Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Berdamai


__ADS_3

"Apa kabar brother?" Jacky menyapa Nathan, sontak mata Nathan membulat melihat Jacky tiba-tiba ada di depannya. Sudah lama memang dua saudara ini tidak bertemu sejak pernikahannya. Masing-masing menjalani hidupnya tanpa ingin saling tahu ending pernikahannya seperti apa. Dan sialnya kedua saudara itu memang tidak beruntung dalam pernikahan. Keduanya sama-sama bercerai dengan pasangannya.


Nathan hanya mengangguk lemah. Dia tak bicara karena terhalang oleh alat suplai oksigen yang masih setia menempel.


"Waduh... sudah gadis lagi keponakanku. Kamu beruntung brother punya istri dan anak yang baik." Ucap Nathan duduk di samping Michel yang sudah tertidur sambil duduk.


"Boleh aku pindahkan Michel ke kursi? Kasihan.. dia pasti sakit kalau tidur seperti ini." Jacky menghapus kelakuan yang selama ini tercipta. Dia ingin memulai hubungan baik dengan semua orang terutama Nathan.


Nathan mengangguk setuju.


Jacky langsung mengangkat tubuh Michel dan membaringkannya di sofa bed.


"Mmm.. kamu tumbuh baik nak." Ucap Jacky melihat Michel dengan tatapan haru. Anak ini sejak kecil hidup single parent padahal ayah ibunya lengkap. Hati Jacky terenyuh melihat keadaan Michel yang tak terasa sudah sebesar ini. Nathan beruntung masih mempunyai anak yang setia menunggunya. Lah dia? Pernikahannya sangat amburadul. Bahkan sampai saat ini dia belum merasakan bagaiman nikmatnya yang namanya menyentuh wanita.


Jacky berjalan meninggalkan Michel lalu duduk di kursi dekat tepian ranjang. Dia menghela nafas panjang.


Dia melihat Nathan sambil tersenyum. Ya..wajah yang lama terkubur untuk tersenyum. Nathan melihat Jacky dengan tatapan sendu. Dia merasa ada hal yang mengganjal dalam hatinya. Sejak kapan saudaranya ini bisa seramah itu? Dan apa maksud tujuannya datang? Untuk menjenguknya? Oh No. Itu bukan yang ada dalam kamus Nathan selama ini.


Karena selama ini Jacky selalu menunjukkan wajah permusuhan. Jadi wajar saja kalau dia tak percaya kebaikan yang ditampilkan Jacky. Atau mungkin sekarang dia sedang mengolok-oloknya? Tapi buat apa? Ajang balas dendamkah? Karena dia sekarang lemah tak berdaya? Atau ada motif lain? Tentu Nathan sedang menunggu aksi Jacky selanjutnya.

__ADS_1


"Mmm.. sory ya brother.. gue baru dateng. Gue yakin elu pasti gak suka gue dateng. Gue ngerti sekali." Kenapa Jacky mengucapakan perkataan itu? Tentu setelah dia melihat raut wajah Nathan yang terlihat kaget dan merasa menatapnya aneh.


"Tapi gue tulus kok mau jenguk elu." Jacky menatap Nathan ingin meyakinkannya orang yang sedang tergolek lemah itu. Jacky pasrah jika Nathan tidak percaya padanya. Faktanya kedua saudara itu selama ini selalu saja berseteru. Dan pastinya agak kamu jika mereka akan berdamai.


Kalaulah Nathan bisa bicara mungkin dia akan membalas apa yang dikatakan Jacky. Namun saat ini apalah dayanya, dia hanya sebatas jadi pendengar.


"Gue bari datang Korea adi pagi. Terus tadi gue langsung ke rumah Ratna karena gue kangen sama masakan dia. Dan gue gak sengaja ketemu Raisya sama anak elu. Anak elu cakep ya bro.. Hhmm... selamat ya! Elu emang beruntung sudah punya istri baik dan punya anak dua lagi." Jacky tersenyum memberikan selamat pada Nathan atas keberuntungannya. Mengingat kalau dibandingkan keadaan Jacky dan Nathan, dia merasa tidak ada apa-apa nya selama ini.


