Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Penyesalan


__ADS_3

"Waduh.. untung saja tadi kita sudah di dalam mobil ya! Kalau enggak kayanya kita ujan-ujanan di Dufan." Ucap sang mertua begitu turun dari mobil bersama sang menantu juga sang cucu. Mereka senang sekali bisa mengasuh dua cucunya di Dufan.


"Iya mam.Tadi udah keliatan mendung makanya aku buru-buru ngajak pulang." Sarah menurunkan Arsel dari mobil. Matanya sayu sudah mulai mengantuk. Mungkin jam tidurnya kelewat karena tadi keasikan bermain.


"Biar aku gendong yang.. " Adam langsung mendekati Sarah menggantikan Sarah menggendong Arsel. begitu sampai di depan pintu. Sarah pun melepaskan Arsel membiarkan Adam menggendong tubuh Arsel agar dibawa ke kamarnya.


"Lah.. lu.. Jack.. " Sarah dan ibunya Jacky agak heran ketika Jacky menuruni anak tangga dengan cepat.


"Aku pinjam kunci mobil kak Sarah!" Jacky malas mengeluarkan mobil dari dalam garasi. Mending pake mobil Sarah yang posisinya baru masuk halaman mansion nya.


"Nih!" Sarah langsung memberikan kunci mobilnya tanpa ragu.


Jacky langsung berlari dan masuk ke dalam mobil Sarah untuk melajukan mobilnya.


"Mas.. kok.. Jacky ada disini? Raisya mana mas?" Sarah yang tak melihat kemunculan adiknya agak heran.


"Entar mas cerita sama kamu sayang. Kita tidurkan dulu Arsel takutnya dia ngamuk kalau tidurnya terganggu." Ucap Adam berbisik pelan.


"Mmm... " Jawab Sarah mengikuti langkah suaminya menidurkan Arsel di kamarnya.


Sementara Jacky menembus hujan deras untuk mencari Raisya, begitu tadi dia tahu hujan turun dengan deras dibarengi petir. Di sepanjang jalanan mata Jacky terus mengamati pinggiran jalan. Dia baru teringat Raisya yang tadi pergi dari mansion, dan Ratna menelponnya mengatakan dalam keadaan Raisya gemetaran. Ada kemungkinan Raisya kehujanan.


Meski pertengkaran dengan Raisya baru saja terjadi, tapi hati kecilnya tak bisa membiarkan perempuan yang dia cintai celaka, apalagi terjadi sesuatu padanya. Jacky teringat kondisi Raisya yang memang sedang tidak sehat ditambah hujan di luar agak deras. Hati Jacky tiba-tiba tidak tenang dan mengkhawatirkan Raisya.


"Maafin aku Ra.. sungguh... aku sebenarnya tak rela kamu jadi milik orang lain. Hati aku sakit lihat kamu tadi bercumbu sama si Ferdi. Maafkan aku Ra..." Sikap Jacky yang mudah marah juga pendendam belum bisa berubah total sampai sekarang. Dia gampang marah dan gampang sekali bertindak sesuai amarahnya. Penyesalan memang tak pernah datang di awal.


Sepanjang jalan hati Jacky tidak tenang karena tidak menemukan Raisya.

__ADS_1


"Mmm.. tadi Ratna bilang dia datang ke rukonya? Apa mereka tidak bertemu? Emang Ratna lagi dimana?" Jacky melajukan mobilnya menuju rumah Ratna.


Sesampainya di sana, ruko Ratna tutup. Jacky mengambil benda pipinya lalu mengetikkan sesuatu untuk dikirim pada Ratna.


Jacky : "Rat.. elu dimana? Ada di rumah tidak?"


Ratna : "Ngapain elu nanya-nanya gue?"


Jacky : "Sorry tadi gue lagi emosi. Raisya ada di rumah kamu kan?"


Ratna : "Mana gue tahu, gue lagi di luar kota. Makanya emosi tuh jangan diternak!"


Jacky : "Jadi Raisya gak sama elu?"


Ratna : "Makanya gue tadi nelepon elu, gue cemas soalnya gue lagi di luar kota.


Jacky : "Ya udah gue cari Raisya. Kalau elu ada kabar secepatnya kabarin gue!"


