
Keesokan harinya.
Raisya agak jenuh juga harus berdiam diri di dalam kamar tanpa aktifitas. Dia berjalan ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Cuman sayang mulai hari ini dan tiga harii ke depan dia tidak bisa mengeramas rambutnya karena luka di kepalanya belum kering betul.
Raisya sekarang mematung di depan cermin setelah berganti pakaian dengan pakaian yang menutup aurat. Walau model kemeja panjang dan kulot longgar berbahan dingin itu sangat nyaman dipakainya.
Setelah ingatannya pulih kembali, Raisya merasa berdosa, karena telah menanggalkan pakaiannya menjadi terbuka. Dia bertekad ingin memperbaiki kesalahannya selama ingatannya hilang.
Hari ini rasanya seperti gabut. Raisya merasa kesepian apalagi Michel tidak ada. Tak ada yang bisa diajaknya mengobrol ataupun bercanda.
Mau keluar? Ah.. bagaimana dengan luka di kepala nya? Dia hanya berjalan mondar-mandir dan berselancar di handphonenya tak tahu siapa yang akan diajaknya untuk sekedar mengobrol.
Apa Michel masih lama di rumah tuan Robert? Apa sengaja dia membiarkan kita berdua tinggal di rumah?
Ya..Seharusnya ini adalah hari-hari terindah yang dirasakan sepasangan insan setelah menikah, tepatnya berbulan madu. Tapi bagi Raisya hari-harinya seperti bulan racun. Bagaimana tidak, mulai dari kejadian di hotel sampai ketika pulang dari pesta tak ada sama sekali kemesraan dan kedamaian. Yang ada hanya ketakutan dan kekhawatiran.
Raisya termenung meratapi nasibnya. "Mungkinkah ini garis takdirnya? Bagaimana dia harus menjalani takdir ini agar menjadi lebih baik? Karena Tuhan tak mungkin mendholimi hambanya. Pasti ada hikmah dibalik semua kejadian ini. Apakah dirinya dikirim untuk memperbaiki keadaan atau ada tujuan lain yang harus dilakoninya?" Itu semua ada dalam pikiran Raisya sekarang. Dia harus berprasangka baik atas semua yang menimpanya.
"Apa aku harus mencoba membuka diri pada Nathan? Apa aku juga harus menerima semua sikapnya yang begitu. Lalu darimana aku harus memulai? Karena selama aku mengenalnya, dia akan selalu berbuat kasar jika dia cemburu. Ya cemburu.. "
"Apa benar yang dikatakan Reza padaku kemarin, bahwa Nathan mencintaiku? Bagaimana dia mencintaiku? Apakah dengan caranya yang kasar? Atau dari sisi mana aku harus mempercayai bahwa dia menyukaiku? Lalu bagaimana dengan diriku sendiri? Apakah aku juga menyukainya?"
"Ah gila... wanita mana yang mau mencintai laki-laki psikopat itu." Raisya menundukkan kepalanya di atas meja rias.
Tuk
__ADS_1
Tuk
Tuk
Suara sepatu terdengar nyaring sampai di kamar yang ditempati Raisya. Kebetulan kamar itu letaknya tidak jauh dari ruang tengah bersebelahan dengan kamar Michel.
Raisya terus menajamkan telinganya. Suara itu terdengar agak aneh. Ketukannya kecil tapi agak keras. "Apa Reza yang datang? Mana ada sepatu laki-laki senyaring itu. Lalu suara sepatu siapa barusan?" Raisya berbicara dengan pikirannya sendiri.
Untuk menuntaskan kepenasarananya, Raisya merapihkan penampilannya lalu mengambil kerudung. Khawatir yang datang adalah orang asing, atau Reza.
Raisya keluar dari kamarnya memeriksa siapa yang baru saja datang. Dia mengedarkan pandangan ke arah ruang tamu, tapi tak ada siapa-siapa. Begitupun di ruang tengah, terlihat sepi. Raisya melanjutkan berjalan ke ruang makan, ditengoknya meja masih rapih tak berpenghuni. Di sana pun tak ada siapa-siapa.
