Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Menunggu Jawaban


__ADS_3

Raisya hanya mampu menatap kosong wajah Jason. Seolah ruh ya terangkat menyisakan raga.


"Hei.. kok melamun?" Jason mengibas-ngibas tangannya di depan wajah Raisya yang mematung.


"Eh.. " Kesadaran Raisya baru kembali.


"Kamu kenapa? Kok jadi melamun kaya kesambet?" Heran Jason melihat perubahan wajah Raisya.


"Apa?" Raisya terlihat seperti orang bodoh. Jawaban dan pertanyaan sama sekali tidak bersambung.


"Kamu mau kan jadi istri aku?" Jason melayangkan pertanyaan untuk ke tiga kali berharap jawaban iya dari Raisya.


Hik hik hik


Raisya malah menunduk di lututnya sambil menangis. Entahlah hatinya terasa sakit mendengar kata-kata barusan adalah bukan mimpi. Ada rasa yang tergores ketika Jason melayangkan lamaran pada dirinya.


"Loh.. kok menangis?" Jason menatap heran. Apakah sikapnya barusan menyakiti perasaan Raisya? Itu yang kini sedang berkumpul di dalam benak laki-laki yang sedang menatap Raisya kebingungan.


"Apa aku menyakitimu?" Jason berkata lirih merasa bersalah.


Dalam tangisnya Raisya malah menggelengkan kepalanya.


Jason mengernyitkan dahi. Lantas kenapa Raisya menangis? Apa penyebab perempuan yang dilamarnya itu sesenggukan? Jason sungguh bingung melihat perubahan sikap Raisya yang begitu cepat.


"Maafin aku ya! Aku salah ya?" Jason berusaha meminta maaf. Mungkin sikapnya barusan membuat Raisya bersedih.


Raisya mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Jason. Derai air mata masih berjatuhan di pipinya. "Aku jadi teringat Ratna... " Ucapnya sambil menangis kencang seperti anak kecil kehilangan lolipop nya.


"Hah????" Jason menganga mendengar jawaban Raisya yang tak masuk akal. Apa hubungannya dengan lamaran yang dia ucapkan barusan dengan sahabat Raisya yang bernama Ratna? Jason semakin bingung.

__ADS_1


"Aku akhirnya dilamar laki-laki mirip seperti Ratna dilamar Irwan... " Ucap Raisya kembali menangis. Dia berusaha memberitahu Jason mengenai perasaannya yang seperti dejavu ke masa Ratna ketika dilamar Irwan. Persamaan mereka memang hampir mirip, dilamar tiba-tiba tanpa sebelumnya ada hubungan diantara keduanya. Bedanya kalau Irwan memang sudah kenal lama, tapi kalau Jason baru kenal belum lama ini.


"Oh.. " Jason menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Oh tapi masih belum mengerti.


"Tapi... bagaimana dengan lamaranku Raisya?" Tanya Jason tak putus harap.


"Apakah kamu mau jadi isteriku?" Jason ingin kepastian jawaban.


"Sudah aku bilang.. aku kan janda anak 2, masa lalu ku juga tidak baik. Memangnya kamu mau aku jadi istri kamu? Padahal di luar sana masih banyak perempuan yang baik." Raisya terbata-bata berbicara dibarengi cegukan karena menangis.


"Mmm.. jangan pikirkan itu. Aku sudah siap dengan semuanya. Aku ingin menjadi suami kamu, dan aku ingin jadi istriku yang bisa menemaniku selamanya sampai maut memisahkan kita Raisya. Aku juga mempunyai masa lalu, mari kita menatap masa depan dan menikahlah denganku!" Jason menyakinkan Raisya akan niat baiknya menikahi Raisya. Dia tidak mau main-main dalam menjalani hubungan dengan Raisya. Apalagi di umurnya yang sudah bukan anak muda lagi.


"Tapi.. aku tidak bisa punya anak... aku.. mempunyai masalah dengan rahimku." Raisya tak ingin memberi harapan besar pada Jason. Dia berterus-terang dengan keadaannya yang sebenarnya.


