
"Apa?..Dia ada transaksi?.. Dimana itu?" Jacky sedang menerima telepon dari seseorang yang diperintahkan untuk mencari Raisya. Dia sangat kaget juga bahagia ketika mendapatkan berita bahwa ada transaksi pembelanjaan dari kartu debitnya Raisya juga penarikan uang di sebuah gerai.
"Ya aku segera kesana!" Jacky langsung menutup telepon nya.
Beberapa hari ini Jacky gelisah. Dia menyesal telah melakukan talak pada Raisya. Rasa cintanya yang besar tak bisa dihilangkan begitu saja dari hatinya apalagi setelah Raisya pergi. Meski dia membenci kejadian itu, Jacky tak bisa melupakan rasa sayangnya pada Raisya yang menggebu-gebu. Dia sangat menyesali perbuatannya yang terlalu emosional dan mudah membuat keputusan patal. Dia menyesal kenapa harus mentalak Raisya padahal dia sangat mencintainya.
Hatinya begitu menderita. Hari-hari nya hanya dipenuhi bayangan Raisya. bahkan sampai tidur pun dia terus mengigau dan menyebut nama Raisya.
"Ra... kamu dimana? Jangan pergi lagi ya Ra! Maafin aku! Aku sungguh tak bisa pisah dengan kamu. Maafin aku ya Ra!" Jacky seperti orang gila sering mengucapkan kata-kata itu. Sampai bi Siti juga mang Syarif sering menggelengkan kepalanya melihat sikap Jacky seperti orang linglung.
Setelah Raisya pergi, Jacky tinggal di rumah peninggalan Nathan. Berharap Raisya akan datang ke rumah itu. Nyatanya hampir dua minggu ini Raisya tak pernah muncul di rumah itu. Semua usaha sudah dikerahkan. Mulai pencarian di CCTV-nya, laporan ke polisi juga menyuruh orang untuk menyusuri setiap hotel juga penginapan yang mungkin saja Raisya datangi. Tapi semuanya nihil.
Ratna dan Sarah pun tak ketinggalan, dia terus menghubungi siapapun yang dianggap dekat dengan Raisya. Sampai mengecek bandara oun dilakukannya.
Jacky akhirnya menyewa detektif untuk melacak keberadaan Raisya. Detektif yang sudah berpengalaman mencari keberadaan orang hilang tentu banyak cara dan pengalaman. Sampai mendeteksi handphone Raisya yang bisa saja aktif juga akses kartu debit juga kredit nya yang kemungkinan Raisya bertransaksi.
Ternyata dari transaksi kartu debit, detektif bisa melacak keberadaan Raisya.
Senang bukan kepalang hati Jacky mendengar berita dari detektif. Dia segera meluncur ke tempat dimana detektif menunggunya.
"Nyonya Raisya sepertinya telah berbelanja di mall. Ini bukti transaksinya. Tapi ada yang dirasa janggal. Semua CCTV-nya tidak memperlihatkan wajah dari nyonya Raisya. Melainkan seorang wanita bercadar. Apa nyonya Raisya sedang menutupi identitasnya?" Detektif itu melihat ke arah Jacky.
"Coba aku lihat CCTV-nya!" Jacky melihat gerak gerik yang diperlihatkan layar CCTV. Dia memang tak bisa melihat jelas wajah di balik cadar itu.
"Dia bisa diakses gak, setelah dari mall kan ke gerai ATM? Apa dia naik mobil sendiri apa naik taksi? Mungkin kita bisa tahu kemana taxi itu membawanya.
"Saya sudah cek itu pak. Sayang tadinya tidak pakai camera juga tak ada bukti transaksi. Jadi kita kehilangan jejak. Kalau dia memesan taxi online kemungkinan kita melacak." Detektif itu menyesalkan tidak bisa menuntaskan sesuai permintaan kliennya.
__ADS_1
"Mmm.. jadi ada kemungkinan kita bisa melacak lewat kartu itu ya?" Jacky mengerutkan dahi sambil memegang dagunya berpikir.
