Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Jangan ngoyo


__ADS_3

"Maksudnya?" Dokter Ferdi agak terkejut.


"Sewaktu melahirkan Arsel, aku pendarahan hebat dan sempat koma. Aku takut jika hamil lagi, nyawaku tidak tertolong. Bagaimana dengan anak-anak nanti kalau aku tidak ada." Akhirnya Raisya menceritakan kekhawatirannya.


"Oh.. begitu. Kamu mau berobat tidak? Mencoba dengan terapi? Ada beberapa perempuan yang memang mempunyai gejala yang sama. Penyebab nya banyak faktor. Ada dari mium, sifat pembekuan darah yang kurang, ada juga faktor hormon. Kamu bisa terapi sebelum siap menikah. Banyak juga yang berhasil dan sembuh setelah terapi. Kalau mau aku akan siapkan sekarang. Kita akan pakai terapi ekupresur. Mau coba tidak?" Tawar dokter Ferdi.


"Mmm... bolehlah. Aku akan mencobanya." Jawab Raisya.


Aku harus mencobanya agar aku bisa hamil kembali. Dia sungguh baik dan pengertian. Belum pernah aku diperlakukan sebaik ini. Ah.. aku baru saja bertemu pastinya aku harus kenal lebih jauh agar bisa mengenalnya dengan baik.


Raisya begitu nyaman dengan perlakuan dokter Ferdi yang lemah lembut.


"Nah.. gitu dong, semangat! Ayo makan lagi! Biar cepet sembuh." Dokter Ferdi memperlakukan Raisya dengan penuh kasih. Dia tak ingin kehilangan orang yang disukainya. Meski barusa Raisya membicarakan kekurangannya, itu tidak mengurangi rasa suka dokter Ferdi pada Raisya.


Raisya... apapun yang terjadi, aku menerimamu apa adany. Aku yakin kamu adalah perempuan baik yang bisa mendampingi aku. Aku harap kamu bisa menyukaiku sebanyak aku menyukaimu.


Dokter Ferdi begitu yakin terhadap perasaannya meski baru bertemu. Sudah banyak perempuan yang dia temui, tapi kebanyakan mereka hanya sebatas ingin numpang atau berharap kekayaan. Dokter Ferdi ingin calon istrinya kelak. adalah perempuan yang bisa nyaman dengan dia apa adanya. Apalagi latar belakang dokter Ferdi yang tanpa nasab yang jelas yang datang dari panti asuhan.


Setelah menghabiskan sop iga buatan bi Siti. Dokter Ferdi menyiapkan terapi untuk Raisya. Dia terlihat semangat sekali menangani Raisya. Dibantu beberapa asistennya yang juga sudah mendapatkan lisensi, dokter Ferdi memberikan contoh dan arahan bagi para pekerjanya.


Selain untuk relaksasi, terapi akupresur juga banyak manfaatnya, diantara untuk mengobati penyakit-penyakit yang di derita pasien.


Setelah melakukan terapi nampak Raisya tidur dengan lelap. Badannya menjadi relaks dan peredaran darahnya pun menjadi lancar. Pengobatan ini memang tidak bisa instan. Butuh waktu dan kesabaran pasien dalam menjalaninya agar bisa menyembuhkan penyakit yang diderita pasien.


Dokter Ferdi dengan setia menunggu di dalam ruangan Raisya sambil membaca artikel juga menyelesaikan pekerjaannya diantaranya sebagai peneliti.


Malam semakin larut. Dokter Ferdi menyudahi pekerjaannya dan tidur terbaring di sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya. Padahal di klinik itu ada juga ruangan khusus milik dokter Ferdi, tapi dia malah memilih untuk menemani Raisya.

__ADS_1


Sayup-sayup adzan subuh terdengar. Raisya segera bangun. Dilihatnya kursi sofa yang ada di ruangan itu. Tapi dia tak melihat siapapun yang tertidur di sana, tapi meja di depan sofa masih berserakan buku-buku dan laptop.


"Apa dokter Ferdi semalaman tidur disini? Tapi kemana dia sekarang?" Raisya bergumam sendiri.


Raisya turun dari tempat tidur menuju toilet. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi Raisya keluar dari toilet akan melakukan sholat subuh. Dia naik kembali ke pembaringan dan mengambil tayamum, karena jarum infus masih tertancap di lengannya. Setelah dia melakukan shalat dengan berbaring.


