelum membuka pintu.


"Aku, Jason."


"Mau apa dia?" Raisya mengernyitkan dahi mempertanyakan maksud kedatangan Jason ke kamarnya.


Krekk


Raisya perlahan membuka pintu dan mengintip di balik pintu.


Jason yang sudah berada di depan pintu agak mengerungkan mata. "Kenapa dia?"

__ADS_1


__ADS_2