
Sementara di sudut ruangan rumah sakit seorang dokter sedang menunggu kedatangan pasien spesialnya. Dia telah diberitahu akan kedatangan seorang pasien yang khusus untuk kelasnya, kelas VIP.
Tak lama kemudian perawat telah mendorong blangkar.
"Welcome to my hospital." Dokter itu dengan santainya menyambut Jacky dan tuan Robert dan mereka pun berjalan ke kamar khusus setelah Jacky menjalani beberapa tes yang dilakukannya di rumah sakit itu.
"Wah.. menurut saya perkembangan kesehatan tualang anda cukup bagus. Disini paling diteruskan dengan metode fisioterapi dan operasi penyambungan tulang patah dengan alat bantu rangka yang dipasang di dalam. Mudah-mudahan dalam jangka dua minggu anda sudah bisa menggerakkan kaki dan tangan anda dengan baik. Walaupun efeknya tulang anda akan terasa ngilu jika sewaktu-waktu bergerak atau mengangkat beban." Terang dokter spesialis ortopedi.
"Lakukanlah yang terbaik dokter untuk anak saya!" Ucap tuan Robert.
"Baik.. mungkin besok pagi akan dilakukan operasi pemasangan alat bantunya. Sekarang anda mungkin akan melakukan general chek up untuk kesiapan operasi. Jika memungkinkan Anda harus puasa dulu ya!" Ucap dokter pada Jacky.
"Baik dok."
Kring
Kring
Kring
Handphone tuan Robert berbunyi. Tuan Robert segera menggeser tanda hijau di handphonenya.
"Halo."
"Assalamu'alaikum pih.. ini Raisya."
"Iya ada apa Raisya?" Mata Jacky langsung mengarah ke tuan Robert ayahnya. Hatinya begitu senang mendengar Raisya ada menelpon.
"Papih masih ada di rumah sakit? Raisya mau menyusul ke sana." Raisya pura-pura tidak tahu.
"Raisya... papih ada di Singapura. Maaf.. papih tidak memberitahu kamu." Karena tadi acara dadakan, tuan Robert tidak sempat memberitahu Raisya. Dia ingin Jacky ditangani lebih baik agar cepat pulih.
__ADS_1
"Kenapa pih? Apa yang terjadi dengan Jacky pih?" Suara Raisya terdengar cemas. Meski dia sudah diberitahu oleh Ratna, tapi tetap saja dalam hatinya ada rasa khawatir dan takut.
"Ya.. Jacky perlu pengobatan yang lebih baik. Besok dia akan dioperasi. Minta doanya ya! Semoga operasinya bisa berjalan lancar." Tuan Robert memberitahu perihal kondisi Jacky yang akan dioperasi besok.
"Pih... apa bisa Raisya bicara dengan Jacky? Raisya mohon pih!" Suaranya terdengar parau. Ada rasa yang sakit menyelimuti hatinya ketika dia ditinggalkan begitu saja tanpa diberitahu apapun kondisi Jacky. Apakah dia baik-baik saja ata bagaimana? Ketika mendengar kondisi Jacky dari Ratna saja, dirinya sudah tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana kalau ada apa-apa dengan Jacky sedangkan dia belum bertemu dahulu dengannya. Apalagi terakhir bertemu dengan Jacky, Raisya agak tidak akur. Dia menyesal sekarang. Kalau tahu Jacky bakal celaka mungkin dia tidak akan mengatakan hal yang tidak-tidak.
Karena hatinya bersedih, Raisya agak terisak. Dia tak mampu lagi menahan air matanya membayangkan kondisi Jacky yang tak berdaya. Semakin ditahan dadanya terasa sesak.
Tuan Robert tak tega membiarkan Raisya menderita dengan perasaan bersalahnya.
"Kamu mau bicara sama Jacky?" Mata tuan Robert melirik ke arah Jacky yang sedang melihat nya. Bisa dilihat di raut wajahnya berbinar karena senang.
"Iya pih." Raisya menyeka air matanya dan menjauhkan handphone untuk berdehem, mengatur suaranya.
"Raisya ingin bicara padamu!" Tuan Robert langsung memberikan handphonenya pada Jacky. Jacky menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Ra... " Jantung Jacky dag dig dug, agak deg-deg an. Raisya masih terdiam.
