Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Satu ruangan


__ADS_3

"Sya.. temani aku!" Setelah melabuhkan rindu yang terkubur satu windu, Nathan bisa menarik nafas tenang. Apalagi tadi sudah pemanasan yang cukup membara. Kalau dia tidak dalam tergolek lemah sepertinya dia akan menyerobot. Tapi dia akan menahannya, takut Raisya malah kabur.


Ya Allah... tolong. Baru saja aku melakukan dosa. Bagaimana harus menghadapi laki-laki yang berlibido tinggi ini. Meski lemah tenaga nyosorku ampun... kaya iklan pompa air. Bagaimana kalau aku rujuk? Bisa-bisa dihajar abis-abisan


Nathan tak mau sedetik pun berpisah darinya. Apalagi setelah Raisya memberikan sinyal hijau bagi dirinya.


"Please Sya..!" Mohon Nathan dengan wajah menghiba dan manja.


Ih manja banget. Kalau bukan karena sakit.. aku males. Terlebih aku merasa bersalah. Kenapa tubuh sama pikiranku gak sinkron gini sih? ini nafsu apa cinta? Absurd banget. Aku tahu kamu tuh nafsunya gede banget. Aku takut tak bisa mengendalikan diri


"Aku kirim pesan dulu. Takut Ratna dan Arsel mencariku." Nathan melepaskan tangan Raisya memeberikan kesempatan untuk mengirimkan pesan. Sorot matanya tak mau lepas dari gerak-gerik Raisya.


"Mmm..." Jawab Nathan pendek.


Raisya mengirimkan pesan agar Ratna tidak khawatir. Dia tidak bisa menolak permintaan Nathan karena kasihan juga harus sendirian tanpa ada orang yang menunggunya. Benar-benar miris dan menyedihkan memang. Hidup sendiri tanpa ada yang menemani.


"Sya.. " Panggil Nathan.


"Iya. Raisya menoleh.


"Aku haus." Tenggorokannya terasa kering.


"Oh.. iya. Sebentar! Aku tanya dulu ke perawat, apakah sudah boleh belum kamu minum." Raisya berdiri mencari perawat jaga. Tak lama kemudian Raisya mendekati dispenser menuangkan air hangat dan mengambil sedotan untuk memudahkannya Nathan minum.


"Nih!" Raisya mendekatkan sedotan pada bibirnya. Bibir sih menyedot tapi matanya benar seperti lem.


Duh itu mata coba dikondisikan.


Keluh Raisya dalam hatinya. Belum lama jantungnya berolahraga kini jantungnya push up ditatap seperti itu.


"Sudah." Nathan melepaskan sedotannya.


Raisya menaruh kembali gelas berisi air itu di atas nakas.


"Sya.. bobo sini!" Nathan menepuk-nepuk kasur di pinggiran yang masih ada ruang.


Raisya menggelengkan kepala. "Aku duduk saja."


Nathan terdiam. Tidak mungkin memaksa Raisya menuruti kemauannya. Apalagi ini baru awal hubungannya yang mulai membaik.


"Sya.. bawain handphone aku." Nathan teringat akan kerjanya yang sudah ditinggalkan. Dia hendak memberitahu keadaannya pada Reza.


Raisya berdiri dan mencari handphone milik Nathan.

__ADS_1


"Sya.. miscall."


Lah gue jadi lelet begini.


Raisya mengangguk. Dia menyodorkan handphonenya pada Nathan karena dia tak memiliki nomor handphone.


kring


kring


kring


Telinga Raisya mencari asal suara handphone Nathan.


"Sudah ketemu." Raisya langsung membuka lemari baju. Di sana ada handphone dan baju Nathan yang telah disimpan rapi. Diambilnya handphone itu dan diserahkan pada Nathan.


"Aku tidur dulu ya!" Raisya duduk di sofa dan segera membaringkan badannya yang sudah mengantuk. Ini sudah jam 11 malam. Pantas saja matanya sudah begitu lengket ditambah badanya yang cukup lelah.


Nathan hanya melihat tanpa bisa banyak bicara lagi. Sudah beruntung Raisya mau menemaninya malam ini. Padahal dia sedang menunggu Arsel, perhatiannya pasti terbagi ke sana kemari.


Setelah Nathan mengirimkan pesan Nathan pun berusaha memejamkan matanya untuk beristirahat. Dadanya agak sedikit berat kalau bernafas.