"Iya seperti itu. Tapi saya akan berusaha mengidentifikasi wanita bercadar itu. Apakah tinggi badannya sama dengan nyonya Raisya atau tidak. Dan saya juga akan mengecek satu persatu taxi yang mungkin tertangkap kamera CCTV-nya. Dengan begitu kita tahu dimana mereka tinggal." Detektif itu tak mau kehilangan jejak orang yang dicarinya.
"Baiklah.. aku menyerahkan semua urusan itu padamu. Kabari secepatnya padaku jika ada kabar. Ada kemungkinan dia akan belanja lagi di mall yang sama. Apa boleh aku tahu daftar belanjaan yang dibelinya?" Jacky meminta bukti pembelian dari sang detektif.
"Ini pak!" Dia menyodorkan selembar kertas yang telah diprint nya.
Jacky duduk di bangku sambil meneliti satu persatu barang belanjaan yang dibeli wanita bercadar dengan menggunakan kartu debit Raisya.
"Susu ibu hamil?" Mata Jacky tertuju dengan satu barang yang ada dalam daftar belanja. Dadanya terasa nyeri melihat barang itu ada di dalam daftar pembelanjaan.
Apa dia memilih melahirkan janin haram itu ketimbang menggugurkannya?
Ada rasa tak rela kalau janin itu sampai tumbuh baik di dalam rahim Raisya. Padahal sebelum nya Jacky rela menunggu kelahiran janin itu. demi cintanya yang besar pada Raisya. Tapi kini seolah janin itu jadi api dendam di dadanya.
Kalau sampai aku tahu kalian bersama. Takkan kubiarkan kalian hidup tenang dan damai. Akan kujadikan kalian tersiksa!
Sikap pendendam Jacky mulai. kambuh. Entah kenapa emosinya Jacky mudah sekali terpantik dan mudah pula menyesal.
"Baik. Saya akan mengawasinya." Jawab sang detektif.
"Kalau begitu saya pergi dulu pak! Saya akan melakukan pekerjaan lain. Semoga pencarian segera berhasil." Ucap detektif tidak mau menyia-nyiakan waktunya.
"Baik." Jacky pun bersalaman lalu pergi meninggalkan sang detektif.
Tak lama kemudian sebuah panggilan datang dari ayahnya.
__ADS_1
"Iya halo pih."
"Kamu lagi dimana?" Tanya tuan Robert sambil memijit keningnya.
"Sedang dijalan pih." Jawab Jacky sambil memasukan kunci mobil milik Sarah. Semenjak pergi dia belum mengembalikan mobil milik kakak iparnya itu.
"Sekarang juga pulang ke rumah! Ada yang mau papih bicarakan sama kamu." Tuan Robert menyuruh Jacky kembali ke mansion.
"Baik pih." Jacky tak bisa menolak permintaan ayahnya. Telepon pun terputus. Jacky segera melajukan mobilnya ke arah mansion.
Di ruang kerja tuan Robert sedang memijit keningnya. Beberapa masalah keluarga baru saja datang, sekarang malah datang masalah baru.
Sherly datang ke mansion tuan Robert kemarin sore. Dia berniat membawa Michel untuk tinggal bersamanya. Setelah mengalami sakit kanker payudara Sherly berhenti bekerja sebagai model. Dia sekarang fokus pada pengobatannya. Dia juga ingin mengubah cara hidupnya sejak sekarang. Dia sadar mungkin saja hidupnya memang tidak akan lama lagi. Dia ingin menebus kesalahan dosa-dosa pada Michel karena selama ini telah mengabaikan putrinya itu.
Tuan Robert tak mau menekan orang sakit yang mungkin saja umurnya memang tak lama lagi. Dia berniat mengabulkan keinginan Sherly untuk hidup bersamanya. Tapi dia pun tak ingin Michel terlantar karena penyakit Sherly pun butuh perhatian dan pengobatan.
Dia sengaja memanggil Jacky untuk kembali ke mansion. Selain menyuruhnya pulang, ada yang mesti dibicarakan tentang hubungan Sherly dengan Jacky.
Tok tok tok
Daun pintu ruang kerja tuan Robert diketuk Jacky.
"Masuk!" Tuan Robert yang sedang duduk di kursi melihat ke arah pintu.
Dari balik pintu muncul Jacky dengan penampilannya yang agak santai.
"Duduklah!"
__ADS_1