"Iya assalamu'alaikum Jack.. " Raisya menempelkan handphonenya pada telinganya.
"Mama.. aku pengen liat om Jacky.. " Tiba-tiba Arsel yang mendengar Raisya memanggil Jacky tiba-tiba ingin ikut nimbrung.
"Sebentar sayang.. mama mau bicara dulu sama om." Raisya menahan Arsel. Anak itu lantas cemberut karena dilarang Raisya. Michel langsung menggendong Arsel agar tidak rewel mengganggu Raisya yang sedang bicara.
"Ra.. pindahkan ke video call, aku kangen sama Arsel." Jacky yang sudah beberapa harubtidak melihat mereka, meminta Raisya untuk mengalihkan mode ke video agar bisa melihat wajahnya.
"Mmm.. baik." Raisya merapihkan penampilannya agar tidak terlihat habis menangis di depan Jacky. Lalu segera mengalihkan mode ke video.
"Halo Arsel.. " Jacky menyapa anak tampan itu dengan ramah dan gemas.
"Halo om Jacky. Apa kabal? Kok udah lama Acel ga bica liat om." Anak lucu dan tampan itu begitu cerewet menanyakan keadaan Jacky yang beberapa hari ini tidak terlihat.
__ADS_1
"Papa.. sakit sayang. Arsel sama kaka sehat? Bagaimana mamamu sehat juga?" Jacky yang tadi belum menyapa Raisya, sekalian bertanya mengenai kesehatan Raisya.
Acel cehat, mama cehat, kaka cemberut aja! Tau kaka cehat apa enggak." Dengan polosnya Arsel melihat Michel yang akhir-akhir ini memang tidak ceria.
"Wah.. mama kaka? Papa mau lihat cantiknya papa mana?" Jacky berusaha menghibur Michel agar anak itu kemudian ceria. Sejak tabrakan yang menimpa Jacky, Michel memang terlihat tidak ceria. Kemungkinan anak itu merasa bersalah.
"Apa kabar pa?" Ini kali pertama Michel menyebut Jacky papa. Orang yang mendengar panggilan itu tentu agak heran, termasuk Raisya. Matanya langsung mengarah pada Michel yang sedang berbicara dengan Jacky. Begitupun Jacky. Tak terbayang bahagianya Jacky mendengar Michel memanggilnya dengan papa. Kalau bisa berlari, mungkin detik itu juga Jacky akan melompat.
"Sayang... love papa. Papa bahagia banget.. denger suara kamu. Ayo panggil lagi papa!" Jacky tersenyum lebar, begitupun tuan Robert dan istrinya saling memandang terharu mendengar Michel memanggil Jacky dengan sebutan papa. Anak itu mungkin sudah ikhlas menerima kehadiran Jacky sebagai ayahnya.
"Iya papa." Michel bersemu merah. Dia malu harus memanggil Jacky papa.
"Wah.. kayanya papa langsung sembuh dan gak usah dioperasi kalau terus-terusan denger kamu suara kamu Michel." Hati Jacky berbunga-bunga, merasa bahagia meski belum bisa menikah dengan Raisya.
"Papa mau dioperasi kapan?" Michel menanyakan kabar jadwal operasi Jacky yang akan dilakukan besok.
"Besok sayang. Doakan papa ya! Doakan biar papa cepat sembuh dan bisa menikah dengan mama kamu." Jacky setengah berbisik dan mendekatkan wajahnya ke layar sambil terkekeh.
"Ih.. dasar om gombal." Michel langsung cemberut lagi.
"Eit... kok jadi om lagi sih?" Protes Jacky menanggapi perubahan panggilannya jadi om lagi.
"Habis.. om... gombal!" Michel protes.
"Emang Michel gak mau papa jadi ayah kamu? Kan papa orangnya ganteng, baik, juga gombal. Ha ha ha.. " Jacky tertawa terbahak-bahak karena memuji dirinya sendiri yang diakhiri dengan kata gombal.
Tuan Robert dan istrinya ikut tertawa bahagia melihat kecerian Jacky.
"Ish.. udah.. Michel gak mau ngomong lagi! Nih.. sama mama aja!" Michel memberikan handphonenya pada Raisya memberikan kesempatan pada Jacky untuk berbicara.
"Jacky.." Mata Raisya berkaca-kaca
__ADS_1
"Ra.. kamu sehat?"