
"Apa??" Ibunya Jacky kaget.
"Syuuutt. Mamih suka heboh ah." Jacky mereguk jus lagi.
"Lagian kamu bikin kaget." Ibunya Jacky asik menata bunga pun sampai menjatuhkan bunga-bunga yang tadi disusunnya.
"Gimana mih?" Jacky meminta pendapat.
"Raisya mau apa tidak? Kamu sih.. bukannya dari dulu nikahin dia. Udah janda baru aja ngebet." Gerutu nyonya Rosa.
"Yang lalu tidak akan kembali. Sebaiknya nanti kita bicarakan sesudah makan! Kamu mending mandi sana!" Tuan Robert yang baru saja duduk di meja makan langsung menjawab.
"Oke. Bantuin ngomong ya pih!" Jacky nyengir kuda. Dia senang sekali sekarang orang tuanya ikut mendukung.
Jacky naik ke atas lalu berniat membersihkan dirinya setelah tadi cukup lumayan pergi ke sana kemari mengantar Michel membuat badannya lengket keringat.
"Pih.. apa tidak terlalu cepat pih? Raisya mungkin saja belum siap." Ibunya Jacky agak khawatir.
"Nanti kita bicara pada Raisya. Mereka sudah cukup umur mih. Kasihan juga Jacky sudah lama sendiri mih! Seorang laki-laki kebutuhannya berbeda dengan perempuan." Tuan Robert memberi pengertian pada istrinya.
"Terserah papih deh. Mamih juga ikut cemas kalau Jacky lama menduda. Dijodohkan anaknya tidak mau. Jadi terserah bagaimana baiknya saja, mamih ikutan." Ibunya Jacky sudah bingung dengan nasib anak-anaknya.
"Ya.. kita lihat saja nanti mih. Ujian kita sekaligus introspeksi diri kita. Barangkali ini juga salah kita." Ucap tuan Robert sambil menyesap kopi yang sudah disediakan istrinya.
Di lain tempat. Ratna sedang memasak untuk menyambut kedatangan kakaknya Hendrik yang memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Katanya ingin bergabung berbisnis dengan Irwan. Hari ini Irwan akan menjemput Hendrik ke bandara dan Ratna sibuk mengantar si kembar dan menyiapkan masakan memyambut kakaknya.
__ADS_1
Rumah Ratna dan kedua orang tuanya memang berdekatan memudahkan untuk berkomunikasi dan sesekali bisa menitipkan si kembar jika pekerjaannya menumpuk. Apalagi setelah Raisya keluar kerja, Ratna belum bisa mencari penggantinya lagi untuk meng-handle pekerjaan bisnisnya.
"Apa kabar sister?" Suara seorang laki-laki yang sudah dikenalinya tiba-tiba memeluknya dari belakang setelah lama tidak pulang ke Indonesia.
"Ah.. kakak.. aku kangen banget... " Ratna langsung memeluk Hendrik dengan erat dengan mata berkaca-kaca.
"Mmmm... kakak juga kangen kamu." Hendrik balas memeluk Ratna.
Hendrik melonggarkan pelukannya dan memegang bahu adiknya sambil menatap. wajahnya yang sedang menyeka airmata. Sungguh pemandangan yang mengharukan. Terakhir datang ke Indonesia saat Ratna menikah dengan Irwan itu sudah lama sekali. Hendrik memutuskan untuk tidak pulang dulu ke Indonesia sebelum dia berhasil mengumpulkan dana untuk masa tuanya nanti. Alhasil di usia mudanya dia sudah mempunyai perusahaan sendiri dan beberapa investasi di beberapa perusahaan. Berkat otaknya yang cerdas, dia bukan hanya sekedar bekerja sebagai tenaga ahli, tapi dia mampu membidik perusahaan untuk bekerjasama dan berinvestasi. Sungguh kemampuan luar biasa.
"Kok menangis?" Hendrik ikut mengusap airmata Ratna yang mengalir di pipinya.
