Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Permainan hati


__ADS_3

Sampailah mobil yang dikendarai Anwar di gerbang Taman Safari. Tanpa diduga laki-laki yang dipikirkan Raisya sudah berdiri di depan gerbang.


"Semuanya sudah dibayar. Aku yang menyetir saja agar kita bisa satu mobil." Jacky begitu mendominasi. Perintah ibarat undang-undang yang tak bisa ditentang. Daripada ribut Anwar pun melepaskan sabuk pengaman.


Aisyah yang tahu harus apa, dia membuka handle pintu. Dia akan pindah duduk di belakang bersama Raisya.


Begitupun Anwar turun dari kursi sambil menggendong Arsel.


"Ra.. pindah kamu ke depan. Biar Michel dan Arsel duduk di belakang bersama Anwar!" Semua orang melihat ke arah Jacky. Dan semua mata sepertinya menyiratkan hal yang sama. Siapa elu ngatur-ngatur?


"Aku di belakang saja dengan Aisyah. Biar Anwar di depan menjaga Arsel. Biar semua perempuan duduk di belakang saja." Raisya menolak perintah Jacky yang dianggap nya semena-mena.


Aisyah dan Anwar saling menatap bingung menghadapi pertengkaran mereka.


"Ayah! Jangan buat kita bete deh!" Michel langsung melayangkan protes.


Jacky menatap inten Raisya. Dia melihat wajah perempuan itu tidak senang. Padahal ingin sekali pagi ini dia bisa ditemani di depan oleh Raisya. Bukankah itu mirip seperti pasangan?


"Baiklah.. terserah mau kalian. Tapi aku yang bawa mobil!" Jacky akhirnya mengalah karena melihat wajah Raisya semakin menunjukkan rasa tidak senang padanya.


Semua orang lalu naik pada mobil yang sama. Yang tadinya dibayangkan suasana akan menyenangkan sekarang semuanya terasa dingin dan kaku.


Jacky mulai melajukan mobilnya memasuki gerbang kebun binatang itu dengan perlahan.


Kring


Kring


Kring


Suara handphone Raisya terdengar nyaring. Raisya segera menggeser tanda hijau untuk mengangkat panggilan.

__ADS_1


"Iya halo pak." Raisya langsung menyapa.


"Kamu sudah sampai Raisya?" Tanya Baron yang baru saja tiba.


"Sudah pak. Ini baru saja masuk. Pak Baron dimana?" Tanya Raisya.


"Saya sudah di gerbang. Baiklah kalau begitu sekarang saya bayar tiket dulu dan menyusul masuk." Ucap Baron langsung mematikan handphone karena takut ketinggalan jejak.


Gerak-gerik Raisya tak luput dari perhatian Jacky. Perasaan Jacky seperti gado-gado mendengar pembicaraan Raisya dengan seorang laki-laki yang baru saja melakukan panggilan. Meski dirinya sekarang sudah tidak lagi berstatus suami, rasa memiliki pada Raisya pun masih sama seperti dulu. Jacky selalu egois dan pendendam. Dia tak mau laki-laki lain dekat dengan Raisya apalagi memiliki nya. Jacky tidak pernah berpikir bagaimana rasanya menjadi Raisya. Melihat mantan suaminya terus-terusan saja mengatur dirinya dan dia dengan egoisnya bisa menikmati pernikahan dengan mantan kekasihnya itu. Lalu dimana letak perasaan laki-laki itu saat ini.


"Siapa yang kamu telepon?" Aura dingin kini sedang berselimut di dalam mobil yang sedang ditumpangi Raisya.


"Pak Baron atasan saya." Raisya menjawab jujur tak mau semua orang melihat pertengkaran mereka jika Raisya memperlihatkan rasa kesalnya.


"Ngapain atasan kamu nelpon-nelpon? Ini kan hari libur?" Benar saja Jacky tidak memandang tempat dan situasi. Dia langsung melayangkan protes dan unek-unek yang ada di dalam hatinya begitu bebas. Padahal di dalam mobil ada orang asing dan juga anak-anak yang harus dijaga perasaannya.