"Lalu siapa yang baru datang barusan? Apa aku tanyakan saja ke pak satpam?" Baru saja Raisya membalikkan tubuhnya, dia mendengar suara dari lantai dua tepatnya dari kamar Nathan.
"Reza kah? Tapi.. suaranya aneh." Raisya mengerutkan dahi melewati batas penasarannya. Raisya menaiki anak tangga menuju kamar Nathan untuk memastikan siapa yang ada di kamar itu.
Suara erotis dan ******* keluar dari suara perempuan dan laki-laki di dalam kamar itu. Raisya melebarkan matanya, jantungnya berdebar tidak menentu dan dadanya bergemuruh. Semakin lama dia mendengarkan suara dari kamar itu kepalanya semakin berdenyut.
"Hah.. apa yang sedang dilakukan mereka di dalam sana?" Raisya menarik telinganya, kulitnya menjadi panas seperti terbakar mendengar suara erotis yang merusak kesucian pikirannya.
Dada Raisya semakin sesak manakala sebuah teriakan Nathan memanggil namanya "Oh... Raisya.... "
Raisya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tak mungkin mereka melakukan hal gila di dalam kamar itu? Bukankah selama ini dia tidak pernah membawa perempuan?"
"Ah.. laki-laki mana yang bisa menahan hasratnya bertahun-tahun. Dia pasti membutuhkan pelepasan. Tapi? Kenapa dia harus menyebutkan namaku di dalam sana? Apa ada nama Raisya juga?" Raisya terus saja berbicara dengan pikirannya. Dia seperti linglung mendengar suara-suara itu.
__ADS_1
Sejenak hening
Jantung Raisya masih tetap berdetak tidak tenang. Badannya kini lemas tak berdaya manakala suara erotis kembali menyala seperti kaset yang distel ulang. Raisya tak kuat menahan rasa yang menyesakkan dada. "Mungkinkah Nathan melakukan sesuatu dengan perempuan lain di kamarnya?"
Ingin sekali Raisya mendobrak pintu kamar itu untuk melihat jelas, apa yang terjadi di dalamnya. Kekotoran apa yang dilakukan sang penghuni kamar sampai suara-suara itu harus keluar bukan pada pasangan yang sah. Apakah pantas dihari bulan madunya harus berbuat semesum itu?
Kalaulah iya. Hancurlah harga diri Raisya.
Dengan berpegangan ke besi di tangga, Raisya turun dari lantai dua, duduk di kursi makan menenangkan gejolak pikirannya yang dibuat kacau.
Raisya mengambil gelas lalu meminum air putih itu seperti kehausan. Bingung
"Ya Tuhan.. Tak ada yang salah dengan ijab qobul itu. Yang salah pelaku di dalamnya yang telah merusak makna suci sebuah pernikahan karena maksud tertentu. Aku...yang akan paling besar menanggung beban dosa karena beberapa kali menolaknya berhubungan intim.
Raisya menunduk di atas meja. Tanpa terasa bulir-bulir bening jatuh dari kelopak matanya. Bahunya terlihat naik turun menahan tangisan yang tak bersuara.
Satu jam sudah Raisya duduk di ruang makan menunggu pintu itu terbuka.
Ceklekkk
Akhirnya yang ditunggu pun tiba. Raisya mendongak ke atas, melihat ke pintu kamar Nathan. Muncul seorang wanita dengan pakaian serba minim. Dia menutup pintu itu kembali, dan berjalan di anak tangga.
"Apa yang sedang kalian lakukan di kamar itu?" Suara Raisya terdengar gemetar menanyai perempuan yang baru saja selesai turun dari tangga. Dia melihat ke arah Raisya menatap dari atas sampai bawah Raisya. Pandangan meremehkan langsung dikirimkannya pada Raisya.
"Hhhmm.. kamu mau tahu atau mau merasakan kehebatannya? Ha ha ha.." Perempuan itu tertawa puas. Setelah mengatakan hal itu dia berbalik dan berjalan meninggalkan Raisya yang mematung dengan wajah sedih.
__ADS_1
Raisya kembali mengarahkan matanya ke lantai dua, tepatnya ke pintu kamar Nathan. Dia melihatnya dengan nanar.