
Raisya meyiapkan baju ganti Nathan di atas ranjang. Hari ini dia memulai tugasnya sebagai seorang istri sungguhan.
Nathan yang keluar kamar mandi masih dengan handuk yang terlilit sepinggang memperlihatkan dada bidang juga roti sobeknya, kaget melihat Raisya masih ada di kamarnya.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Nathan masih memegang rambut basahnya sambil melirik Raisya.
Raisya agak malu melihat Nathan dengan penampakannya seperti itu. Walau beberapa kali dia pernah melihatnya tapi keadaan waktu itu seperti memaksa.
Raisya menundukkan pandangannya tak berani menatap langsung. "Aku sudah menyiapkan baju. Kalau sudah selesai, mas bisa turun untuk makan siang." Raisya langsung berlalu meninggalkan Nathan.
"Aduh... hah hah.. " Raisya mengatur nafas sesampainya di anak tangga paling akhir.
"Kenapa nyonya kaya dikejar hantu? Bi Siti yang sedang menata meja menatap heran Raisya yang turun terburu-buru dari kamar Nathan sampai langkahnya yang menuruni tangga pun nyaring terdengar.
"Bi.. bawakan air." Raisya duduk di kursi meja makan meminta segelas air putih.
Tahukah alasan Raisya berjalan terburu-buru? Karena pada kenyataannya Raisya agak takut Nathan langsung menyergapnya apalagi penampilannya tadi seperti itu.
"Ah katanya sudah mau jadi istri sungguhan. Giliran suami sendiri penampakannya seperti itu malah lari." Raisya bermonolog.
Karena terburu-buru nafasnya agak menyesakkan dada. Dan hatinya pun seperti ketakutan. Dia meminta air untuk meredakan kecemasannya.
"Baik nyonya. Ini airnya!" Bi Siti menyodorkan segelas air putih pada Raisya sambil memperhatikannya.
Glek.. glek... air satu gelas langsung masuk ke dalam tenggorokannya. Raisya mengambil nafas lalu mengeluarkannya. Kini perasaannya sedikit tenang setelah minum.
"Ada apa sih nyonya?" Tanya bi Siti penasaran.
"Tidak apa-apa bi." Tak mungkin Raisya berterus-terang pada bi Siti karena malu dan tabu.
"Pak Nathan sudah bangun nyonya?" Setahu bi Siti Raisya naik ke atas untuk melihat suaminya, apakah dia sudah bangun apa belum.
"Sudah bi." Jawab Raisya pendek.
"Tapi belum turun nya?" Bi Siti kali ini benar agak kepo.
"Lagi pake baju bi." Jawab Raisya.
"Ohhh.. " Bi Siti menahan senyum. Sepertinya bi Siti mengerti kenapa Raisya terburu-buru turun.
"Kenapa bi Siti?" Raisya yang melihat bi Siti sedang menahan senyum ingin tahu alasannya.
__ADS_1
"Ah.. tidak nyonya." Jawab bi Siti tidak mau mengungkapkan yang sebenarnya apa yang dia pikirkan.
"Nyonya.. tuan.. " Bu Siti memberi isyarat pada Raisya ketika matanya melihat Nathan keluar kamar sudah rapih.
Raisya siap-siap memasang senyum untuk menyambut suaminya di meja makan.
Langkah demi langkah yang dilayangkan kaki panjang Nathan seolah mengirimkan sinyal pada jantung Raisya. Dan hal itu memicu detak jantung Raisya berdetak lebih kencang dari bisanya. Raisya menatap inten Nathan dari meja makan menantikannya untuk makan bersama.
Nathan menuruni anak tangga melirik sebentar pada Raisya lalu berjalan lurus tanpa menoleh ke depan.
"Eh... nya... kok?" Bi Siti melongo melihat Nathan malah pergi ke luar. Raisya yang tahu Nathan tidak duduk di kursi makan langsung berdiri menyusul ke luar.
"Mas.. tunggu aku!" Raisya menyusul Nathan.
Nathan menoleh melihat Raisya yang sekarang sudah ada di depannya.
"Mas Nathan mau kemana?" Sambil terengah-engah Raisya menanyakan tujuan kepergian Nathan.
"Mau kemana aku pergi, bukan urusan kamu!" Nathan melengos berjalan mendekati mobilnya.