"Tak apa.. yang penting kamu mau berada di sampingku. Bukankah kamu sudah mempunyai anak? Anakmu anak ku juga Raisya. Jadi jangan khawatir, aku bisa menerima kamu apa adanya." Jason mengelus lembut bahu Raisya berusaha menyakinkan perempuan yang jadi cinta pertamanya. Dia ingin melindungi juga menjadi bagian hidup dari Raisya untuk selamanya. Masalah Raisya tidak bisa memberinya keturunan, itu tidak menjadikannya mundur untuk menjadi suaminya.


"Percayalah Raisya! Aku bukan tipe seperti itu. Jika kamu ragu, kamu bisa memikirkannya. Dan akan aku tunggu jawaban kamu nanti." Jason tahu, tidak mudah untuk meyakinkan Raisya yang baru satu Minggu ini mengenal nya.


"Baiklah. Aku akan memikirkannya. Aku harap kamu jangan terlalu banyak berharap!" Ucap Raisya sambil menyeka air mata nya.


"Baik. Aku tidak akan memaksamu. Aku ingin kita saling ridho. Kalau jika akhirnya kita tidak berjodoh, apa boleh buat. Tapi kalaupun kamu menerima aku, aku harap kamu iklas tidak merasa terpaksa. Aku ingin membina rumah tangga dengan baik. Dan aku harap kamu pun begitu." Jason tidak ingin muluk-muluk dalam menjanjikan sesuatu. Dia berharap rumah tangga yang akan dijalaninya nanti sesuai harapan nya selama ini. Dia bukan mencari orang yang sempurna, tapi dia ingi mencari orang yang bisa saling melengkapi.


"Terimakasih kamu mau menunggu." Ucap Raisya yang kini sudah tidak menangis lagi.


"Mmm.. " Jason tersenyum manis. Ternyata laki-laki ini kalau tersenyum malah lebih manis juga mempesona. Tidak seperti hari-hari biasa yang terlihat selalu serius juga tidak hangat.


Raisya membalasnya dengan senyuman juga.


Keduanya menatap lepas ke lautan. Banyak angan yang mereka tatap bersamaan dengan air tenang yang bergoyang karena angin yang berhembus.

__ADS_1


Sementara itu Baron dan kawan-kawan asik berenang di bawah laut sambil mengamati beberapa aneka ragam hewan dan ikan di dalam lautan.


Setelah mereka puas, mereka pun kembali ke atas kapal dan menikmati makan siang di atas kapal sambil melihat pemandangan sekitar lautan yang ada di pulau Kotabaru.


"Bang.. sebenarnya abang berminat menikah lagi tidak sih?" Tanya Ramos di selang menyuapkan makanan ke dalam mulusnya.


"Kenapa emang?" Baron menjawab santai pertanyaan Ramos sepupunya yang gesrek itu.


"Ya penasaran aja sih bang. Kok bisa sampai sepuluh tahun ini abang bertahan tanpa perempuan?" Ramos heran dengan sepupunya itu. Padahal sepuluh tahun bukan waktu sebentar. Pastinya seorang laki-laki butuh penyaluran secara biogis nya.


"Entahlah. Perasaan bersalah pada mendiang istriku masih saja besar. Aku takut jika aku melakukan kesalahan." Jawab Baron menatap lautan dengan lamunan. Dia sedang membayangkan masa-masa itu ketika isterinya meninggal.


"Kenapa tidak mencari sih bang? Siapa tahu ada perempuan yang cocok." Ramos menyemangati.


"Pengennya sih begitu! Tapi.. gak tahu lah.. kalau masalah perusahaan sudah selesai, mungkin aku akan memikirkan nya." Ucap Baron.


"Menurut abang Raisya gimana sih bang?" Tanya Ramos ujung-ujungnya ke sana juga.


"Baik. Emang kenapa?" Tanya Baron heran.


"Boleh gak bang aku melamar dia untuk abang?" Tanya Ramos yang ingin tahu perasaan Baron pada Raisya.


Uhuk.. uhuk.. uhuk..


Baron tersedak begitu mendengar sepupunya bicara seperti itu.


"Lah.. berarti abang menyukai Raisya, iya kan?" Tanya Ramos menohok hati Baron.


"Sudah aku bilang.. aku mau fokus pada perusahaan dulu!" Baron tak ingin fokusnya kini terpecah.

__ADS_1


__ADS_2