
"Sudah jangan nangis! Menghadapi bos kaya gitu harus tahan banting! Kalau enggak dibanting mulu!" Meski dalam keadaan sedih Raisya masih sempat bercanda. Ratna menyeka air matanya.
"Tunggu aku ya! Ntar kita pulang ke Jakarta barengan lagi. Lagian kita belum beli oleh-oleh. Pokoknya kamu istirahat aja di hotel nungguin aku ya!" Wajah Ratna kelihatan memelas.
"Iya. Ntar gue tungguin. Sana kamu kerja aja dulu! Keburu ngamuk lagi! Gue mau nyari makan sama minuman buat elu Rat."
"Nih gue yang bayarin Sya!" Ratna langsung mengeluarkan dompetnya dari tas tenteng nya.
"Gak usah! Gue belum miskin kok! Tenang aja ya!" Raisya segera membalikkan badan keluar dari galeri menuju area food court.
Raisya langsung naik eskalator menuju tempat makanan. Matanya langsung beredar mencari tulisan menu.
Satu persatu dibacanya. Raisya sedang mencari menu yang pas di lidah dengan harga pas dikantong. Matanya tertuju dengan sebuah tulisan makanan khas Jepang. Di sana bandrolnya pun masih bisa dijangkau.
Tapi malang tapi bisa dicegah untung tak bisa dihindari satu panggilan yang sudah dikenalinya tiba-tiba terdengar jelas di telinga Raisya.
"Tante.... " Raisya menelisik sumber suara. Netra nya menangkap seseorang yang baru-baru ini suka menempel seperti perangko.
Entah bisikan apa yang masuk ke hati Raisya. Dia mundur ke belakang dan secepat kilat dia berlari seperti dikejar hantu. Raisya menerobos beberapa orang yang sedang mengantri memilih dan memesan menu sehingga beberapa orang tanpa sengaja telah ditabraknya dan mereka pun merutuk perbuatan Raisya.
Raisya tidak jadi memesan makanan. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah lari menghindari dari pengaruh Michel. Raisya tak ingin terlalu dekat dengannya apalagi dia baru saja mengalami hal yang kurang enak dari Nathan. Beberapa kali bertemu, kesannya memang selalu saja menyakitkan.
Tiba-tiba tangannya ada yang menarik dengan kencang. Lalu membawa Raisya lari menuju tangga darurat.
Nafas keduanya terengah-engah dada pun terasa sesak. Begitu merasa aman orang yang menarik Raisya berhenti sambil menungging. Dia terbatuk-batuk menahan nafasnya yang agak berat.
"Kamu Jack?" Raisya langsung memanggil namanya begitu Jacky melihat ke arah Raisya.
"Hhhm. Kaget?" Suara Jacky terdengar kurang jelas karena masih mengatur nafasnya.
"Kita duduk dulu di tangga! Aku yakin anak ular tidak bisa menemukanmu disini." Jacky mengajak duduk Raisya di anak tangga untuk mengistirahatkan jantungnya yang agak tak nyaman karena baru saja berlari tanpa pemanasan.
__ADS_1
Raisya pun duduk di samping Jacky.
"Kamu gak pa-pa kan Ra?" Panggilan Jacky berbeda dengan orang lain. Kalau yang lain lebih memilih Sya, berbeda dengan Jacky, dia lebih senang memanggilnya dengan Ra.
Raisya mengangguk. Tandanya dia tak apa-apa.
"Kapan kamu datang Jack? Kok kamu tahu aku di sini?" Raisya merasa heran tiba-tiba Jacky ada di tempat yang sama.
"Lihat status Ratna." Bohong Jacky yang pura-pura beralasan dengan menjawab 'status Ratna'
Tapi memang benar juga sih. Kebohongan Jacky dengan alasan itu memang tidak salah. Sebelumnya tadi dia sudah berkirim pesan dengan Ratna. Dan Jacky pun sebenarnya sudah melihat SW nya Ratna. Jadi keduanya tidak bisa dikatakan salah.
"Ohh." Ratna tak menaruh curiga.
"Kita lanjutin Ra! Mending kita keluar dari sini sambil mencari makan. Gue sudah laper nih! Dari pagi belum sarapan." Terang Jacky yang perutnya terasa perih.