"Aku ikut!" Raisya langsung membuka handle pintu lalu duduk di samping Nathan.
"Kenapa tidak boleh? Aku bosen sendirian di rumah." Ray menoleh ke arah Nathan sambil merajuk.
"Kalau bosen di rumah ya pergi saja jalan-jalan!" Nathan belum menyalakan mesin mobilnya masih dengan raut wajah kesal melihat Raisya.
"Tapi aku mau jalan sama kamu!" Kembali Raisya menjawab dan sedang berusaha mengajak Nathan jalan-jalan bersamanya.
"Apaan sih kamu?" Nathan langsung menyalakan mesin mobil.
"Ya kepingin aja sih. Masa bulan madu dihabiskan di rumah saja?" Raisya memajukan bibirnya.
"Terserah kamu lah!" Jawab Nathan dingin. sambil melajukan mobilnya yang tidak tentu arahnya. Karena niat dari awal dia tak tahu tujuannya mau kemana.
Keduanya fokus melihat jalanan.
Hhhmmm... aku harus lebih keras lagi berjuang. Selama dia tidak melakukan kekerasan dan tidak menolak, aku akan tempel terus.
Raisya berbicara dalam hati menyemangati dirinya sendiri untuk memperbaiki hubungan dengan Nathan meski perasaan mereka belum benar-benar tumbuh.
"Mau kemana ini mas?" Raisya menoleh ke arah Nathan.
__ADS_1
Karena jalanan mulai panas, Nathan sengaja memakai kaca mata hitam. Ya, hidung mancung juga kulitnya yang bule mendukung ketampanannya naik level. Ya meski cuek, penampilannya berhasil membuat Raisya terpana.
"Ngapain kamu liatin aku terus?" Nathan sebentar melirik lalu kembali menatap lurus ke arah jalanan.
"Mas Nathan ganteng juga ya." Raisya semu merah menggoda Nathan. Ini kali pertama dia menggoda laki-laki yang tak lain suaminya sendiri.
Mendengar kalimat yang diucapkan Raisya, Nathan kaget dan spontan saja mengerem gas suara decitan terdengar lumayan keras.
"Ihh... kaget mas! Hati-hati!" Raisya tak kalah terkejut sampai badannya terhuyung ke depan mengenai dasbor.
Untung jalanan yang dilalui tidak terlalu ramai. Kalau tidak bisa menimbulkan tabrakan beruntun.
Nathan melajukan kembali mobilnya. Kali ini mobilnya agak perlahan melaju. Entah apa yang dirasakan Nathan sekarang. Yang jelas dia terlihat seperti ge er karena kulit putihnya terlihat merona merah.
Tangan sebelahnya mengusap area mulutnya ragu ingin mengatakan sesuatu. Lalu dia berdehem.
'Kamu mau kemana?" Tanya Nathan dengan nada suara normal menanyakan keinginan pada Raisya.
"Mau kemana ya? Terserah mas Nathan aja deh.. aku ngikut aja." Raisya kembali menoleh ke arah Nathan sambil tersenyum senang.
Sepertinya rayuan aku berhasil melunakkan hati baja beruang kutub.
"Pantai?" Nathan masih malu-malu menawarkan tempat pada Raisya.
"Wah... mau-mau. Sudah lama banget tidak ke pantai." Jawab Raisya dengan wajah sumringah.
"Ishh... " Nathan mendesis. Dari balik kaca mata hitamnya dia masih melihat ekspresi Raisya yang sedang sumringah.
"Hufff... kalau dia baik kaya gini.. aku mau deh jatuh cinta sama kamu." Raisya tersenyum simpul sambil melihat jalanan tapi tidak jelas apa yang dilihatnya.
"Ngapain kamu senyum-senyum?" Nathan rupanya melihat senyuman Raisya dari balik kacamata hitamnya. Kacamata ini telah berhasil menyembunyikan seseorang dari rasa malu dan kejujuran matanya.
"Mmmm... kalau kamu baik seperti ini.. aku... kayanya bakal. jatuh cinta deh... " Raisya menutup mulutnya setelah mengatakan hal itu pada Nathan.
Cekitttt....
Kali ini bukan hanya rem sementara, tapi malah mobil itu berhenti mendadak.
"Raisya... " Bentak Nathan sambil menoleh ke arah Raisya.
"Astaghfirullah.. mas... "
__ADS_1