
"Mau nyari kemana kalau alamat saja gak ada." Keluh Hendrik.
"Ada sih. Tapi ini alamat dulu. Aku menyesal dulu gak langsung mencari." Sarah menunduk.
"Ya udah kita coba saja. Aku juga sudah lama gak ke Bandung. Barangkali sekarang sudah banyak perubahan. Harusnya kalau mau langsung tahu bawa Raisya. Dia kan orang Bandung." Hendrik yang dulu pernah kuliah di Bandung agak sangsi mengenal kota Bandung dengan baik sekarang. Karena sudah lama Hendrik tak datang ke kota itu semenjak kelulusan kuliahnya di sana. Hendrik malah ada ide mengajak Raisya yang memang kebetulan orang sana. Dan menyarankan pada Sarah.
"Ah gak usah. Ini hal privasi. Aku mau mencarinya sendiri kalau kamu tak mau mengantarkan." Keluh Sarah yang agak sensitif.
"Ya udah kalau begitu. Kamu kabari saja kapan mau pergi." Hendrik buru-buru menghabiskan makanannya. Karena teringat akan menjemput Ratna.
Kring
Kring
Kring
Suara handphone Hendrik berbunyi.
"Iya Rat. Kamu sudah beres acara makan-makan nya?" Tanya Hendrik pada Ratna.
"Sudah kak. Tapi aku gak mau pulang."
"Gak mau pulang? gak mau pulang gimana?" Hendrik mengernyitkan dahi.
"Aku pengen ke kost an Raisya kak." Ratna bicara manja.
"Kan besok lagi bisa. Ini sudah malam Rat! Aku jemput sekarang!" Hendrik agak khawatir mendengar Ratna ingin mengunjugi Raisya di malam hari.
"Ih.. kakak. Raisya gak mau aku berkunjung ke sana. Kalau gak dibikin begini mana mau dia menerima aku." Ratna mengerucutkan bibirnya.
"Iya. Tapi ini sudah malam Ratna. Emangnya jauh tidak kostan Raisya yang baru?" Hendrik ingin memastikan kondisi adiknya aman.
"Gak tau. Tapi kayanya sih deket kak!" Ratna yang belum mengetahui tidak bisa menjawab pasti.
"Kamu giman sih! Sekarang kamu ada dimana? Biar kakak yang antar kesana!" Hendrik tetap khawatir.
"Depan kantor kak." Jawab Ratna datar.
__ADS_1
"Ya sudah kakak ke sana sekarang kamu jangan kemana-mana. Tunggu di security!"
"Jangan kak! Nanti gimana kalau Raisya marah sama aku? Kan berabe. Aku gak bisa temenan sama Raisya lagi. Pokoknya kakak jangan kesini!" Ratna menutup teleponnya.
"Ya ampun anak manja yang gak tahu waktu. Masih aja keluyuran jam segini!" Keluh Hendrik sambil melihat layar handphonenya yang ditutup Ratna.
"Adikmu?" Tanya Sarah.
"Iya. Katanya gak mau pulang. Malah jam segini masih ada di depan kantor ingin ke kostan nya Raisya." Terang Hendrik.
"Adik kamu nempel banget sama Raisya. Kaya yang bukan sobatan." Sarah menilai agak keganjilan.
"Tahu tuh anak. Kayanya gak punya temen lagi selain Raisya."
"Tapi gal lesbi kan?" Sarah memastikan dugaannya.
"Apa?" Hendrik mengerutkan dahinya.
"Ya yang aku lihat seperti ada kecenderungan. Tapi.. sebelum terlanjur mending kamu pendekatan sama adik kamu." Saran Sarah pada Hendrik.
kesalahannya ada dimana sampai Ratna gak bisa bersosialisasi dengan baik. Sampai menemukan Raisya, dia nempel aja terus kemana dia pergi. Kalau Raisya sendiri sih dia karena baik jarang mempermasalahkan hal itu." Hendrik mengeluarkan alasannya pada Sarah.
"Baiknya sih begitu.. atau kalau memang sulit ajaklah Raisya. Mungkin Ratna mau kalau Raisya yang menemaninya." Saran Sarah pada Hendrik.
"Iya ya. Kok aku gak kepikiran ke sana?" Hendrik baru menemukan ide.