Jacky berdiri lalu berjalan menuruni anak tangga yang diikuti langkah Raisya.
"Kamu makan apa Ra?" Jacky melirik ke samping.
"Terserah!" Raisya duduk sambil memasangkan safety belt nya.
"Mau dimana?" Jacky kembali bertanya.
"Terserah!" Raisya melihat ke sebelah kiri tanpa mengindahkan pertanyaan Jacky.
"Mau ayam atau Steak?" Jacky membuka handphone nya untuk memilih tempat yang cocok dengan selera Raisya.
"Terserah!" Raisya menjawab dengan jawaban yang sama membuat Jacky merubah posisi duduknya jadi menyamping mengarah pada Raisya.
"Kok terserah semua? Susah nyari yang jualan terserah mah!" Jacky jadi ikut-ikutan memakai logat Sunda.
__ADS_1
"Kan kamu yang mau makan. Ya terserah kamu ajalah!" Sanggah Raisya. Nada bicara Raisya kurang ramah.
"Iya sih! Tapi masa iya makan sendiri? Kamu juga pasti lapar kan? Makanya tadi memilih menu?" Jacky yang sedari membuntuti Raisya tanpa sadar mengatakan hal itu, membuat Raisya menatap sinis.
"Jadi kamu mengikuti aku Jack?" Raisya agak ketus. Merasa dirinya dikuntit Jacky.
"Enggak juga sih! Gue emang tadi laper juga mau makan. Makanya kita ketemu di past food." Bohong Jacky. Dia berharap Raisya tidak mencurigainya.
Raisya terdiam. Dia sedang mencerna omongan Jacky yang baru saja bicara.
"Atau kamu mau makanan Jepang? Aku lihat kamu tadi memilih itu." Terbersit dalam pikiran Jacky untuk menentukan menu itu.
"Terserah!" Raisya tak banyak protes. Memang benar tadi seleranya ingin makanan ala Jepang. Tapi karena Michel, Raisya tidak jadi menikmati makanan khas Jepang itu.
"Ya udah.. kita cari lestoran Jepang! Kalau nyari yang jualan terserah adanya di kamu seorang. Aku gak bakal kenyang." Jacky berusaha mencairkan suasana.
Mobil pun melaju ke tempat restoran Jepang yang terkenal di Bandung. Tapi yang jelas halal juga. Karena tidak sedikit restoran Jepang yang tidak halal. Jacky pastinya sudah mengerti apa selera Raisya. Karena gawat kalau dia salah memilih restoran, bukannya nanti bakal kenyang yang ada malah akan perang.
Tak lama kemudian mobil pun sampai pada tempat yang dituju. Keduanya turun lalu masuk ke dalam restoran. Jacky memilih tempat yang khusus ViP agar lebih privasi menikmati hidangan bersama Raisya tanpa terlihat oleh orang lain
"Silahkan! Selamat menikmati!" Seorang pelayan dengan sigap menyajikan aneka makan khas Jepang di atas meja.
"Yuk makan!" Jacky langsung mengambil beberapa menu lalu melahapnya dengan semangat. Tadi dia bangun kesiangan karena tadi malam dia mabuk. Setelah menghubungi Ratna
Dia langsung mandi dan pergi ke mall. Dia tak sempat sarapan pagi. Pastinya sekarang perutnya lapar sekali.
Raisya pun mengikuti Jacky menyiduk nasi dan beberapa menu dan makan dengan lahap.
"Kamu mau pulang ke Jakarta kapan Ra?" Jacky bertanya sambil mengunyah makanan.
"Kayanya sih sekarang. Barusan Ratna sudah mengabari katanya pekerjaannya banyak dan harus mengikuti pak Nathan untuk survei cabang. Jadi kayanya aku pulang duluan. Lagian katanya, pulangnya Ratna barengan juga sama pak Nathan." Terang Raisya pada Jacky.
__ADS_1
"Ya udah habis ini kita ke toko oleh-oleh dulu lalu ke hotel dan langsung balik lagi ke Jakarta." Jacky tanpa beban berbicara pada Raisya.