Tengah malam Ratna mendengar Arsel terisak menangis. Dia terbangun dari sofa dan mendekati Arsel.


"Kenapa sayang?" Ratna dengan lembut mengusap kening Arsel.


"Mama mungkin lagi di kamar mandi." Ratna mengedarkan pandangannya.


"Michel... " Ratna memanggil Michel untuk membantu Arsel ke toilet. Karena ada selang infus yang menggelayut itu membuat Ratna kesulitan membawa Arsel.


Michel langsung bangun begitu dipanggil Ratna.


"Chel.. bantu tante bawa infus ya! Tante mau menggendong Arsel. Dia mau pipis." Ratna siap-siap membuka piyama Arsel dan akan membawanya ke toilet.


"Baik tante." Michel langsung sigap membantu Ratna.


Keduanya bekerjasama membawa Arsel sampai ke toilet. Lalu kembali ke atas ranjang memakaikannya kembali celana piyama Arsel dan menggantungkan selang infus di tempatnya.


"Sayang.. tidur lagi ya. Tante temenin sama kak Michel disini." Ratna menyelimuti badan Arsel dan mengelus lembut keningnya.


Untung anak itu tidak rewel. Dia langsung tertidur lagi.


"Tante... bunda kemana ya?" Michel mencari keberadaan Raisya.

__ADS_1


"Tau.. tante juga gak tahu kemana perginya bunda kamu." Ratna belum membaca pesan Raisya jadi belum tahu keberadaan Raisya.


"Aku khawatir tan.. " Michel agak cemas Raisya tidak ada di ruangan.


"Iya ya.. sebentar tante telepon." Ratna langsung membuka layar handphone dan tertera ada beberapa pesan, diantaranya dari Raisya.


"Bunda sedang di ruangan daddy kamu Chel." Ucap Ratna yang baru tahu keberadaan Raisya.


"Oh.. Tapi bagaimana dengan Arsel? Apa nanti tidak akan ngamuk tan?" Michel ikut memikirkan adiknya yang tanpa kehadiran ibunya.


"Iya ya... Tante juga bingung. Apa sebaiknya digabung saja ya ruangannya? Biar bisa mengurus keduanya." Ucap Ratna.


"Kasian daddy kamu pun tidak ada yang mengurus." Ratna tak mungkin terus-terusan menunggu Arsel, karena dikhawatirkan anak itu suka menangis keras.


"Kamu tunggu dulu disini! Biar tante bicara dulu dengan perawat." Ratna langsung pergi ke ruangan piket perawat.


Setelah bicara, mereka mengerti. Dan langsung pergi malam itu juga ke ruangan Nathan.


"Maaf Pak Nathan.." Perawat itu terpaksa membangunkan Nathan yang sudah tertidur.


"Iya?" Nathan agak terkejut dengan kedatangan perawat.


"Maaf.. kami mengganggu kenyamanan anda."


"Iya ada apa sus?" Nathan menatap serius pada perawat.


"Apa anda keberatan kalau anda dipindahkan ke ruangan lain bersama anak anda?" Pinta perawat meminta izin terlebih dahulu. Perawat menjelaskan alasannya kenapa dia memindahkan ke ruangan Arsel atas permintaan Ratna.


"Oh iya Sus. Aku tidak keberatan. Tolong bangunkan istri saya sus." Tanpa sadar Nathan mengucapkan panggilan istri pada Raisya.


"Baik pak." Perawat itu pun langsung membangunkan Raisya dan memberitahukannya alasan kepindahan ruangan Nathan ke ruang Arsel.


Tidak lama kemudian Nathan pun dipindahkan.


Michel yang terjaga menunggu kedatangan ayahnya, sedang berharap-harap cemas.


Akhirnya yang ditunggu pun tiba blangkar nya di dorong oleh perawat.


"Daddy.. " Michel tak kuasa melihat ayahnya terbaring di atas blangkar. Dia mengikuti sampai blangkar itu nyaman dengan posisinya.


Nathan mengelus lembut Michel yang sudah berada di sampingnya. Ada haru bercampur bahagia melihat putrinya ada di depannya.


"Tidurlah sayang..!" Nathan menyuruh Michel tidur karena ini masih malam.

__ADS_1


"Aku tidur disini saja dad.. Nungguin daddy." Ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca, terharu melihat keadaan ayahnya yang tergolek lemah.


"Cel.. kamu tidur di kursi saja." ucap Raisya khawatir.


__ADS_2