Jacky tak membalas pesan Ratna. Dia tahu Ratna sangat marah sekali padanya saat ini. Jacky sedang berpikir kemana lagi dia akan mencari Ratna.


"Apa aku ke rumah Nathan saja ya? Kali aja dia ada disana." Jacky hanya bicara sendiri. Dia kebingungan harus mencari Raisya kemana lagi selain ke tempat Ratna. Jacky pun langsung melajukan kembali mobil Sarah menuju rumah peninggalan Nathan.


Sesampainya di sana, hujan mulai reda. Basah-basah air hujan masih menggenang di sebagian selokan begitupun tetesan air masih turun dari pepohonan.


Rumah peninggalan Nathan hanya diisi oleh satpam atau security dan Art saja semenjak Raisya dan anak-anak pindah ke mansion tuan Robert. Semuanya nampak sepi.


Jacky segera memberi klakson agar pintu dibuka. Tak lama kemudian sang security berlari membukakan pintu.

__ADS_1


"Eh xen Jacky.. " Dia menyambut ramah sang majikan. Tumben huja-hujan main ke sini? Bu Raisya mana?" Tanya mang Syarif agak heran.


"Lah.. bukannya bu Raisya tadi kesini?" Jacky sma-sama heran karena Raisya pun tak ada disini. Mang Syarif mengerung. Karena sejak tadi memang tak ada orang yang datang ke rumah ini kecuali sekarang yang datang adalah Jacky.


"Mmm.. bu Raisya gak ada datang den. Memangnya bu Raisya bilang mau kesini?" Mang Syarif balik bertanya.


"Mmm... ya tadi papih menyuruhnya datang kesini mang." Jacky masuk ke dalam rumah lalu duduk di atas sofa sambil menyilangkan kaki.


"Sebentar, mang suruh Bi Siti membuatkan aden. minum." Mang Syarif pergi ke belakang lalu mencari bi Siti di belakang. Mang Syarif lalu menyuruh bi Siti menyuguhkan minuman dan aneka cemilan pada sang majikan.


"Eh.. den Jacky.. wah mana bu Raisya." Bi Siti dengan ramah menyapa Jacky dan menyuguhkan segelas teh manis hangat juga pisang goreng yang masih hangat di atas meja.


"Saya justru mau tanya apa bu Raisya datang ke sini apa tidak? Eh orangnya malah gak ada." Jawab Jacky sambil menyeruput teh manis hangat nya.


"Oh.. Bu Raisya gak ada datang kesini kok den." Ucap bi Siti juga heran.


"Ya sudah mi. Aku mau menginap disini saja. Tolong siapkan kamar saya ya bi." Ucap Jacky memutuskan untuk menginap di rumah peninggalan Nathan untuk sementara waktu. Selain akan menunggu Raisya, dia pun menghindari pertanyaan Sarah selalu kakaknya Raisya. Biar Adam saja yang menjelaskan permasalahan antara dirinya juga Raisya.


Dan di lain tempat, Raisya yang mengalami demam hebat pingsan dijalanan. Untuk ada salah satu kendaraan yang berhenti dan menolong Raisya membawanya ke rumah sakit terdekat.


"Pasien mengalami demam tinggi dan syok. Anda keluarganya?" Dokter bertanya pada orang yang telah membawa Raisya ke rumah sakit.


"Bukan. Saya tadi menolongnya di jalanan." Jawab laki-laki itu tegas.


"Mm.. berarti harus mencari keluarganya. Soalnya keadaan pasien begitu lemah, khawatir dia keguguran." Dokter yang sudah memeriksa Raisya melihat ada flek di sekitar cd Raisya.


"Oh.. begitu ya dok!" Laki-laki itu agak terkejut setelah mendengar penerangan dokter.

__ADS_1


"Iya. Diperkirakan sih usianya baru lima minggu. Khawatir terjadi apa-apa sebaiknya anda mencari keluarganya." Dokter menyarankan pada laki-laki yang telah menolong Raisya untuk menghubungi keluarganya.


Baju Raisya sudah diganti dengan baju pasien rumah sakit. Tadi salah satu perawat menyimpan handphone Raisya di atas nakas.


__ADS_2