Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
cemburu


__ADS_3

Wajah Raisya tertutupi oleh Jacky membuat siapa saja yang melihatnya akan berburuk sangka.


Tetttt...


Suara klaskon mobil terdengar keras sekali sampai mengagetkan keduanya. Jacky buru-buru menyingkirkan wajahnya menjauh dari Raisya.


"Maaf." Jacky mengatur nafasnya yang baru saja terasa aneh. Dan mendengar klakson mobil seolah dia sudah mendapatkan teguran karena berdosa.


Begitupun Raisya, dia mengatur duduknya agar menghilangkan kegugupan karena jarak Jacky yang baru saja terlalu dekat dengan Raisya. Seumur ini Raisya belum pernah berdekatan dengan lawan jenis sedekat itu apalagi bersentuhan. Raisya yang menjaga prinsip takkan bersentuhan sebelum menikah, tetap menjaga hal itu sampai sekarang.


"Mulai sekarang aku akan menjemputmu dan mengantarkan mu pulang!" Jacky bicara tegas. Lalu menyalakan mesin mobil keluar area parkir.


flashback


Setelah melihat kondisi Michel, Nathan tak enak hati membiarkan anaknya menunggu di luar rumah. Apalagi dia sudah membohongi anak kecil itu agar tidak rewel.


"Reza bisakah kamu antarkan Ratna terlebih dahulu! Kemungkinan aku akan ke kantor dulu!" Nathan berubah pikiran. Tadinya dia akan menyelesaikan pekerjaannya selepas jam 6 tapi kenyataan dia harus mengalah untuk Michel. Dia tak mau anaknya menunggu terlalu lama kepulangannya. Sehingga menyuruh Reza mengantarkan Ratna dulu lalu dia bersama Reza akan kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.


Akhirnya Reza pulang dengan membawa mobilnya sendiri dan Nathan membawa mobil mercy nya.


Begitu sampai di area parkir dia melihat Jacky menggenggam tangan wanita itu. Matanya terus saja mengekor dan tak mau lepas dari aktifitas keduanya. Nathan pun masuk ke dalam mobil yang jaraknya tidak jauh dari mobil Jacky di parkir.


Ada segenggam bara yang mulai menyala di hati Nathan. Dia merasa ada hal yang mengusik dirinya, begitu melihat Jacky mendekati Raisya. Apalagi wajah Jacky menutupinya seolah dia sedang menebak apa yang dilakukan orang dewasa. Tanpa sengaja Nathan menekan klakson dengan keras karena kesal.


"Kurang ajar!" Kata-kata itu spontan saja keluar dari bibirnya. Adegan Jacky sangat mengganggu pikirannya.


Dan mobil Jacky pun berlalu setelah Nathan memberikan klakson itu. Nathan dengan dirundung emosi ikut menyalakan mobilnya mengikuti mobil Jacky kemana dia melaju.


Yang tadinya akan pulang segera, Nathan malah berubah haluan. Sepanjang jalan dia merasa seperti penguntit. Ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan Jacky di dalam mobil itu.


Dua mobil mewah saling beriringan. Jacky tidak mencuriga bahwa mobilnya sedang diikuti.


"Kenapa kamu harus menjemput dan mengantarkan ku?" Raisya melirik ke samping melihat Jacky yang sedang menyetir.

__ADS_1


"Bukannya mobil Ratna sedang dibengkel?" Jacky menjawab datar.


"Hhhmm.. dikira kamu pamer mobil baru?" Raisya terkekeh.


"Sekalian!" Jacky menimpali.


"Ha ha.. gunting pita dulu donk sebelum mobil ini bisa bebas dipake." Raisya berusaha mencairkan suasana. Karena biasanya memang dia bicara apa adanya dengan Jacky. Dan sekarang sepertinya Jacky terasa kaku.


"Kamu mau makan dimana?" Jacky tahu maksud dari pembicaraan Raisya dengan maksud gunting pita adalah traktiran.


"Eh enggak engak becanda kok!" Raisya mencabut ucapannya.


"Serius. Kamu mau makan dimana? Kamu belum makan malam kan?" Jacky tetap menatap ke depan.


"Eh Jack.. elu beneran ini mobil elu?" Raisya melihat kesamping masih tak percaya bahwa Jacky mempunyai mobil semewah ini.