Di lain tempat dokter Ferdi pun sedang melakukan shalat subuh di mushola. Tadi dia terbangun lebih awal agar bisa melakukan shalat witir terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum dok." Dokter Rahman yang sedang berjaga malam menghampiri dokter Ferdi. Mereka sudah lama bersahabat.


"Waalaikumsalam."


"Bagaimana kabar dengan pasien yang kemarin tertabrak?" Tanya dokter Rahman yang kemarin ikut membantu di ruang UGD.


"Masih di ICU." Jawab dokter Ferdi.


"Iya. Bukan hanya keluarga lagi, dia itu anak pemilik rumah sakit yang dimana aku bekerja sekarang." Jawab dokter Ferdi.


"Oh ya?" Dokter Rahman terkejut mengetahui identitas korban kecelakaan kemarin.


"Mmm.. "


"Wah.. kamu beruntung." Dokter Rahman menyangka dengan mereka membantu anak pemilik rumah sakit dokter Ferdi akan terus naik jabatan dan mendapatkan bonus.


"Untung apanya.. kamu ada-ada saja." Dokter Ferdi mengusap wajahnya.


"Ya iyalah.. kamu kan menangani dua orang sekaligus ahli waris keluarga itu. Apakah mereka tidak memberimu hadiah?" Dokter Rahman ingin sekali seberuntung dokter Ferdi.

__ADS_1


"Jangan ngaco ah. Mana ada bergembira di atas penderitaan orang lain." Dokter Ferdi berdiri lalu keluar dari mushola diikuti oleh dokter Rahman.


"Ya..terus aku curiga, kamu kan biasanya juga datang paling seminggu dua kali. Lah.. sekarang sampai nginep-nginep gini ada apa nih? Apa pasien yang ada hubungannya dengan pemilik rumah sakit yang sedang kau incar?" Dokter Rahman sepertinya curiga dokter Ferdi sedang naksir seseorang.


"Lama-lama ngobrol sama kamu jadi ngaco begini." Dokter Ferdi menghindari pertanyaan dokter Rahman.


"Bukan ngaco, aku cuman mau dukung malah. Ini kok malah kabur." Dokter Rahman tertinggal langkah, kalah cepat dari dokter Ferdi yang langkahnya selain cepat dia juga kakinya panjang karena postur tubuhnya lumayan tinggi.


Dokter Rahman akhirnya membiarkan sahabatnya pergi. Paling kalau sudah kelabakan dia ujung-ujungnya nanti curhat juga.


Dokter Ferdi masuk ke ruangan pribadinya lalu membersihkan diri juga berganti pakaian siap-siap akan berangkat ke rumah sakit. Setelah penampilannya rapih dia pergi ke ruangan Raisya.


Krekk


Dokter Ferdi masuk ke ruangan Raisya. Disana sudah ada dokter Rahman yang sedang visit sebelum dia pulang dan bergilir dengan dokter lain.


"Wah.. rupanya dokter Ferdi sudah tampil maksi nih biar pasiennya bertambah semangat untuk sembuh." Dokter Rahman mengedipkan matanya ke arah dokter Ferdi. Dia sedang menggoda dokter Ferdi karena penampilannya agak berbeda dari biasanya.


"Bu Raisya semangat ya! Nanti kalau sudah sembuh jangan lupa jaga kesehatan. Kalau istri dokter sering sakit nanti pak dokternya repot tidak bisa bekerja maksi." Dokter Rahman terus saja bicara menggoda keduanya.


Raisya hanya tersenyum karena tidak tahu harus berbuat apa mendengar candaan dokter Rahman.


"Iya.. jadi dokter juga harus profesional karena kalau pasiennya pusing gara-gara kebanyakan dengerin dokter bercanda, dia juga bisa kabur." Dokter Ferdi menepuk bahu dokter Rahman sambil menyindirnya.


Lah.. dia pura-pura gitu. Padahal gue lagi bantuin elu Fer.. biar cewek yang satu ini bisa jatuh cinta sama elu. Ini malah ngatain gue." Dokter Rahman tersenyum simpul melihat wajah Raisya yang datar-datar saja.


"Raisya.. aku berangkat dulu ya!" Pamit dokter Ferdi pada Raisya.

__ADS_1


__ADS_2