"Tidak apa-apa. Dia cuman telepon saja." Raisya menanggapinya sehalus mungkin, agar suasana tidak mencekam. Rasanya datang ke kebun binatang kali ini seperti memasukan binatang nya ke dalam mobil. Takut dan siap-siap diterkam oleh Singa yang ada di depan.


"Ih.. kakak.. kasian ayah. Nanti dimakan singa ayahnya." Arsel yang belum mengerti malah membela Jacky.


"Biarin.. Biar ayah gak makan kita." Jawab Michel ketus dan cemberut.


"Emang kamu mau adik kamu tak punya ayah gitu? Kalau ayah mati di makan singa." Ucap Jacky sambil melajukan mobil.


"Biarin.. daripada ayah bawel marah-marah terus. Jadi makan ati." Michel cemberut.


"Kakak.. liat singanya kesini!" Arsel berteriak, dia tak menanggapi pertengkaran antara ayah dan anak itu.


"Biarin.. suruh kesini aja! Nih ada temannya disini satu." Jawab Michel ketus.


"Temennya?" Arsel kering lalu menoleh ke belakang melihat Michel.

__ADS_1


"Udah.. jangan dipercaya kakak kamu tuh lagi bete! Jadi ngomong nya ngelantur." Jawab Jacky tak mau Arsel ikut-ikutan jadi pro mereka.


Arsel kembali melihat binatang-binatang yang berkeliaran bebas di sekitar taman yang sedang dijelajahinya.


"Wah celem... kalau meleka pada kesini semuanya bagaimana ya?" Anak itu sedang berpikir.


"Disini ada aturannya sayang.. tidak boleh membuka pintu dan jendela bahkan memberi makanan pada mereka. Karena jika kita membuka jendela atau pintu atau memberi makanan pada mereka semua binatang akan terpancing mendekati kita. Dan itu membahayakan. Kalau mereka sampai mendekati kita cukup kita diam tidak bersuara agar tidak memancing mereka untuk menggangu kita." Anwar menjawab pertanyaan Arsel.


"Oh begitu?" Arsel menganguk-ngangguk.


"Bagaimana Arsel senang?" Tanya Anwar sambil memeluknya dengan sayang.


"Ceneng paman. Acel ceneng bica liat binatang aclinya." Arsel benar-benar senang meski ada' sedikit rasa takut juga melihat binatang buas secara langsung.


"Syukur kalau begitu." Ucap Anwar sambil tersenyum.


Di bangku belakang tiga perempuan pun tak kalah heboh Michel menunjuk kesana kemari melihat binatang-binatang yang baru saja dilihatnya secara reel. Kedua perempuan dewasa yang mengapitnya ikut bergembira melihat anak-anak senang dibawa ke kebun binatang ini.


Jacky yang secara tidak sadar dari tadi melihat dari kaca spion tengah ikut tersenyum merasakan kebahagiaan melihat perempuan yang ada dibelakang tersenyum. Perhatiannya bukan pada binatang malah tertuju perempuan yang ada di belakang.


Akhirnya dia merasakan kebersamaan yang selama ini selalu diidam-idamkan nya.


Di mobil lain Nuri tetap merengek.


"Papa kenapa mengajak Nuri kesini? Nuri bukan mau ke kebun binatang pa! Nuri mau ketemu mama." Ternyata anak itu tidak mau diajak berjalan-jalan ke kebun binatang. Karena tujuannya dari semalam hanya ingin bertemu dengan perempuan yang dianggapnya mamanya. Saking hausnya belaian kasih sayang seorang ibu, dan Baron tak pernah dekat perempuan manapun, begitu ayahnya membawa seorang perempuan, anak itu langsung senang karena dia akan mempunyai seorang ibu.


"Nuri kenapa sih kamu rewel terus!? Tante Raisya tuh bukan mama kita. Mama kita sudah mati." Imelda yang biasa diam, ikut bicara karena kesal melihat tingkah adiknya yang menjengkelkan.


"Papa.. kakak.. jahat.. Mama kita tidak mati. Mama kita cuman pergi. Papa... " Rengek Nuri membuat kening Baron berdenyut.


"Iya sayang.. mama kalian sudah meninggal. Jadi tante Raisya bukan mama kalian. Papa harap Nuri bisa mengerti." Tanpa Baron sadari perkataannya malah menyakiti perasaan putri keduanya.

__ADS_1


__ADS_2