Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Keguguran


__ADS_3

"Oh.. begini rasanya surga dunia." Teriak Jacky dalam batinnya begitu pedang pusaka nya masuk ke lorong sempit milik Sherly. Tak pernah dirasakan sebelumnya, dan hari ini dalam. ikatan suami istri Jacky mencoba menunaikan hasratnya pada perempuan yang sah untuk digauli. (Berbeda rasanya jika berhubungan di luar nikah)


Dengan insting kelaki-lakiannya dia tak bisa diam. Dia terus bergerak maju mundur, sehingga menimbulkan gesekan kenikmatan. Dan pikirannya menuntun untuk melakukan sesuatu yang sedang dinikmatinya.


Begitupun Sherly. Sudah lama dia mendambakan Jacky bisa menyentuhnya. Ternyata dengan iming-iming bisa memberitahu mantan istrinya, dia berhasil membuat Jacky mendekat dan mengadakan penyatuan. Itu sungguh di luar dugaan. Semuanya mungkin sudah ada pada waktunya.


"Ahhh... Raisya... " Jacky malah menyebutkan nama Raisya begitu pelepasannya memuncak dan menghasilkan sesuatu kenikmatan yang luar biasa. Ekpresi yang benar-benar di luar dugaan. Antara tubuh dan pikirannya tidak singkron.


Sherly yang tengah di puncak nikmat pun terhenyak kaget. Kenapa dia harus mendengar nama yang lain selain dirinya yang diucapkan Jacky. Entah sadar atau tidak Jacky mengatakan itu.


"Ya ampun.. gak salah sebut?" Sherly hanya bergumam dalam batinnya. Ada rasa kecewa dalam dadanya begitu Jacky menyebutkan nama mantan istrinya itu di tengah pergulatan panas suami istri itu, tengah di puncak kenikmatan. Sontak Sherly langsung terhempas hebat begitu sudah di puncak dia harus jatuh ke jurang karena nama itu.


Jacky memeluk Sherly setelah melakukan penyatuan. Ada rasa puas juga relaks yang dirasakan semua otot-otot tubuhnya.


Sherly tidak mau menelan kekecewaan. Dia tak kan mudah menyerah begitu saja. Setelah mengambil jeda istirahat beberapa waktu. Sherly mengambil alih permainan. Dia tak mau Jacky terlarut dalam nama lain selain dirinya. Dia harus melakukan usaha agar Jacky kembali mencintai dirinya.


"Sayang.. apa enak servisku?" Di selang melakukan permainan Sherly terus mengajak Jacky bicara. Dia terus membisikkan kata-kata hangat agar Jacky sadar, bahwa yang disentuhnya sekarang adalah 'Sherly' bukan Raisya.


"Mmm... " Mata Jacky merem melek merasakan rangsangan dari sang istri. Pedang pusakanya kembali on siap bertempur kembali.


Sherly tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bermain di atas tubuh Jacky yang sedang terlentang. Jacky tak bisa menghindar dari permainan yang kedua kali yang di dominasi oleh Sherly.


Dan akhirnya untuk kedua kalinya pun mereka melakukan penyatuan juga naik ke titik puncak nirwana yang sudah memuncak.

__ADS_1


"Ah... " Keduanya memekik suara dengan rasa yang sama. Kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Suami istri itu kini ambruk dalam. satu selimut saling berpelukan. Meredam dan mengontrol kembali pikirannya yang tadi sudah sempat naik ke langit. Mereka tidur dalam damai dalam satu irama nafas yang sama, yaitu kepuasan.


Untuk penyatuan kedua kali Sherly tak mendengar Jacky menyebutkan nama asing. Hatinya agak senang, ternyata usahanya ada hasilnya juga, meski dia tidak yakin seratus persen.


Di lain tempat Raisya dibawa ke rumah sakit setelah pingsan di dalam toilet.


Anwar juga Aisyah terlihat cemas. Selain khawatir akan keadaan Raisya dia pun bingung harus menghubungi siapa jika Raisya mengalami sesuatu yang tidak diharapkan.


"Bagaiamana dok?" Anwar menghampiri dokter yang baru saja memeriksa Raisya di ruang UGD.


"Anda keluarganya?" Dokter malah balik bertanya.


"Iy.. Iya dok." Jawab Anwar gugup. Dia tahu bahwa dirinya sudah berbohong sudah mengaku dirinya adalah keluarga Raisya.


