
Raisya terdiam. Badannya masih lemas seperti tak bertenaga. Dia bersyukur hari ini masih hidup berkat pertolongan seseorang. Padahal dirinya bisa saja mati tenggelam di laut karena memang tidak mempunyai keahlian renang.
Setelah dirawat dan mendapatkan pertolongan. Dia memaksakan diri untuk pulang ke rumah Nathan.
"Berani-beraninya kamu mendiamkan aku hah?" Bentak Nathan. Rungunya seakan tuli mendengarkan suara Nathan yang kencang. Tenaganya seakan habis untuk melawan.
Dalam keremangan lampu temaran dia melihat Raisya dengan mata menyalang. Tapi apalah gunanya karena mau melotot ataupun memejam buat Raisya sama saja rasanya. Mati Rasa.
Plakkk
Sebuah tamparan kembali mendarat, setelah Nathan merasa kesal teramat sangat. Deru nafasnya terdengar naik turun dengan kasar menandakan dia sedang marah besar. Nathan kali tak bisa mengendalikan emosinya padahal gelang pendeteksi sudah bergetar kuat tapi kali ini dia mengabaikannya.
Raisya tak merespon sedikit pun tamparan keras yang baru saja mendarat di pipit. Kalau lampu ruangan ini menyala terang pastinya pipi yang sudah ditampar akan terlihat merah.
Lagi-lagi Raisya hanya berdiri mematung. Semua emosinya seakan menguap entah kemana.
Nathan yang melihat Raisya hanya berdiri mematung dan tak merespon malah membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Dia menarik tangannya dengan kasar lalu masuk ke kamar Raisya. Lalu mendorongnya hingga terpelanging di ranjang.
Raisya seperti mayat hidup. Dia hanya menatap kosong wajah yang ada di depannya dengan tatapan sayu. Pasrah. Kalaupun harus mati sekarang dia tak lagi menolak. Tak ada sedikitpun perlawanan dari Raisya pada Nathan.
Melihat lemah dan tak berdaya, Nathan bukannya kasihan malah memudahkan meluapkan emosi kemarahannya. Nathan langsung merobek semua pakaian yang dipakai Raisya lalu melemparkan ke sembarangan arah tanpa menghiraukan orang yang di depannya baru saja mendapatkan perawatan dari rumah sakit. Dia seakan lupa akan janjinya yang tak ingin menyakiti Raisya.
Dia langsung melakukan aksi brutalnya menelanjangi tubuh Raisya seperti pemer** lalu menghujamkan benda tumpul miliknya tanpa pemanasan terlebih dahulu.
Raisya hanya menitikkan air mata dan memejam matanya merasakan kesakitan teramat sangat di bawah sana. Bahkan untuk sekedar berkata 'ampun' saja dia sudah tidak ada lagi tenaga.
Entah kemana rasa belas kasih yang dimiliki Nathan saat ini. Hanya karena ingin melampiaskan kemarahan dia lupa diri seperti binatang buas yang menerkam mangsanya tanpa ampun.
"Ini balasan bagi kamu yang selalu bikin kesal!" Beberapa kali dia meneriaki Raisya dengan kalimat itu, lalu tanpa ampun dia mengulang-ngulang menghujaninya dengan benda tumpul miliknya tanpa tahu perempuan yang dihujani nya kini sudah tidak sadarkan diri.
Setelah lelah melakukan beberapa ronde pelepasan Nathan baru menghentikan aksinya. Dia langsung lunglai di samping Raisya.
Kini emosinya mulai turun. Kemarahannya yang tadi sudah mencapai ubun-ubun pun sudah turun seiring kegiatan pelepasan yang dilakukannya.
Dia menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan. Kedua ujung bibirnya tersungging ke atas merasakan kepuasan.
__ADS_1
Setelah tenaganya berangsur-angsur pulih dia bangkit dari tempat tidur Raisya. Dia melemparkan selimut begitu saja ke atas tubuh Raisya yang tanpa sehelai benang pun.
Nathan memunguti beberapa bagian bajunya lalu dengan hanya memakai celana boxernya dia keluar dari kamar Raisya dan naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Di subuh hari seperti biasanya bi Siti membersihkan rumah dengan diawali menyapu. Setelah menyapu ruang tamu dan ruang keluarga bi Siti masuk ke kamar Raisya tanpa mengetuk pintunya karena setahu dirinya Raisya tidak pulang.