"Aku kangen banget kak.. kakak jahat! Kenapa gak balik-balik. Padahal mama sama papa sudah menyuruh kakak pulang. Apa kakak gak kangen gitu?" Ratna terisak tak kuasa menahan keharuan melihat Hendrik sudah ada di depannya.
"Ah.. gombal." Ratna menepuk dada bidang kakaknya.
Hendrik mencium pucuk kepala adiknya lama. Tak bisa dipungkiri dia pun sangat merindukan keluarganya sejak lama. Tapi dia ingin menahan diri dulu demi memberi kejutan untuk. semuanya. Setelah berhasil di luar negeri janjinya dalam hati, dia baru akan pulang ke tanah air untuk menghabiskan masa tuanya dan menikah.
"Kamu sakin cantik saja Ratna. Apa. karena bahagia menikah dengan Irwan. Kakak jadi ngiri nih." Hendrik melihat adiknya dengan detail. Benar kata orang tua dulu. Wanita akan terlihat pancaran kecantikannya manakala dia berbahagia. Semakin tua memang badan kita akan berubah tapi kecantikan dari dalam akan semakin muncul jika dirinya merasakan kebahagiaan. Ibarat bulan akan muncul di malam hari dan memancarkan keindahannya karena tak ada matahari. Ya begitulah kira-kira. Mohon maaf jika author salah peribahasa.
"Iya dong kak. Aku jaga adik kakak yang cantik ini biar kakak pas pulang tidak marah sama aku." Irwan menimpali.
"Oke good. Kakak sangat berterimakasih sama. kamu Wan. Kamu memang lelaki hebat yang pantas mendapatkan Ratna. Ratna dari dulu gak pernah neko-neko sama laki-laki, dia buat kamu seorang." Hendrik berbisik nakal di telinga Irwan.
"Ha.. ha.. ha.. Oke oke. Aku siap kak menjadikan dia ratu di hati aku." Irwan tertawa terbahak-bahak mendengar bisikan kakak iparnya.
__ADS_1
"Hei... apa yang kalian bicarakan?" Ratna yang tidak mendengar apa yang dibisikkan Hendrik agak protes.
"Sudah kakak laper nih. Mau makan sama si cantik kembar." Hendrik yang sudah melihat banyak hidangan di meja makan tak tahan untuk segera makan.
"Yang.. tolong panggilkan mama sama papa biar kita makan bareng sekarang. Kayaknya kak Hendrik sudah tidak tahan." Ratna meminta bantuan Irwan untuk memanggil kedua orang tuanya dan juga sikembar agar segera datang ke meja makan untuk makan bersama.
"Oke beb.. " Irwan langsung masuk ke dalam tepatnya ke ruangan keluarga.
"Mmm.. kak." Ratna duduk di samping Hendrik yang sedang mencicipi risol buatan Ratna.
"Apa say."
"Kakak kapan nikah? Sudah punya calon belum?" Ratna ingin tahu kapan kakaknya yang playboy ini akan menikah. Karena usianya sudah menjelang 36 tahun tapi Ratna belum tahu kabar tentang kedekatan kakaknya dengan perempuan.
"Kabar kakak baik-baik saja. Tidak kekurangan perempuan. Yang mau diajak nikah mengantri juga. Tinggal nunggu penghulu saja." Canda Hendrik seperti biasa.
"Ih.. kakak serius dong! Masa kakak tidak mau menikah sih? Mau dicariin calon istri kak?" Ratna menawarkan diri untuk memancing Hendrik.
"Mmm.. boleh. Apalagi kalau calon istri kakak Raisya. Sekarang juga kakak siap sedia." Hendrik ternyata sampai sekarang masih berharap Raisya menjadi istrinya.
"Kakak serius? Mau sama Raisya? Tapi.. " Ratna agak bingung.
"Tapi apa? Janda maksudmu?" Hendrik menoleh pada Ratna.
"Mmm..bukan itu sih kak. Masalahnya dia kan anaknya dua. Apa kakak tidak masalah?" Ratna ikut memikirkan masalah kakaknya.
__ADS_1