"Terima kasih." Nathan berkata lirih.


Jacky mangut-mangut.


Nathan agak mengerutkan dahi. Dia tidak percaya apa yang dikatakan saudaranya itu. Tapi yang jelas dia akan mendengarkan dengan baik apa yang akan dikatakannya lagi.


"Gue.. mau minta maaf sama elu Nat! Maafin gue! Selama ini gue selalu saja jadi musuh elu dan bikin elu gak bisa damai. Ya... gue ingin menyudahi permusuhan selama ini sama elu. Gue sadar... ternyata gak ada gunanya kita terus-terusan bermusuhan. Diantara kita tidak ada yang menang. Yang ada kita malah sengsara. Gue udah lelah... lelah hidup kaya gini terus. Gue ingin kita semua baikan. Gue minta maaf sama elu Nat!" Mata Jacky mengembun. Kenangan yang merka torehkan memang kebanyakan adalah sesuatu yang saling menyakiti. Bahkan cenderung saling balas. Banyak sekali hal-hal keburukan yang menghiaai keduanya. Hidupnya dipenuhi hal-hal seperti itu. Tak ada yang namanya indah-indahnya yang namanya saudara.


Tangan Nathan bergerak menyentuh tangan Jacky. Wajah Nathan menatap Jacky penuh haru. Hatinya terasa damai mendengar Jacky berkata seperti itu. Memang sekarang saatnya dia berdamai dan saling memaafkan kesalahan diantara keduanya. Saling melebur apa yang menjadi ganjalan dalam hati juga pikiran masing-masing. Apalagi ikatan darah mereka sangat kuat. Jika mereka mempunyai kesempatan untuk berbaikan inilah saatnya mungkin untuk keduanya untuk saling mengintropeksi keadaannya masing-masing. Bisa jadi masalah yang mereka buat adalah karena keegoisannya masing-masing.


Jacky meraih tangan Nathan dan mengajaknya bersalaman. Rasanya sangat damai ketika dua tangan saling berjabatan dengan tulus dan saling melepaskan keangkuhan dalam diri mereka masing-masing. Benteng kesombongan yang mereka bangun saatnya harus runtuh diganti dengan rasa saling kasih.

__ADS_1


"Terima kasih bro.. sudah mau menerima permintaan maaf gue." Ucap Jacky tulus. Nathan kembali mengangguk. Kalaulah dia bisa bicara banyak mungkin dia pun akan membalasnya dengan kata-kata yang layak. Tapi sayang dia terlalu lelah untuk mengeluarkan nafas. Ada sakit di dadanya kalau dia berbicara.


"Cepatlah sembuh! Gue ingin denger elu bicara Nat." Jacky memberi suport agar Nathan ceay sembuh.


"Oh iya.. gue belum sempat pulang ke rumah lho. Kayanya gue mau balik dulu. Entar gue dateng lagi nemenin Michel disini." Jacky tak bisa terlalu lama tinggal di rumah sakit karena dia sendiri belum istirahat sejak kedatangannya ke Indonesia.


Nathan mengangguk.


Krekkk


Suara pintu dibuka.


"Permisi... " Seorang wanita masuk dengan membawa sekeranjang buah. Matanya langsung tertuju pada ranjang Nathan. Dia tersenyum lalu berjalan mendekati Nathan dan Jacky.


Jacky yang baru melihat orang itu, menatapnya detail. Sedang memindai identitas wanita itu dengan seksama.


"Selamat siang Pak Nathan!" Dia sedikit membungkukkan badannya. Wanita itu melihat Nathan lalu beralih melihat Jacky.


Nathan hanya memandang tanpa bisa membalasnya. Sedang Jacky agak mengernyitkan dahi melihat penampilan wanita yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2