Degg
Bi Siti terkejut bukan kepalang begitu masuk kamar itu terlihat tubuh Raisya yang ada di atas ranjang hanya tertutupi bagian tengahnya saja dengan asal.
"Astaghfirullah... " Bi Siti menutup mulutnya tak menyangka kamar itu sudah ada penghuninya, terlebih merasa ada kejanggalan.
Bi Siti mendekati Raisya perlahan dengan detak jantung tak menentu.
"Nyonya... " Bi Siti memanggil Raisya mengecek apakah orang yang ada di depannya itu baik-baik saja. Memang ada pemandangan yang kurang etis dilihatnya. Kakinya telanjang menjuntai tak berarah. Hanya bagian badannya saja yang tertutup. Bi Siti tak berani menggusur selimut untuk menutupi semua tubuh Raisya.
Merasa curiga panggilannya tak mendapatkan respon, bi Siti menepuk pundak Raisya.
"Nyonya.. nyonya... " Panggil bi Siti pada Raisya.
"Ya ampun.. nyonya.. " Bi Siti mundur beberapa langkah.
Bi Siti dengan setengah kesadarannya keluar dari kamar itu lalu bolak-balik tak tahu harus berbuat apa.
"Bagaiamana ini... " Dia menggigit jarinya.
"Kapan nyonya pulang? Dan kenapa dia seperti itu?" Bi Siti bingung.
"Apa ada pembunuh masuk semalam?"
"Ah.. apa aku bangunkan pak Nathan saja?" Apapun yang terjadi dengan Raisya, dia tak mungkin memberitahu orang luar dulu sebelum yang punya rumah terlebih dahulu.
Bi Siti naik ke lantai dua lalu mengetuk pintu kamar Nathan.
"Pak.. pak. Nathan.. bangun."
__ADS_1
"Pak.. pak Nathan... bangun."
Nathan menggeliat mendengar ketukan juga panggilan dari bi Siti. Lalu mengucek matanya yang masih lengket juga mengantuk.
Dia menyipitkan matanya melihat jam yang ada di samping nakas.
"Masih jam 5. Ada apa bi Siti membangunkan ku jam segini?" Ucapnya dalam hati.
Nathan turun dari ranjang dengan langkah malas. Lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Ada apa bi?" Mata Nathan masih belum bisa terbuka lebar melihat bi Siti.
"Pak... tolong! Tolong... nyonya pak!" Bi Siti dengan suara gemetar meminta tolong pada Nathan.
"Ada apa dengan dia?" Nathan seperti lupa dan tidak merasa bersalah menanyakan Raisya pada bi Siti.
"Nyonya... sepertinya meninggal pak!" Bi Siti dengan pengetahuannya yang awwan telah mengira Raisya meninggal karena tidak merespon panggilannya.
"Apa???" Nathan langsung terhenyak kaget mendengar kabar Raisya meninggal.
Deggg
Jantunnya seperti berhenti berdetak. Dadanya terasa nyeri dan sesak mendengar kabar dari bi Siti.
"Pak... ayo.. tolong nyonya, ayo lihat ke bawah!" Bi Siti yang ketakutan mengajak majikannya untuk melihat Raisya.
Nathan menuruni anak tangga dengan lemas. Bukan lemas karena kurang makan, tapi... dia benar-benar takut.
Karena semalam dia telah melakukan sesuatu pada Raisya dengan kasar. Bisa jadi dia mati karena ulahnya.
"Pak.. ayo... kenapa. lambat sekali. Lihat nyonya dulu! Saya takut pak... " Suara Bi Siti terdengar ingin menangis.
"**.... saya... " Nathan saling berpandangan dengan bi Siti.
"Bapak... " Sekarang tatapan bi Siti menjadi aneh.
__ADS_1
"Bapak... telah membunuh nyonya?" Suara parau bi Siti membuat Nathan membeku.
"Ya Allah.... " Badan Bi Siti yang tambun langsung meluruh di lantai dan menangis sejadi-jadinya. Kesedihan juga ketakutannya menjadi satu sampai dia lemas tak bertenaga.