"Drik kita pulang dulu! Kamu kan mau jemput Ratna?" Sarah mengakhiri pertemuan dengan Hendrik. Dan memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Sejak kejadian semalam Sarah memutuskan mulai sekarang akan tinggal di apartemen. Hatinya yang terluka belum siap menghadapi Adam. Sarah perlu menetralkan kembali hati dan pikiranya sebelum bertemu dengan Adam.
Sarah sejak sore telah memberi tahu Adam bahwa dirinya tidak akan pulang ke mansion dan akan kembali ke apartemennya. Adam hanya membacanya tapi tak membalas pesan Sarah.
Sarah sampai di area parkir tepat jam setengah sepuluh. Dia lantas naik lift menuju apartemennya dengan langkah lunglai.
Entahlah tiba-tiba dia ingin bertemu dengan ibunya yang sudah sejak lama Sarah tak mempedulikannya.
Ada rasa benci dan kesal kenapa ibunya menitipkan dirinya pada ayahnya setelah perceraian mereka. Sarah yang selama ini diselimuti rasa benci tidak mau sama sekali menemui ibunya. Bahkan ketika akan menjelang pernikahannya tiga tahun lalu ayahnya memberikan sebuah alamat yang pernah mereka huni bersama sebelum mereka bercerai.
Itu alamat dulu. Bahkan Sarah pun tak yakin apakah ibunya masih menempati rumah itu atau sudah pindah. Tapi rupanya kesedihannya menuntut Sarah ingin menemukan seseorang yang bisa berbagi cerita dengannya bahkan ingin berlabuh di sebuah pangkuan yang sangat dirindukannya sekedar melepas beban yang menghimpit dadanya saat ini.
__ADS_1
Sarah menekan tombol kode angka yang ada di pintu apartemennya. Sejak dulu Sarah tidak pernah mengganti kode akses masuk pintu ke apartemennya. Dia bukan tipe yang suka ribet untuk hal-hal yang sepele.
Klek
Pintu terbuka dan hampir saja jantung Sarah meloncat dari tempatnya begitu melihat sosok Adam duduk di kursi sambil bersilang kaki menatap dengan sorot mata menyalang.
"Mas... " Sarah yang masih dengan degup jantung yang tak beraturan menyapa Adam yang nampak mengeluarkan amarah.
"Heh.. " Adam tersenyum kecut.
"Sudah lama?" Sarah walaupun hatinya tidak baik-baik saja berusaha senormal mungkin menyapa suaminya.
"Dari mana kamu? Jam kerjamu sudah selesai dari tadi." Tatapan Adam dibarengi nada ketus sedang menatap inten Sarah.
"Tadi aku bertemu teman mas." Sarah tak bisa berbohong walaupun tidak mengatakannya dengan detail.
"Hendrik?" Suara Adam penuh rasa cemburu.
"Iya."
"Jadi ini alasannya tidak kembali ke rumah? Ingin bebas kelayapan dengan mantan." Nada bicara Adam seperti sedang menyulut api pertengkaran.
"Bukan begitu mas." Sarah bicara pelan. Selain lelah fisik Sarah pun tak ingin malam ini memulai pertengkaran.
"Lalu?" Adam seolah sedang menginterogasi Sarah.
"Dia sedang konsultasi tentang adiknya." Sarah melewatkan tujuan pembicaraan utamanya dengan Hendrik.
"Alasan. Bukannya kalau tidak ada fair dia bisa bicara dengan dokter lain di rumah sakit. Bukannya bicara di cafe."
"Iya. Dia juga mau ke rumah sakit. Tapi adiknya tidak mau. Jadi dia minta saran dari aku mas." Sarah mengambil air minum lalu meneguknya.
"Mas mau minum apa? Biar saya buatkan."
"Tidak usah. Aku tidak mau minum dari tangan yang sudah melayani selingkuhannya." Isi kalimat yang dilontarkan Adam begitu menusuk Sarah.
"Maksud mas apa ya? Aku tidak berselingkuh dengan siapapun. Aku hanya bicara di cafe itu pun sudah mas Adam ketahui bukan? Kalau tadi mas Adam tahu kenapa masih menuduhku selingkuh?" Genangan air bening mengumpul di ujung kelopak mata Sarah.
__ADS_1