"Apa? Jadi mbak Raisya keguguran dok?" Aisyah terdengar syok mendengar penjelasan dokter.


"Iya." Jawab dokter singkat.


Anwar dan Aisyah menghela nafas panjang. Berita itu seperti petir di siang bolong. Keduanya begitu lemas seolah bertenaga mendengar berita duka yang dialami Raisya.


"Baiklah dok. Lakukan apapun untuk kakak saya. Yang penting kakak saya kembali sehat." Dengan nada berat Anwar harus mengambil keputusan secepatnya agar Raisya bisa ditangani dokter.


"Baik. Anda ke ruang administrasi dulu untuk melengkapi surat persetujuan tindakan paska keguguran. Nanti yang akan menangani kuretasi adalah dokter Obgyn langsung." Dokter UGD yang mempunyai gelar doktor umum, menyarankan Anwar untuk menyelesaikan prosedur tindakan di bagian Administrasi agar tindakan bisa dilakukan secepatnya. Kalau tidak Raisya akan mengalami pendarahan terus.

__ADS_1


"Baik dok." Jawab Anwar sambil memegang tangan istrinya yang terasa dingin.


"Baik. Saya tunggu di ruangan ya!" Ucap dokter UGD yang akan melakukan serah terima dengan dokter spesialis Obgyn untuk melakukan tindakan.


"Baik dok." Anwar dan Aisyah pun meninggalkan dokter itu dan berjalan ke luar untuk mencari ruang administrasi. Sejenak keduanya duduk di bangku untuk berpikir dan istirahat.


"Bagaiamana ini mas? Kasihan mbak Raisya. Dia harus kehilangan bayinya. Terus bagaimana dengan keluarganya? Sepertinya dia harus diketahui oleh keluarganya juga mas." Aisyah menoleh ke arah suaminya yang masih memegang erat tangannya. Dia tahu suaminya juga merasa cemas dan bingung saat ini. Bukan tidak mau menolong tapi dia takut disalahkan jika terjadi sesuatu dengan Raisya. Salah satu keluarganya memang harus dikabari terlebih dahulu.


"Iya. Mas juga bingung dek." Anwar menoleh saling bersitatap dengan Aisyah.


"Apa kita coba buka handphone mbak Raisya aja mas? Meski aku juga tidak yakin, apa benar mbak Raisya tidak mempunyai keluarga selama ini. Kalau melihat isi rekeningnya mbak Raisya bukan orang biasa mas." Aisyah yang pernah disuruh mengambil uang tunai oleh Raisya, tidak pernah menceritakan pada suaminya tentang kecurigaannya waktu itu.


"Maksu kamu apa dek?" Anwar melihat tajam wajah istrinya.


"Waktu itu Aisyah pernah disuruh mbak Raisya mengambil uang cash mas. Mas masih ingat kan? Waktu itu Aisyah pernah minta izin juga sama mas." Ucap Aisyah sambil mengambil jeda.


"Iya. Terus?" Tanya Anwar penasaran.


"Mas.. isi debit mbak Aisyah banyak banget sampai ratusan milyar. Aisyah waktu itu juga kaget. Mbak Raisya gak mungkin orang biasa kan mas? Pastinya dia orang kaya yang sedang meninggalkan rumahnya. Tapi Aisyah tak berani bertanya selama ini, karena takut menyinggung perasaan mbak Raisya." Terang Aisyah akhirnya terus terang.


"Ya ampun.. Aisyah. Kenapa berita sebesar ini kamu tidak cerita sama mas." Bertambahlah kebingungan Anwar sekarang.


"Maaf mas. Aisyah agak sungkan harus menceritakannya waktu itu. Tapi sekarang kita harus bagaimana mas? Mbak Raisya butuh pertolongan segera. Lebih baik mbak Raisya ditolong aja dulu! Nanti kita cari di handphone mbak Raisya jika terjadi apa-apa dengan mbak Raisya." Saran Aisyah mengingatkan suaminya agar bertindak cepat.

__ADS_1


"Baiklah. Kita sekarang ke ruang administrasi. Mudah-mudahan kita tidak salah mengambil keputusan. Bismillah." Anwar berdiri mengajak Aisyah ke ruang administrasi untuk mengurus semua kebutuhan Raisya agar segera mendapatkan tindakan.


__ADS_2