"Mau lihat surat-suratnya? Biar kamu percaya?" Jacky melirik sebentar pada Raisya.


"He he.. percaya deh!" Raisya menyudahi pembicaraannya takut Jacky tersinggung.


"Kita makan dulu! Aku laper dari tadi menunggu kamu!" Jacky mengarahkan mobilnya ke sebuah lestoran mewah yang ada di hotel xxx.


"Ya ampun kenapa gak makan duluan aja kalau laper? Malah nyalahin aku!" Raisya tidak menerima kalau alasan Jacky karena menunggunya.


"Ayo turun! Atau mau aku gandeng?" Jacky bicara ketus.


"Iya aku turun pangeran kodok!" Raisya sedikit memanyunkan bibirnya.


"Apa kamu bilang?" Telinga Jacky mendengar jelas gerutuan Raisya.


"He he.. maaf." Raisya terkekeh. Dia melihat wajah Jacky tidak ramah mendengar candaannya.


Keduanya beriringan masuk ke dalam hotel kebetulan restorannya ada di lantai 2.

__ADS_1


Nathan yang sejak menguntit Raisya dan Jacky tentu pikirannya beredar kemana-mana. Apa lagi setelah melihat adegan Jacky yang sedang mencium Raisya di dalam mobil lalu sekarang membawanya ke dalam hotel, hatinya serasa terbakar.


"Sial... dia gak pegang hape lagi!" Nathan mengusap rambutnya kasar. Menyesali telah membawa handphone milik Raisya dan memberikannya pada Michel.


Di lain tempat Jacky telah duduk berhadapan dengan Raisya di restoran dalam hotel. Mata Raisya sedang mengamati beberapa menu yang cocok dengan lidahnya.


"Kamu mau pesan apa?" Jacky melihat Raisya yang masih membaca menu.


"Hhmm. Menunya terlalu banyak yang asing."


"Kamu suka steak?" Jacky menawarkan apa yang biasa dipesan Raisya jika sedang makan bersama. Karena ini bukan kali pertama Raisya makan bersama Jacky. Sebelumnya Jacky sering mengajaknya makan bersama.


"Hhmm boleh." Raisya menutup buku menunya.


"Two Steak end potato."


"Minumnya?" Pelayan tadi masih menunggu.


"Jus apel dan jeruk panas." Jacky langsung memilih menu minuman yang biasa Raisya pesan.


Sepasang mata kini sedang mengamati interaksi mereka berdua. Dia duduk tak tenang bahkan memesan menu yang sebenarnya tak ingin dia santap. Dia hanya mengaduk-ngaduk pesanannya sambil melihat ke arah dua orang yang sedang asik berbicara sesekali mereka saling melemparkan senyuman.


"Ngapain sih mereka pada makan disini? Kecuali ada yang spesial. Apa hubungan si komodo dengan wanita itu?" Nathan hanya bergumam dalam hati menanggapi interaksi mereka.


Dia merasa iri ketika Raisya tertawa dan begitu pun melihat Jacky yang sepertinya sedang bahagia memandang Raisya penuh arti. Dada Nathan naik turun merasakan keganjilan. Matanya sedang menilai cara Jacky melihat Raisya. Sebuah tatapan laki-laki dengan netra penuh yang penuh kagum sedang menyukai wanita.


"Jacky pulang yuk! Udah jam 9 gue udah capek nih!" Raisya melihat jam di pergelangan tangannya dan mengajak Jacky untuk pulang.


"Ra... kamu bisa pakai handphone pemberian gue kok! Aslinya gue gak bakal nagih kok sama elu. Itung-itung bantuin kerjaan gue besok." Tatapan Jacky berbicara tak mau lepas melihat Raisya.


"Hhhmm. Gimana yah?" Ada perasaan berat di hati Raisya untuk mengiyakan.


"Gue tau elu gak mau pakai handphone itu takut gue nagih kan? Biar elu enak pakainya. handphone itu bayaran dari gue buat nyelesain kerjaan elu besok. Gue yakin. bayarannya sebanding dengan kerjaannya kok!" Jacky yang sudah pengalaman bekerja ke lapangan pasti sudah tahu medan berat menghadapi orang-orang yang sedang diperiksa keuangannya.

__ADS_1


"Iya deh. Gue pakai kalau darurat."


__ADS_2